Hukum Islam Dalam Fiqih Peradaban Modern

- Sabtu, 6 November 2021 | 09:41 WIB
H. Muhammad Nasir. (istimewa) (H. Muhammad Nasir. (istimewa))
H. Muhammad Nasir. (istimewa) (H. Muhammad Nasir. (istimewa))

Sikap hidup yang dikembangkan dalam berbagai tantangan yang dihadapi adalah dengan memperteguh kultur dan budaya Islam secara kontinuitas. Dalam hal ini kita boleh saja belajar dari Negara Jepang yang tidak mengenal keterputusan budaya (cultural discontinuity). Bangsa Jepang mampu menjaga hubungan ideal antara modernitas peradaban dengan tradisionalitas, antara semangat Budhisme dengan modernism (Wilfred Cantweel Smith: 1983).

Menyikapi sikap keberagaman umat Islam di dunia global saat ini yang penuh tantangan, maka umat Islam harus tampil membawa pembaharuan dalam peradaban modern yang dialogis melalui pemahaman fiqh yang inklusif dan pluralistic menuju perdamaian dunia.

Peradaban global diyakini telah menyeret manusia lari dari keseimbangan jiwa dan raga, lahir dan bathin, dunia dan akhirat. Akibatnya, manusia menemukan kesulitan dalam menempatkan dirinya di hadapan Tuhannya dan hal ini menyebabkan manusia selalu dalam perasaan takut, cemas dan gelisah dalam menghadapi perubahan.

Islam mengajarkan, hanya dengan mengingat Allah SWT atau berzikir manusia dapat tenang dan tentram dalam kehidupannya. Islam merupakan reperensi otentik dalam menjawab tantangan perubahan.

Baca Juga: Wudhu Dapat Hilangkan Berbagai Macam Penyakit

Perubahan dunia global telah mengantarkan manusia kepada peradaban baru (new civilization) atau peradaban modern dan sekarang sering disebut sebagai peradaban milenial.

Peradaban baru ini merupakan gerakan modernis yang mana menurut Fazlur Rahman (1919-1988), tokoh Neo-Modernisme Islam dari Pakistan adalah gerakan yang berusaha merumuskan kembali nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam dalam batasan-batasan pemikiran modern dan mengintegrasikan pemikiran dan lembaga-lembaga modern dengan Islam. (Fazlur Rahman: 1968).

Sementara A. Mukti Ali mengartikan modernisme sebagai paham yang bertujuan untuk memurnikan Islam dengan cara mengajak umat Islam untuk kembali kepada Al-Quran dan Sunnah dan mendorong kebebasan berpikir sepanjang tidak bertentangan dengan teks Al-Quran dan Hadist yang shahih. (A.Mukti Ali : 1988).

Selain itu, pembaharuan pemahaman hukum Islam (dibaca: fiqh) dikehendaki secara dinamis meluruskan jalannya peradaban baru. Dalam kontek ini manusia wajib kembali kepada prinsip ketaatan, karena hukum Islam itu adalah syariat yang diperintahkan.

Hal ini bersesuaian dengan apa dikemukakan oleh Asaf Fyzee (1965) bahwa syariat (cammon law of Islam) adalah keseluruhan perintah Allah SWT. Perintah itu dinamakan hukum (jamaknya, ahkam). Dengan demikian fiqih atau ilmu hukum Islam, difahami sebagai pengetahuan tentang hak-hak dan kewajiban-kewajiban seseorang yang diketahui dalam Qur’an dan Sunnah, atau yang disimpulkan dari keduanya, atau tentang apa yang disepakati oleh para ulama.

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Terkini

Ulama Turki Ungkap Bahaya Memendam Permusuhan

Minggu, 8 Mei 2022 | 09:18 WIB

Puasa Syawal Haruskah 6 Hari Berturut-turut?

Selasa, 3 Mei 2022 | 08:20 WIB

Idul Fitri Simbol Hari Kemenangan

Senin, 2 Mei 2022 | 11:01 WIB

Air Mata Fitri di Akhir Ramadhan

Minggu, 1 Mei 2022 | 11:40 WIB

Silaturahmi Lebaran Miliki Manfaat Luar Biasa

Kamis, 28 April 2022 | 10:39 WIB

Memaknai Zakat Fitrah

Selasa, 26 April 2022 | 14:15 WIB

Saat Kiamat Datang, Sangkakala pun Ditiup

Senin, 25 April 2022 | 09:00 WIB
X