Dalam Keheningan

- Minggu, 1 Maret 2020 | 17:19 WIB
fery-heriyanto
fery-heriyanto

Oleh: Fery Heriyanto, Wartawan Haluan Kepri

Kami biasa menyapa beliau "Pak Ketua". Sapaan itu terlanjur lekat pada dirinya, karena memang dia dulunya Ketua RT di lingkungan kami. Meski sekarang tidak lagi menjabat, namun sapaan itu kadung melekat pada diri lelaki usia 60-an itu. Dan dia pun sepertinya nyaman dengan sapaan tersebut.

Akhir pekan kemarin, ba'da Isya, beberapa jemaah termasuk Pak Ketua, duduk santai dalam masjid. Seperti biasa, suasana seperti itu dijadikan untuk ngobrol, diskusi, atau menyampaikan sejumlah hal. Ketika itu ada seorang dari jemaah yang melontarkan pujian.

"Hebat betul tukang di rumah kami. Hanya dengan mendengar, dia tahu letak pipa yang bocor."

"Itu karena dia berada dalam keheningan yang khusu'," kata Pak Ketua.

"Dalam keheningan?" tanya seorang jemaah.

"Ya, dalam keheningan kadang kita akan bisa merasakan dan menemukan jawaban dari pertanyaan yang kita pikirkan," ujar Pak Ketua.

"Maksudnya bagaimana?"

"Maksudnya, cobalah untuk beberapa saat berada dalam keheningan. Rasakan apa yang menjadi keinginan kita. Lewat keheningan itu, kita bisa mendapatkan jawabannya. Seperti tukang pipa air di rumah saudara kita tadi," terang Pak Ketua.

"Kok bisa seperti itu?" tanya yang lain.

"Setahu saya, si tukang pipa itu sangat khusu' dengan pekerjaannya. Jika pikirannya galau atau suasana hatinya "ribut", dia tak akan dapat menemukan pipa yang bocor. Namun, dengan ketenangan hati, konsentrasi dan kekhusukan, dia dapat tahu dimana kebocoran pipa itu," terangnya lagi.

Namun, penjelasan itu belum juga dipahami jemaah tersebut.

"Contoh lain, ketika seseorang mencari jam tangan di tumpukan jerami dengan suasana hati dan pikiran yang galau. Sekeras apapun usahanya, dia akan susah mendapatkan jam tangan tersebut. Namun, bila pikiran dan hati tenang, jam tangan itu akan cepat ditemukannya. Karena apa? Lewat ketenangan, dia bisa mendengar bunyi putaran jarum pada jam tangan tersebut," jelasnya lagi.

Semua terdiam sejenak.

"Untuk mencapai ketenangan dalam keheningan itu, memang sesuatu yang sulit karena kita kerap terjerumus dalam seribu satu macam kegaduhan," papar Pak Ketua lagi.

"Dari hal-hal tersebut, mungkin itu pula hikmah dari shalat malam yang dianjurkan. Shalat itu dilakukan ketika orang disekeliling kita terlelap. Suasana sunyi dan kita berada dalam keheningan. Ketika itulah kita bisa merasakan apa yang kita rasakan. Dalam keheningan itulah kita akan lebih merasakan kasih sayang dan kedekatan Allah SWT kepada kita," terangnya lagi

Semua kembali terdiam.

"Tapi, mengapa dari kita banyak yang berat menunaikan shalat sunat malam tersebut?" ucap Pak Ketua bertanya. ***

Editor: fery haluan

Terkini

Merantau

Sabtu, 11 September 2021 | 21:30 WIB

Mut

Rabu, 21 Juli 2021 | 15:03 WIB

Komitmen

Senin, 8 Februari 2021 | 09:29 WIB

Menanti Cinta dalam Ta'aruf

Kamis, 9 Juli 2020 | 16:41 WIB

Talbiyah Mak Ijah

Selasa, 28 April 2020 | 17:29 WIB

Ego Sampai Kapan?

Minggu, 26 April 2020 | 10:05 WIB

Puisi yang Disempurnakan

Sabtu, 11 April 2020 | 09:09 WIB

Rindu Ibuku adalah Rinduku

Kamis, 9 April 2020 | 19:05 WIB

"Kita Selalu Dekat..."

Rabu, 8 April 2020 | 08:59 WIB

Sesudah Salam dan Setelah Berbuka

Sabtu, 28 Maret 2020 | 19:40 WIB

Kerja dan Cinta

Jumat, 27 Maret 2020 | 17:03 WIB

Puisi-Puisi Ochy

Selasa, 17 Maret 2020 | 20:21 WIB

"Siap-siap Saja"

Rabu, 11 Maret 2020 | 06:34 WIB

Ode

Selasa, 3 Maret 2020 | 20:44 WIB

Rindu Rumah Ibu

Senin, 2 Maret 2020 | 09:18 WIB

Dalam Keheningan

Minggu, 1 Maret 2020 | 17:19 WIB

Si Karengkang

Sabtu, 29 Februari 2020 | 10:54 WIB

"Mumpung Harganya masih Murah"

Kamis, 20 Februari 2020 | 07:42 WIB
X