Mut

- Rabu, 21 Juli 2021 | 15:03 WIB
Fery Heriyanto (istimewa) (Fery Heriyanto (istimewa))
Fery Heriyanto (istimewa) (Fery Heriyanto (istimewa))

"Ya, besok saya naik pesawat pagi. Transit sebentar, langsung berangkat dengan rekan yang menunggu di bandara Jakarta. Setelah acara dua hari, saat balek, saya main ke rumah," jelas ku. Dia sambut gembira dan berpesan agar aku baik-baik di jalan.

Malam setelah acara selesai, aku kembali mengabari Mut.

"Aku tunggu di rumah ya. Bapak sudah aku beritahu. Beliau pengen sekali jumpa kamu," ucapnya.

Pagi-pagi aku bergegas menuju bandara. Saat akan menonaktifkan handphone, tiba-tiba ada WA dari Mut.

"...Maaf, aku harus mendampingi suami pagi ini. Mungkin sekitar 3 hari kami disana. Aku mohon maaf tak bisa menunggu kamu...Maafkan aku ya..."

Aku menghela nafas. Sejenak terdiam. Dalam penerbangan aku putuskan untuk langsung melanjutkan perjalanan pulang. Tidak jadi mampir ke rumah dia.

Pada rekan yang sama berangkat, aku sampaikan kalau aku langsung pulang. Dia pun menawarkan untuk belikan tiket di Bandara Jakarta. Tapi, saat aku mengaktifkan handphone ketika tiba di Bandara Jakarta, tiba-tiba ada WA dari Mut.

"Jika kamu transit di Jakarta, aku tunggu di pintu kedatangan," pesannya.
Aku kaget.
"Mut, dimana?!"
"Aku di pintu kedatangan," jawabnya singkat.
Benar saja, dia menunggu disana.
"Kok disini? Bukannya ada acara?" tanyaku setengah tak percaya.
"Aku tak enak. Aku sudah janji. Aku juga pengen jumpa kamu. Aku minta izin sebentar," ucapnya buru-buru sambil menjabat tanganku dengan erat.
"Kamu tidak berubah dan tampak sehat," katanya lagi. Rasa gembira terpancar di wajahnya.
Tak sampai lima menit kami ngobrol, dia langsung pamit.
"Ini aku buatkan kue untuk kamu. Dimakan ya. Bapak titip salam. Nanti jika ada waktu, main lagi kemari. Aku janji, akan tunggu kamu di rumah."
Dia tatap aku dalam-dalam.
"Kamu sehat-sehat ya," ujarnya lagi sambil menjabat erat tanganku untuk beberapa saat. "Baik-baik di jalan."
Sejurus kemudian dia bergegas menuju tempat parkir. Aku pandangi dia hingga masuk mobil.

***

Dalam pesawat, aku terus ingat Mut. Setelah lebih 22 tahun tak jumpa, akhirnya bisa bertatapmuka sekitar lima menit. Tiba-tiba aku ingat bingkisan yang diberinya. Saat kubuka, ada secarik kertas.

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Terkini

Lebaran di Kepala

Selasa, 26 April 2022 | 15:44 WIB

Memperingati Hari Ibu: Quo Vadis Emansipasi

Kamis, 23 Desember 2021 | 10:09 WIB

12 Jembatan Keledai Aksi Panggung Vokalis

Minggu, 19 Desember 2021 | 06:28 WIB

Fauzi Bahar Datuak Nan Sati Pimpin LKAAM Sumbar

Sabtu, 18 Desember 2021 | 07:39 WIB

Awet

Selasa, 30 November 2021 | 14:37 WIB

Merantau

Sabtu, 11 September 2021 | 21:30 WIB

Mut

Rabu, 21 Juli 2021 | 15:03 WIB

Komitmen

Senin, 8 Februari 2021 | 09:29 WIB

Menanti Cinta dalam Ta'aruf

Kamis, 9 Juli 2020 | 16:41 WIB

Talbiyah Mak Ijah

Selasa, 28 April 2020 | 17:29 WIB

Ego Sampai Kapan?

Minggu, 26 April 2020 | 10:05 WIB

Puisi yang Disempurnakan

Sabtu, 11 April 2020 | 09:09 WIB

Rindu Ibuku adalah Rinduku

Kamis, 9 April 2020 | 19:05 WIB

"Kita Selalu Dekat..."

Rabu, 8 April 2020 | 08:59 WIB

Sesudah Salam dan Setelah Berbuka

Sabtu, 28 Maret 2020 | 19:40 WIB

Kerja dan Cinta

Jumat, 27 Maret 2020 | 17:03 WIB
X