Irama Alam

- Sabtu, 21 September 2019 | 16:18 WIB
fery-heriyanto
fery-heriyanto

Oleh: Fery Heriyanto, Wartawan Haluan Kepri

Senin siang kemarin, Batam dan sebagian wilayah lain di sekitarnya kembali diguyur hujan. Padahal pagi harinya, ketika sebagian masyarakat pergi menuju ke tempat aktifitas masing-masing, cuaca cukup bersahabat. Kondisi itu disambut suka cita oleh banyak warga Batam.

Awal pekan seperti kemarin, banyak harapan yang digantungkan masyarakat. Ada yang ingin pekerjaannya pada hari pertama pekan ini berjalan lancar. Ada yang berharap, usaha yang mereka jalankan bisa lebih maju dari waktu-waktu sebelumnya. Ada yang ingin bisnis yang mereka jalankan bisa lebih berkembang. Ada juga yang berharap, jalan di Batam yang mereka lalui tidak macet saat mereka menuju ke tempat rutinitas masing-masing, dan sebagainya.

Namun di tengah perjalanan, kadang kenyataan yang dihadapi tidak sesuai dengan harapan-harapan mereka. Pekerjaan yang tengah dikerjakan, tiba-tiba tidak sepenuhnya selesai karena ada saja data-data yang kurang, hilang, atau memiliki masalah. Bisnis yang diharapkan ada perkembangan pada awal pekan, ternyata tidak tercapai. Mungkin banyak relasi yang belum memenuhi permintaan atau lainnya. Mungkin usaha yang dijalankan, harapan memperoleh untung, ternyata rugi yang diperoleh. Begitu pula, saat akan menuju ke tempat relasi yang sudah dijanjikan, tidak bisa dipenuhi karena telat akibat jalan macet. Begitu pula, saat berharap matahari bersinar cerah hingga sore, ternyata hujan deras turun di siang hari.

Begitulah skenario perjalanan hari yang dijalani. Kadang ada yang mulus sesuai impian, tapi tidak sedikit pula yang tidak sesuai dengan keinginan hati. Apakah ada sesal dalam hati? Barangkali masing-masing individu kita yang bisa menjawabnya.

Kata orang bijak, apa yang kita alami dari detik ke detik waktu adalah irama alam yang wajib dilalui. Itulah "skenario" yang dimainkan. Sesal atau senyuman kah yang dihaturkan terhadap semua itu? Jawabannya tentu kembali lagi pada kita. Apakah kita masih bisa tersenyum dengan tidak tercapai harapan-harapan yang diinginkan? Atau malah menyesali semua kegagalan-kegagalan yang dijumpai?

Sebagian kita mungkin juga berpikir, mengapa keadaan seringkali tidak bersahabat? Keadaan seakan meledek, mengecoh, bahkan tertawa terbahak-bahak. Inikah yang disebut dengan “ketidakmujuran”?

Mungkin, kalau kita sepakat, situasi yang tidak berpihak pada kita itu adalah cara alam menghibur kita. Itulah cara alam mengajak kita tersenyum, menertawakan diri kita, dan "bergurau". Sesal, marah, atau jengkel itu muncul karena kita tak mencoba bersahabat dengan keadaan. Itu terjadi karena banyak diantara kita yang egois. Kita lupa bahwa jika ada keinginan yang tidak tercapai, tak ada salahnya kita menyambutnya dengan senyum, walaupun senyuman kecil. Apakah kita sependapat? ***

Batam, Pengujung 2017

Editor: fery haluan

Terkini

Lebaran di Kepala

Selasa, 26 April 2022 | 15:44 WIB

Memperingati Hari Ibu: Quo Vadis Emansipasi

Kamis, 23 Desember 2021 | 10:09 WIB

12 Jembatan Keledai Aksi Panggung Vokalis

Minggu, 19 Desember 2021 | 06:28 WIB

Fauzi Bahar Datuak Nan Sati Pimpin LKAAM Sumbar

Sabtu, 18 Desember 2021 | 07:39 WIB

Awet

Selasa, 30 November 2021 | 14:37 WIB

Merantau

Sabtu, 11 September 2021 | 21:30 WIB

Mut

Rabu, 21 Juli 2021 | 15:03 WIB

Komitmen

Senin, 8 Februari 2021 | 09:29 WIB

Menanti Cinta dalam Ta'aruf

Kamis, 9 Juli 2020 | 16:41 WIB

Talbiyah Mak Ijah

Selasa, 28 April 2020 | 17:29 WIB

Ego Sampai Kapan?

Minggu, 26 April 2020 | 10:05 WIB

Puisi yang Disempurnakan

Sabtu, 11 April 2020 | 09:09 WIB

Rindu Ibuku adalah Rinduku

Kamis, 9 April 2020 | 19:05 WIB

"Kita Selalu Dekat..."

Rabu, 8 April 2020 | 08:59 WIB

Sesudah Salam dan Setelah Berbuka

Sabtu, 28 Maret 2020 | 19:40 WIB

Kerja dan Cinta

Jumat, 27 Maret 2020 | 17:03 WIB
X