"Cinta yang Mungkin Ada"

- Rabu, 12 Februari 2020 | 10:48 WIB
Fery Heriyanto
Fery Heriyanto

Oleh: Fery Heriyanto*)

Negeri Dua Warna tiba-tiba geger. Beredar kabar jika ada dua penduduknya dilanda rasa yang seharusnya tidak boleh terjadi. Gemparnya isu tersebut tidak hanya beredar di tengah masyarakatnya, namun, juga sampai ke telinga para pembesar negeri tersebut. Karena "membuminya" isu tersebut, lalu petinggi paling tinggi memanggil para tokoh dan juga pejabat yang membidangi masalah sosial antarmasyarakat.

"Bagaimana masalah ini bisa terjadi?" tanya sang petinggi saat diadakan rapat di aula istimewa.
Semua diam. Tidak ada yang berani berbicara. Karena ingin memperoleh penjelasan, lalu, sang petinggi minta pejabat antarmasyarakat untuk bicara.

"Saya juga tidak habis pikir, petinggi. Kenapa kasus ini bisa terjadi," ucapnya sambil menunduk.
"Menurut Anda bagaimana pejabat komunikasi?" tanya sang petinggi lagi.

"Berdasarkan informasi yang saya peroleh, masing-masing mereka memang tidak pernah berjumpa, apalagi berbicara. Namun, keduanya saling mengagumi. Hal itu tergambar dari sinyal-sinyal yang mereka upload di media komunikasi negeri kita," jelas pejabat komunikasi.

"Memangnya siapa mereka keduanya?" tanya sang petinggi lagi.
"Yang satu adalah pelestari pengetahuan, pekerja ulet, dan pemilik jiwa utama. Sedangkan yang satu lagi penjelajah masa, pekerja keras, dan memiliki jiwa sosial tinggi."

"Lalu kenapa mereka bisa saling memiliki rasa yang tak mungkin tersebut?" tanya sang petinggi lagi.
"Ini semua karena kecanggihan teknologi informasi yang dimiliki oleh negeri kita ini, petinggi," jawab pejabat komunikasi.

Mendengar penjelasan itu, sang petinggi terdiam. Demikian juga yang hadir dalam pertemuan tersebut. Semua larut dalam pikiran masing-masing.

"Menurut saudara, bagaimana solusi untuk masalah ini?," tiba-tiba sang petinggi bertanya. Namun tak ada yang berani memberi jawaban. Suasana kembali sunyi.

"Kalau menurut petinggi bagaimana? Kalau ada keputusan yang dikeluarkan saat ini, kami akan jalankan," ucap salah seorang tokoh.

Suasana kembali hening. Sang Petinggi juga terdiam. Tak lama kemudian dia pun berkata, "Kita tahu, mereka dua masyarakat yang berada dalam dua dunia yang berbeda. Satu di air dan yang lain di udara. Mereka juga tidak bisa dipertemukan. Kalaupun akan bersatu, maka mereka akan tinggal dimana?" papar sang petinggi dengan suara berat sambil menatap jauh ke balik jendela aula istimewa. ***

* Wartawan Haluan Kepri

Editor: fery haluan

Terkini

Merantau

Sabtu, 11 September 2021 | 21:30 WIB

Mut

Rabu, 21 Juli 2021 | 15:03 WIB

Komitmen

Senin, 8 Februari 2021 | 09:29 WIB

Menanti Cinta dalam Ta'aruf

Kamis, 9 Juli 2020 | 16:41 WIB

Talbiyah Mak Ijah

Selasa, 28 April 2020 | 17:29 WIB

Ego Sampai Kapan?

Minggu, 26 April 2020 | 10:05 WIB

Puisi yang Disempurnakan

Sabtu, 11 April 2020 | 09:09 WIB

Rindu Ibuku adalah Rinduku

Kamis, 9 April 2020 | 19:05 WIB

"Kita Selalu Dekat..."

Rabu, 8 April 2020 | 08:59 WIB

Sesudah Salam dan Setelah Berbuka

Sabtu, 28 Maret 2020 | 19:40 WIB

Kerja dan Cinta

Jumat, 27 Maret 2020 | 17:03 WIB

Puisi-Puisi Ochy

Selasa, 17 Maret 2020 | 20:21 WIB

"Siap-siap Saja"

Rabu, 11 Maret 2020 | 06:34 WIB

Ode

Selasa, 3 Maret 2020 | 20:44 WIB

Rindu Rumah Ibu

Senin, 2 Maret 2020 | 09:18 WIB

Dalam Keheningan

Minggu, 1 Maret 2020 | 17:19 WIB

Si Karengkang

Sabtu, 29 Februari 2020 | 10:54 WIB

"Mumpung Harganya masih Murah"

Kamis, 20 Februari 2020 | 07:42 WIB
X