Fiqih Toleransi

- Kamis, 16 Desember 2021 | 11:21 WIB
H. Muhammad Nasir. (istimewa) (H. Muhammad Nasir. (istimewa))
H. Muhammad Nasir. (istimewa) (H. Muhammad Nasir. (istimewa))

Oleh: H. Muhammad Nasir. S.Ag.MH, Kakan Kemenag Lingga

Artikel ini terinspirasi dengan peringatan Hari Toleransi Internasional yang diperingati pada, Senin, 16 November 2021 lalu. Pada saat itu, Menteri Agama RI mencanangkan tahun 2022 adalah tahun toleransi di Indonesia.

Pencanangan tersebut menunjukkan bukti bahwa Indonesia adalah bangsa yang mencintai kebersamaan dan menghargai kebebasan dalam memeluk agama dan berkeyakinan.
Toleransi beragama merupakan sikap beragama yang harus diperhatikan secara serius oleh negara demi menghindari terjadinya kekerasan atas nama agama. Kebebasan beragama telah dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945 pasal 29 ayat 2 yang berbunyi: “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”.

Pada awalnya, peringatan hari toleransi dideklarasikan oleh UNESCO pada 1995 bertepatan dengan ulang tahun ke-50 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pada 16 November 1995, negara anggota UNESCO mengadopsi Deklarasi Prinsip Toleransi. Antara lain, deklarasi tersebut menegaskan bahwa toleransi adalah penghormatan dan penghargaan terhadap keragaman budaya dunia, bentuk ekspresi, dan cara kita menjadi manusia.

Toleransi mengakui hak asasi manusia universal dan kebebasan fundamental orang lain. Orang secara alami beragam; hanya toleransi yang dapat menjamin kelangsungan hidup komunitas campuran di setiap wilayah di dunia (Dhita Koesno: 2020).

Akhir-akhir ini merebaknya isu-isu pelangaran toleransi beragama sehingga melemahnya bangunan kerukunan yang selama ini di bangun dengan kokoh. Toleransi seakan-akan belum cukup kuat untuk dijadikan landasan dalam perwujudan keharmonisan ditengah kehidupan umat beragama. Untuk itu toleransi setengah hati (lazy tolerance) yang masih dirasakan dalam hubungan sosial keagamaan perlu terus diperkuat sehingga menjadi toleransi yang sejati dalam bingkai paradigma nasional demi terwujudnya cita-cita nasional sebagaimana yang diamanatkan oleh Pembukaan UUD 1945.

Motto Bhinneka Tunggal Ika harus terus diejawantahkan ke sanubari semua umat beragama sehingga menjadi pola pikir, pola sikap, dan pola tindak dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Kesadaran ke-Bhinnekaan harus terwujud dalam cara pandang (outlook), sikap (attitude), dan tata laku (conduct ), untuk menerima keragaman, menghargai keragaman dan saling berbagi.

Untuk itu membangun norma kebersamaan (norms of togetherness) dalam realitas keragaman harus menjadi landasan utama bagi terbangunnya kerukunan sosial yang permanen sebagai landasan bagi stabilitas nasional yang mantap.

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Terkini

Ulama Turki Ungkap Bahaya Memendam Permusuhan

Minggu, 8 Mei 2022 | 09:18 WIB

Puasa Syawal Haruskah 6 Hari Berturut-turut?

Selasa, 3 Mei 2022 | 08:20 WIB

Idul Fitri Simbol Hari Kemenangan

Senin, 2 Mei 2022 | 11:01 WIB

Air Mata Fitri di Akhir Ramadhan

Minggu, 1 Mei 2022 | 11:40 WIB

Silaturahmi Lebaran Miliki Manfaat Luar Biasa

Kamis, 28 April 2022 | 10:39 WIB

Memaknai Zakat Fitrah

Selasa, 26 April 2022 | 14:15 WIB

Saat Kiamat Datang, Sangkakala pun Ditiup

Senin, 25 April 2022 | 09:00 WIB
X