Berikut Tingkatan Syukur Menurut Imam Al-Ghazali

- Rabu, 25 Mei 2022 | 09:05 WIB
(internet)
(internet)


Selalu bersyukur merupakan sebuah keharusan bagi seorang muslim. Sebab, diri sudah mendapatkan nikmat terbesar, yakni beriman kepada Allah Ta'ala. Tidak semua orang hatinya dilembutkan untuk menerima cahaya petunjuk dari-Nya.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah) tatkala Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim ayat 7).

Ayat tersebut mengisyaratkan pentingnya rasa berterima kasih kepada Allah SWT. Kadang kala, dalam menjalani kehidupan ini manusia lupa betapa banyak karunia yang telah diberikan- Nya. Sebagai Muslimin, nikmat menjadi manusia pun ditambahi pula dengan iman dan Islam.

Dengan meningkatkan intensitas rasa syukur, insya Allah kita dapat mencapai predikat takwa. Syukur berkaitan pula dengan keberkahan. Seseorang yang rajin bersyukur, insya Allah, akan dikaruniai hidup penuh berkah. Dia akan merasa tercukupi dengan berapa pun rezeki yang diperolehnya.

Hujjatul Islam, Imam Al Ghazali, menerangkan, syukur terdiri atas tiga perkara, yakni ilmu, keadaan, dan amal. Ilmu syukur berarti menyadari betapa banyak kenikmatan yang diterima seorang insan dari Allah SWT. Keadaan bermakna meluapkan rasa terima kasih itu dengan cara-cara yang diridhai-Nya.

Adapun amalan bertujuan menunaikan perintah-Nya. Bahkan, seperti dijelaskan dalam Alquran surat Ibrahim ayat tujuh, dengan bersyukur niscaya Allah SWT semakin memperbanyak limpahan karunianya kepada sang hamba yang taat.

Tidak hanya di dunia, melainkan juga kelak di negeri akhirat. Bukankah nikmat teragung adalah meraih ridha Allah SWT sehingga diperkenankan untuk melihat Wajah-Nya?

Menurut para ulama, syukur memiliki hakikat, yakni seorang insan menyandarkan segala nikmat kepada Sang Pemberi karunia. Caranya dengan merendahkan diri di hadapan-Nya. Konkretnya adalah lebih menaati perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya. *

(sumber: republika.co.id)

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Selamatkan Diri dengan Kejujuran

Minggu, 27 November 2022 | 09:42 WIB

Pentingkah Pendidikan Pranikah?

Jumat, 25 November 2022 | 09:50 WIB

Peran Sosok Ayah dalam Keluarga

Sabtu, 19 November 2022 | 09:32 WIB

Ingin Selalu Khusyuk dalam Sholat?

Jumat, 18 November 2022 | 10:55 WIB

Hiding Lies

Kamis, 17 November 2022 | 11:16 WIB

Adab Utang-Piutang dalam Islam

Kamis, 17 November 2022 | 08:39 WIB

Cahaya Allah SWT Datang Kapan Saja

Rabu, 16 November 2022 | 08:36 WIB

Utsman bin Affan Dalam Fitnah Kubro

Kamis, 10 November 2022 | 11:22 WIB

ID Card Sufistik

Sabtu, 5 November 2022 | 17:06 WIB

Doa Memohon Kesembuhan dari Sakit

Kamis, 27 Oktober 2022 | 13:11 WIB

Meminta Doa dari Orang Alim, Bolehkah?

Minggu, 23 Oktober 2022 | 09:28 WIB

Pahami Adab Dasar Saat Membaca AlQur'an

Kamis, 20 Oktober 2022 | 09:54 WIB

Doa Dihilangkan dari Kesedihan

Rabu, 12 Oktober 2022 | 09:03 WIB

Agar Ilmu Berguna dan Bermanfaat, Baca Doa Ini

Selasa, 11 Oktober 2022 | 11:23 WIB

Jangan Pernah Berpaling dari Allah SWT

Minggu, 9 Oktober 2022 | 08:25 WIB

Keluhuran Akhlak Nabi Muhammad SAW

Sabtu, 8 Oktober 2022 | 07:46 WIB
X