Sejumlah Negara Mulai Atur Hidup Berdampingan dengan Covid-19

- Selasa, 6 Juli 2021 | 15:02 WIB
(internet)
(internet)

Sejumlah negara mulai melonggarkan pembatasan pergerakan selama pandemi Covid-19 karena tingkat infeksi corona berangsur turun. Mereka pun mulai menyusun kerangka untuk hidup berdampingan dengan Covid-19.

Sebagai contoh, Italia, Swiss, dan beberapa negara Eropa lain dengan tingkat penularan Covid-19 rendah, mencabut aturan wajib bermasker bagi warganya ketika berada di tempat umum.

Beberapa negara bahkan tengah menyusun rencana hidup di era normal baru dengan harapan virus corona akan menjadi endemik seperti penyakit influenza dan lainnya.

Singapura
Singapura terus menjadi sorotan media asing setelah menyatakan sedang menyusun panduan hidup berdampingan dengan virus corona.

Negara di Asia Tenggara itu berharap Covid-19 menjadi endemik seperti influenza dan penyakit lainnya, sehingga masyarakat bisa kembali beraktivitas dan berpelesiran tanpa aturan lockdown serta karantina.

"Sudah 18 bulan sejak pandemi muncul dan masyarakat sudah lelah berperang. Semua bertanya: Kapan dan bagaimana pandemi akan berakhir?" kata para menteri yang memimpin gugus tugas Covid-19 Singapura seperti dikutip Reuters.

"Kabar buruknya adalahCovid-19 mungkin tidak akan pernah hilang. Kabar baiknya adalah mungkin kita bisa hidup normal lagi dengan virus di tengah-tengah kita."

Panduan yang sedang disusun gugus tugas Covid-19 Singapura itu akan menghapus kebijakan lockdown, karantina, dan pelacakan kontak. Panduan atau road map itu nantinya tak menerapkan lagi penghitungan kasus positif corona setiap hari.

Menteri Kesehatan Singapura, Ong Ye Kung, mengatakan bahwa selain vaksinasi sebagian besar warga, pemakaian masker akan menjadi kunci utama saat memasuki era new normal bersama Covid-19.

Ong menyebut bahwa masker menjadi cara paling efektif dalam mengurangi penyebaran Covid-19. Menurut dia, pencabutan pemakaian masker akan menjadi kebijakan terakhir yang diambil saat Singapura sudah berdamai dengan corona.

Ia mengatakan bahwa masker memungkinkan orang-orang melakukan lebih banyak hal dibandingkan dengan tidak memakai masker, karena menurunkan risiko menularkan dan tertular. Ia menganggap masker merupakan cara yang paling masuk akal jika ingin memasuki era new normal dengan Covid-19.

Saat ini, Singapura menjadi salah satu negara dengan tingkat vaksinasi yang sangat tinggi.

Sejauh ini, berdasarkan dataourworldindata.org, sebanyak 50 persen dari total 5,9 juta penduduk Singapura setidaknya telah menerima satu dosis vaksin Covid-19. Sebanyak, 2,06 juta atau 36,1 dari total penduduk Singapura juga sudah menerima vaksinasi lengkap.

Singapura bahkan mengatakan seluruh penduduknya akan divaksinasi per 9 Agustus mendatang. Ketika mayoritas penduduk telah divaksinasi, pemerintah Singapura tak lagi menghitung jumlah kasus positif corona setiap hari, tetapi memantau kasus Covid-19 parah dan perlu penanganan intensif.

"Vaksin sangat efektif dalam mengurangi risiko infeksi sekaligus penularan. Bahkan jika Anda terinfeksi, vaksin akan membantu mencegah gejala Covid-19 yang parah," kata para menteri gugus tugas Covid-19 Singapura.

Sejak awal pandemi, Singapura menjadi salah satu negara yang berhasil mengontrol penyebaran Covid-19. Saat ini, Singapura mencatat total 62.630 kasus corona dari total 5,8 juta penduduk, dengan 36 kematian.

