Hukum Islam Dalam Fiqih Peradaban Modern

- Sabtu, 6 November 2021 | 09:41 WIB
H. Muhammad Nasir. (istimewa) (H. Muhammad Nasir. (istimewa))
H. Muhammad Nasir. (istimewa) (H. Muhammad Nasir. (istimewa))

Oleh sebab itu, menurut Abdul Ati (1984: 16-17) hukum Islam memiliki fungsi ganda, yaitu fungsi syariah dan fungsi fiqh. Syariah merupakan fungsi kelembagaan yang diperintahkan Allah SWT untuk dipatuhi sepenuhnya, atau sari pati petunjuk Allah swt, untuk perseorangan untuk mengatur hubungannya dengan Allah SWT, sesama muslim, sesama manusia, dan dengan semua makhluk di dunia ini.

Sedangkan fiqh merupakan produk ijtihat para ulama melalui penafsiran hukum-hukum agar syariah dapat diterapkan secara sistematis.

Dari pandangan tersebut Noel J. Coulson:1957 mengemukakan pendapat bahwa hukum di dalam Islam merupakan pemberian Tuhan, tetapi manusia yang harus merumuskan dan mempergunakannya.

Tuhan yang merencanakan manusia yang memformulasikannya. Lalu pertanyaan kita adalah bagaimana hukum Islam dalam fiqih peradaban moden saat ini. Muhammad Daud Ali (1990: 28) menyatakan bahwa syariat Islam adalah hukum yang berlaku abadi sepanjang masa.

Sedangkan fiqh adalah perumusan konkret syariat Islam untuk diterapkan pada suatu kasus tertentu di suatu tempat dan di suatu masa. Keduanya dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan. (Cik Hasan Bisri : 2003).

Sebab itu dalam perubahan realitas, fleksibilitas norma agama (baca: Islam) tetap dipelihara dan yang bertentangan dengan norma universal harus dihindari karena akan mengancam kehidupan yang terus berubah di bumi.

Hal ini pada dasarnya telah dimulai pada awal abad Islam, pada saat berbagai aliran hukum Islam (madzhab) muncul dan berkembang. Selama lima abad terakhir, meskipun begitu, praktik ijtihad (penalaran hukum independen, yang digunakan untuk menciptakan norma-norma agama baru) pada umumnya telah berakhir di seluruh dunia muslim.

Hukum Islam memiliki sumber utama, berupa wahyu dari Allah swt, yang membedakannya dengan sistem perundang-undangan lainnya yang semata-mata mengandalkan hasil ciptaan manusia, kecuali itu hukum Islam juga tidak dapat dipisahkan dari tujuan diturunkannya agama Islam itu sendiri yaitu untuk menjaga kemaslahatan bagi kehidupan manusia dalam rangka mengangkat martabat kemanusiaan.

Oleh sebab itu, betapapun majunya peradaban manusia modern hari ini, hukum Islam tetap menjadi solutif di tengah fiqh peradaban modern kini. Peradaban boleh berubah namun hukum Allah SWT tetap abadi. Dengan kata lain hukum Islam tetap eksis di tengah perkembangan peradaban manusia modern, walaupun fiqih peradaban modern terus berubah sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman. Allahua’lam bissawab. ***

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Terkini

Ulama Turki Ungkap Bahaya Memendam Permusuhan

Minggu, 8 Mei 2022 | 09:18 WIB

Puasa Syawal Haruskah 6 Hari Berturut-turut?

Selasa, 3 Mei 2022 | 08:20 WIB

Idul Fitri Simbol Hari Kemenangan

Senin, 2 Mei 2022 | 11:01 WIB

Air Mata Fitri di Akhir Ramadhan

Minggu, 1 Mei 2022 | 11:40 WIB

Silaturahmi Lebaran Miliki Manfaat Luar Biasa

Kamis, 28 April 2022 | 10:39 WIB

Memaknai Zakat Fitrah

Selasa, 26 April 2022 | 14:15 WIB

Saat Kiamat Datang, Sangkakala pun Ditiup

Senin, 25 April 2022 | 09:00 WIB
X