Memperingati Hari Ibu: Quo Vadis Emansipasi

- Kamis, 23 Desember 2021 | 10:09 WIB
Agustar. (istimewa)
Agustar. (istimewa)

Superioritas Pria

Permasalahan di atas telah melahirkan dua kutub dialektika kewanitaan pada setiap tataran rekayasa kebudayaan manusia modern yang tak teruraikan. Pertama, tersubordinasinya potensi dan kodrati kewanitaan terhadap superioritas kaum pria.

Kedua, rentannya kaum perempuan terhadap gugatan dan hujatan publik pada setiap perubahan etika dan bias perilaku feminisme. Karena dikaitkan dengan posisinya sebagai ibu (calon ibu), yang harus lebih taat moral dan sistem nilai dalam membesarkan dan mendidik anak selaku generasi masa depan.

Pada stigma inilah kaum perempuan berada dalam pasungan etika; memikul dua beban berat selaku pengasuh tunas keluarga sakinah dan sebagai bagian dari anggota masyarakat yang dituntut steril dari distorsi nilai-nilai dalam perilakunya.

Baca Juga: Emansipasi dan Pengarusutamaan Gender

Padahal, wanita selalu dianggap sebagai kaum lemah. Menurut hemat penulis, hal ini merupakan akibat pengkondisian kultural dari kemasyarakatan patrimonial. Akibatnya, ruang gerak kebudayaan kaum wanita menjadi begitu sempit dan reduktif. Dengan kecenderungan anggapan semacam ini, kita telah melakukan ketidakadilan sosiologis dengan memandang wanita hanya sebagai wanita, tidak wanita sebagi manusia.

Perlakuan yang diskriminatif ini, tampaknya merupakan bagian dari rekayasa kebudayaan manusia itu sendiri dengan tendensi “status quois” superioritas pria terhadap kaum perempuan.

Maka, pandangan-pandangan baku seperti “otoritas tertinggi dalam rumah tangga dipegang oleh sang suami”, atau “isteri wajib mematuhi suami”, dari sudut pandang demokratisasi, persamaan hak kreatif, ekspresi potensi individu dan kapasitas profesionalisme personal perlu dipertanyakan kembali.

Apalagi jika ungkapan tersebut ditinjau dari kebenaran sistem nilai yang berlaku secara universal. Karena penulis mengkhawatirkan, jika dalam praktik budaya rumah tangga, ungkapan tersebut dieksploitasi untuk melegitimasi otoritas buta kaum laki-laki yang “memenjarakan wanita dalam keharusan patuh” yang sama butanya pula. Pada kondisi seperti ini kaum perempuan tersubordinasi dan dipasung secara sesat dan menyesatkan di bawa bayang-bayang superioritas gender kaum laki-laki.

Namun, demikianlah realitas dinamika kebudayaan modern kita. Idiom “patuh dan setia” telah dianggap sebagai “brand image” wanita sempurna dan paripurna. Karena seolah-olah di sanalah letak harkat dan martabat kewanitaan seseorang.

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Terkini

Dia Ingkari Sejarah Itu

Minggu, 13 November 2022 | 08:12 WIB

Puisi-Puisi Rosy Ochy

Senin, 24 Oktober 2022 | 05:47 WIB

"Bukankah itu Namaku?"

Minggu, 23 Oktober 2022 | 18:56 WIB

Pengaruh Bahasa Orang Tua Terhadap Komunikasi Anak

Senin, 1 Agustus 2022 | 19:00 WIB

Sastra dan Perkembangan Masa Kini

Senin, 25 Juli 2022 | 19:24 WIB

Lebaran di Kepala

Selasa, 26 April 2022 | 15:44 WIB

Memperingati Hari Ibu: Quo Vadis Emansipasi

Kamis, 23 Desember 2021 | 10:09 WIB

12 Jembatan Keledai Aksi Panggung Vokalis

Minggu, 19 Desember 2021 | 06:28 WIB

Fauzi Bahar Datuak Nan Sati Pimpin LKAAM Sumbar

Sabtu, 18 Desember 2021 | 07:39 WIB

Awet

Selasa, 30 November 2021 | 14:37 WIB

Merantau

Sabtu, 11 September 2021 | 21:30 WIB

Mut

Rabu, 21 Juli 2021 | 15:03 WIB

Komitmen

Senin, 8 Februari 2021 | 09:29 WIB

Menanti Cinta dalam Ta'aruf

Kamis, 9 Juli 2020 | 16:41 WIB

Talbiyah Mak Ijah

Selasa, 28 April 2020 | 17:29 WIB
X