Inggris
Menyusul Singapura, Inggris juga ingin segera memulai rencana hidup berdampingan dengan virus corona meski tren penularan Covid-19 di negara Eropa Barat itu masih terbilang tinggi.

Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, meminta para penduduknya mulai belajar hidup berdampingan dengan virus corona.

Johnson menegaskan bahwa meski pelonggaran pembatasan akan berlaku dalam beberapa waktu ke depan,pandemi belum benar-benar berakhir. Ia menekankan warga harus "mulai belajar hidup dengan virus ini" dan melakukan pencegahan "ketika menjalani hidup mereka."

"Saat kita mulai belajar hidup berdampingan dengan virus ini, kita harus tetap berhati-hati dalam menangani risiko Covid-19 dan melatih diri untuk mengambil keputusan yang menyangkut kehidupan kita," kata Johnson dalam jumpa pers di London, seperti dilansir Reuters, Senin (5/7).

Ia kemudian berkata, "Namun, saya menekankan pandemi belum berakhir dan kemungkinan akan terjadi kenaikan kasus dalam beberapa pekan mendatang."

Di hari yang sama, Johnson mengumumkan rencana pencabutan sebagian besar aturan lockdown, termasuk penggunaan masker dan jaga jarak mulai 19 Juli mendatang.

Sekitar 86 persen orang dewasa Inggris telah mendapatkan dosis pertama vaksin virus corona, dan 64 persen mendapat dosis kedua.

Inggris memang menjadi salah satu negara pertama yang melakukan vaksinasi corona pada Desember 2020. Meski begitu, rencana mencabut aturan wajib bermasker itu dikritik oleh tenaga kesehatan dan ahli medis.
Menurut serikat tenaga kesehatan, ancaman Covid-19 belum bisa ditekan dan masih sangat membahayakan masyarakat.

"Anjuran bagi masyarakat untuk berhenti penggunaan masker, apalagi ketika berada di dalam transportasi umum, sangat tidak masuk akal," kata Ketua Dewan Perhimpunan Kesehatan Inggris, Chaand Nagpaul.

Inggris masih menjadi salah satu negara di Eropa dengan kasus corona dan kematian tertinggi. Angka kematian akibat Covid-19 Inggris sejauh ini mencapai 128 ribu lebih.

Per Senin (5/7), kasus positif Covid-19 bertambah 27.334. Dengan demikian, total kasus positif di Inggris mencapai 4,9 juta orang dari total 68,2 juta penduduk.

Dari total kasus Covid-19 itu, 128.231 meninggal dunia, 4,3 juta dinyatakan sembuh, dan 464.482 masih dalam perawatan maupun isolasi mandiri.

Australia
Pemerintah Australia menyatakan mereka tengah mempersiapkan tahapan supaya masyarakat mereka bisa hidup berdampingan dengan Covid-19 di masa mendatang.

Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, menyatakan untuk mencapai hal itu, pemerintahannya akan terlebih dulu berusaha melakukan vaksinasi sesuai target untuk menekan penyebaran Covid-19.

Morrison menyatakan bahwa mereka akan menggenjot vaksinasi hingga sampai pada titik masyarakat bisa memulai hidup berdampingan dan memperlakukan penyakit itu seperti influenza pada umumnya.

"Cara berpikir kita dalam menangani Covid-19 harus mulai diubah dari saat sebelum vaksinasi dan sesudah vaksinasi," kata Morrison selepas rapat kabinet di Sydney, seperti dilansir Reuters, Jumat (2/7).

Amerika Serikat
Meski masih menjadi negara dengan rekor kasus dan kematian Covid-19 tertinggi di dunia, AS secara bertahap mulai melonggarkan kebijakan pembatasan pergerakan selama pandemi.

Salah satu jurus jitu AS menekan laju penularan Covid-19 adalah mempercepat program vaksinasi. Sejauh ini, sebanyak 157 juta warga atau 47,9 persen total penduduk AS telah merampungkan vaksinasi corona.

