Pengiriman 30 Orang PMI Ilegal Asal Lombok Tujuan Malaysia Digagalkan Polda Kepri

- Selasa, 8 Juni 2021 | 09:56 WIB
IMG-20210608-WA0008
IMG-20210608-WA0008

Batam (HK) – Sebanyak 30 orang Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang akan diberangkatkan ke Malaysia secara ilegal digagalkan oleh Subdit IV Ditreskrimum Polda Kepri.

PMI tersebut terdiri dari 29 orang laki-laki dan 1 orang perempuan itu berhasil diselamatkan di Kampung Simpangan Kilometer 16 Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) pada, Minggu (6/62021).

"Tersangkanya ada dua orang, yakni inisial SH dan F yang berperan sebagai pengurusnya," ucap Dir Reskrimum Polda Kepri, Kombes Pol Arie Dharmanto dampingi Kabid Humas Polda Kepri, Kombes Pol Harry Goldenhardt saat konferensi pers di Polda Kepri, Senin (7/6/2021).

Disampaikan Harry, kronologisnya adalah pada Minggu (6/6/2021) Subdit 4 Ditreskrimum Polda Kepri memperoleh bahwa ada beberapa orang calon PMI Ilegal yang berada di kampung simpangan kilometer 16 Bintan akan diberangkatkan untuk bekerja di negara Malaysia.

Mengetahui hal tersebut tim langsung melakukan penyelidikan di kampung simpangan Kilometer 16 Bintan itu yang diduga terdapat tempat penampungan para calon PMI Ilegal.

"Ditemukan adanya 30 orang calon PMI Ilegal asal lombok yang telah direkrut oleh pelaku dan sedang dilakukan proses pengurusan keberangkatannya," ujar Harry.

Dijelaskannya, terhadap PMI itu pelaku menawarkan pekerjaan di negara Malaysia sebagai pekerja kebun sayur dan pekerjaan lainnya dengan menjanjikan penghasilan paling kecil perbulannya sebesar Rp 4.500.000 dan paling besar Rp6.000.000.

Sehingga para korban merasa tergiur dan percaya atas apa yang telah dijanjikan oleh pelaku hingga para korban berniat melakukan proses keberangkatan untuk bekerja di negara Malaysia tanpa mengetahui bagaimana prosedur keberangkatan yang resmi untuk dapat bekerja di Malaysia sebagai PMI.

"Tersangka Inisial SH berhasil ditangkap dirumah kontrakannya di Perum Air Raja, Kota Tanjung Pinang dan tersangka Inisial F beralamat di kilometer 16 Kecamatan Toapaya Selatan Bintan," paparnya.

Lanjutnya, modus operandinya adalah tersangka melakukan penampungan dan pengurusan hingga pemberangkatan PMI ke luar negeri tanpa dilengkapi dokumen resmi dan melalui pelabuhan ilegal atau pelabuhan tikus, dengan iming-iming mendapatkan gaji yang besar.

Barang bukti yang diamankan diantaranya adalah uang sebanyak Rp 7.800.000, Hp samsung A50S, Hp Nokia, Buku catatan PMI yang telah di kirim ke negara Malaysia, tiket boarding pass calon PMI sejumlah 2 tiket dan surat keterangan pemeriksaan Covid-19 sebanyak 2 lembar.

″Pasal yang dipersangkakan adalah pasal 81 dan pasal 83 undang-undang nomor 18 tahun 2017 tentang perlindungan Pekerja Migran Indonesia. Dengan ancaman paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp15.000.000.000," pungkasnya. (dam)

Editor: fery haluan

Terkini

Capaian Vaksinasi Tinggi, Jokowi Apresiasi Batam

Kamis, 23 September 2021 | 12:25 WIB

Rutan Batam Yakinkan Zero HP dan Barang Lainnya

Selasa, 21 September 2021 | 13:46 WIB

Gubernur Kepri Tawarkan Potensi Wisata Alif Stone Natuna

Selasa, 21 September 2021 | 09:54 WIB

Gubernur Kepri: MUI Mitra Strategis Pemerintah

Sabtu, 18 September 2021 | 17:48 WIB
X