Puasa Membingkai Kearifan Hidup Berbangsa

- Jumat, 22 April 2022 | 19:34 WIB
H. Muhammad Nasir. S.Ag., MH. (haluankepri.com)
H. Muhammad Nasir. S.Ag., MH. (haluankepri.com)

Oleh: H. Muhammad Nasir, S.Ag., M.H, Kakan Kemenag Lingga

Diantara tujuan utama pendidikan ibadah puasa adalah membentuk pribadi yang bertaqwa. Ibadah puasa jika dilaksanakan dengan benar, menyebabkan seseorang mampu mengendalikan diri dan terbendung dari memperturutkan hawa nafsu.

Taqwa dan pengendalian diri tak dapat dipisahkan satu sama lain. Dia merupakan simpul kepribadian mulia di sisi Allah SWT. Dari simpul inilah lahirnya kepribadian bijaksana. Yakni kepribadian yang terkendali dari bisikan hawa nafsu, pribadi yang tenang dalam menghadapi persoalan hidup, dan pribadi yang mampu menjadi penyejuk dan penengah dalam menyelesaikan berbagai konflik kehidupan.

Orang yang memiliki kepribadian seperti ini sering disebut dengan orang arif. Pribadi yang seimbang dan mampu menata langkah kehidupan dengan bijak dan tidak menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang lain. Pribadi inilah semestinya yang tercermin dalam kehidupan sosial orang-orang bertaqwa.

Namun apa yang kita saksikan diberbagai media saat ini, masih banyak sikap dan kepribadian dan perilaku sosial yang belum mencerminkan sikap bijak seperti yang diharapkan.

Jika kita mengikuti dinamika sosial yang terjadi, dengan jujur dapat kita katakan bahwa, masih sering terjadi perilaku sosial yang bertentangan dengan sikap bijaksana. Kita masih menyaksikan terjadinya perselisihan pendapat yang berujung dengan dendam dan sakit hati, terjadinya ketidakadilan dalam memberikan keputusan, munculnya suara-suara sentimentil dimana-mana, sikap saling menghujat, merendahkan kepribadian orang lain dan banyak sederetan perilaku sosial lainnya yang bertentangan dengan perilaku bijaksana dalam masyarakat.

Untuk itu, artikel sederhana ini mencoba mendiskusikan dari sisi kedalaman makna dan hikmah puasa yang sedang kita lakukan.

Puasa adalah ibadah yang mendidik perilaku dan kepribadian manusia untuk memiliki ketahanan mental spiritual dan mental sosial secara utuh. Ketahanan mental yang utuh akan berwujud dalam sikap dan perilaku bijak dalam bertindak. Karena itu, kepribadian yang demikian merupakan cermin dari nilai-nilai taqwa yang menjadi tujuan ibadah puasa.

Memudarnya perilaku bijak dalam kehidupan masyarakat adalah perubahan sikap yang merugikan kehidupan berbangsa. Padahal sikap bijaksana merupakan tata santun yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia yang kita junjung tinggi sejak lama.

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Berikut Keutamaan Bertobat yang Perlu Diketahui

Minggu, 3 Juli 2022 | 17:26 WIB

Utama dan Pentingnya Ibadah Qurban

Jumat, 1 Juli 2022 | 18:05 WIB

AlQur'an, Nikmat Paling Besar Bagi Manusia

Selasa, 28 Juni 2022 | 14:15 WIB

Melangitkan Syukur dengan Berqurban

Minggu, 26 Juni 2022 | 12:01 WIB

Imam Al-Ghazali Jelaskan Adab Sebelum Tidur

Minggu, 26 Juni 2022 | 07:19 WIB

Siapa Jamaah yang Bisa Dibadalhajikan?

Sabtu, 25 Juni 2022 | 20:53 WIB

Haji Mendekati Allah SWT

Minggu, 19 Juni 2022 | 07:27 WIB

Visi Tranformatif Ibadah Haji Pasca Pandemi

Jumat, 10 Juni 2022 | 18:02 WIB

Kesempatan untuk Bertobat

Selasa, 31 Mei 2022 | 08:45 WIB

Jubah Integritas

Minggu, 29 Mei 2022 | 18:18 WIB

Ulama Turki Ungkap Bahaya Memendam Permusuhan

Minggu, 8 Mei 2022 | 09:18 WIB
X