Pada pertengahan Juni, Presiden AS Joe Biden meminta warga melepas masker dan tersenyum usai Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) tidak lagi merekomendasikan penggunaan masker di ruangan bagi warga yang sudah dua kali mendapatkan dosis vaksin Covid-19.

Warga AS yang sudah tuntas vaksinasi corona bahkan tak lagi diwajibkan menggunakan masker di ruangan tertutup, termasuk saat menonton di bioskop.

Sebagian restoran dan bar di penjuru Negeri Paman Sam bahkan turut menggelar pesta perayaan Hari Kemerdekaan Fourth of July yang jatuh pada Minggu (4/7).

Banyak pengunjung dan warga hadir tanpa menggunakan masker saat pesta kembang api berlangsung di beberapa kota besar, termasuk Kota New York.

Biden telah berulang kali mendeklarasikan kemenangan besar setelah negaranya berjuang melawan Covid-19, yang sudah membuat lebih dari setengah juta penduduk AS meninggal.

Meski begitu, Biden mengingatkan melepas masker tak bisa dilakukan buat warga yang belum selesai menuntaskan vaksinasi. Ia bahkan mendesak setengah penduduk AS yang belum vaksin untuk segera melakukannya demi mencapai kehidupan normal baru.

China
China adalah negara yang pertama kali melaporkan kemunculan virus corona, tepatnya di Kota Wuhan.

Namun, berkat penanganan pandemi yang ketat dan tertib, China mampu meredam penularan corona dengan cepat ketika negara lain justru terus mengalami lonjakan infeksi.

Salah satu jurus jitu China menanggulangi corona adalah penguncian wilayah sesegera mungkin, pemeriksaan dan pelacakan kontak cepat, hingga vaksinasi warga yang terus ditingkatkan.

Saat ini, sebagian besar wilayah China telah terbuka lagi bagi pendatang. Pemerintah Wuhan bahkan telah mengizinkan warga bebas berkumpul tanpa menggunakan masker.

Beberapa festival musik pun sudah digelar, salah satunya Wuhan Music Strawberry Festival yang dihadiri 11 ribu orang pada awal Mei lalu.

Pelonggaran protokol kesehatan tersebut berlaku 16 bulan sejak pandemi pertama kali muncul dan menyebar di kota tersebut.

Pada Juni lalu, sekitar 11 ribu calon sarjana menghadiri upacara kelulusan besar-besaran yang diselenggarakan Universitas Wuhan.

Para mahasiswa calon sarjana kompak memakai gaun wisuda berwarna biru gelap. Mereka duduk berbaris dan bersebelahan tanpa menggunakan masker dan menjaga jarak.

Meski sebagian besar wilayah China telah terbuka lagi, pemerintahan Presiden Xi Jinping masih menerapkan lockdown ketat secara parsial dan pemeriksaan Covid-19 massal parsial bagi wilayah yang mendapati lonjakan infeksi corona.

Selain itu, para penduduk juga diwajibkan membawa sertifikat tanda sehat sebagai syarat bepergian. *

(sumber: cnnindonesia.com)

Editor: fery haluan

Terkini

Manny Pacquiao Calonkan Diri Sebagai Presiden Filipina

Senin, 20 September 2021 | 07:44 WIB

Berani Menonton 13 Film Horor? Dibayar Rp 18 Juta Lho!

Sabtu, 11 September 2021 | 20:00 WIB

Unik! Lima Tikus Terperangkap oleh Ekornya Sendiri

Sabtu, 11 September 2021 | 15:53 WIB

Waduh! Ponsel Ditemukan dalam Perut Pria Ini

Rabu, 8 September 2021 | 13:58 WIB

Ratusan Unta Ikuti Kontes Kecantikan di Yaman

Kamis, 2 September 2021 | 09:20 WIB

21 Ditemukan Meninggal Dunia Akibat Tabrakan Kapal

Sabtu, 28 Agustus 2021 | 11:37 WIB

Ismail Sabri Yaakob Dilantik Sebagai PM Malaysia

Sabtu, 21 Agustus 2021 | 15:10 WIB
X