Air Mata Fitri di Akhir Ramadhan

- Minggu, 1 Mei 2022 | 11:40 WIB
H. Muhammad Nasir. S.Ag., MH. (haluankepri.com)
H. Muhammad Nasir. S.Ag., MH. (haluankepri.com)

Oleh: H. Muhammad Nasir. S.Ag, MH, Kakan Kemenag Lingga

Setiap kali kita mengakhiri malam Ramadhan sambil menunggu mentari fajar 1 Sawal Idul Fitri, ketika itu pula terjadi perubahan besar dalam diri orang-orang beriman.

Malam terakhir itu sering kita sebut malam takbir. Setelah maghrib menyingsing suara takbir mulai dikumandangkan di berbagai tempat ibadah dan rumah-rumah orang beriman dengan bersahutan.

Semua bibir membesarkan Allah SWT dengan menyebut nama-Nya dengan suara yang indah menyusup kalbu. Hati terasa bergetar mendengan suara ucapan itu, seakan-akan terungkap rahasia indah dibalik kesunyian malam yang syahdu.

Getaran jiwa terus merayap dengan perasaan senang bahagia. Siapa saja yang merasakannya akan terbawa arus kesedihan yang tak tertahankan karena malam itu kita akan berpisah dengan Ramadhan yang indah dan penuh berkah.

Ramadhan telah mengantarkan kita kembali ke pusat gravitasi dan pusat orientasi hidup yang paling otentik melalui pendekatan taubat memasuki atmosfer Ilahi. Ramadhan telah menitipkan semangat hidup untuk melakukan peningkatan ibadah dan amal soleh. Kita kembali merekonstruksi kemapanan hidup kita yang cenderung pengap dan gelap terkontaminasi oleh berbagai penyimpangan sahwat duniawi. Lalu kita rekonstruksi ulang untuk merevitalisasi ke-fitrian kita atau kesucian batin yang paling dalam.

Kita mereguk nikmat Ilahi di malam fitri dengan bahasa batin sambil melehkan air mata kerinduan dengan Ramadhan yang kita tinggalkan dan kerinduan dengan orang-orang yang kita cintai.

Namun, kerinduan yang paling menyedihkan adalah kerinduan untuk selalu dekat dengan kekasih cinta abadi Rabbul ‘alamin, yang selama Ramadhan selalu kita sampaikan bisikan taubat kepada-Nya.

Disinilah mengapa selama Ramadhan, kita lebih banyak diam, merenung, bermuhasabah, dan memperbanyak komunikasi dialogis dengan diri dan Allah SWT sambil berempati dengan persoalan, penderitaan, kesulitan, dan kesusahan orang lain melalui makna lapar dan dahaga selama puasa.

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Berikut Keutamaan Bertobat yang Perlu Diketahui

Minggu, 3 Juli 2022 | 17:26 WIB

Utama dan Pentingnya Ibadah Qurban

Jumat, 1 Juli 2022 | 18:05 WIB

AlQur'an, Nikmat Paling Besar Bagi Manusia

Selasa, 28 Juni 2022 | 14:15 WIB

Melangitkan Syukur dengan Berqurban

Minggu, 26 Juni 2022 | 12:01 WIB

Imam Al-Ghazali Jelaskan Adab Sebelum Tidur

Minggu, 26 Juni 2022 | 07:19 WIB

Siapa Jamaah yang Bisa Dibadalhajikan?

Sabtu, 25 Juni 2022 | 20:53 WIB

Haji Mendekati Allah SWT

Minggu, 19 Juni 2022 | 07:27 WIB

Visi Tranformatif Ibadah Haji Pasca Pandemi

Jumat, 10 Juni 2022 | 18:02 WIB

Kesempatan untuk Bertobat

Selasa, 31 Mei 2022 | 08:45 WIB

Jubah Integritas

Minggu, 29 Mei 2022 | 18:18 WIB

Ulama Turki Ungkap Bahaya Memendam Permusuhan

Minggu, 8 Mei 2022 | 09:18 WIB
X