Jubah Integritas

- Minggu, 29 Mei 2022 | 18:18 WIB
H. Muhammad Nasir. S.Ag., MH. (haluankepri.com)
H. Muhammad Nasir. S.Ag., MH. (haluankepri.com)

Oleh: H. Muhammad Nasir. S.Ag.MH, Kakan Kemenag Lingga

Suatu ketika di zaman kekhalifahan Islam, perkebunan terong seseorang dimonopoli oleh seorang pedagang kelas kakap. Celakanya, sesudah musim panen, dan buah terong yang subur itu selesai di panen, harganya jatuh ke titik terendah.

Rupanya masyarakat menganggap terong tidak bermanfaat bagi kesehatan, bahkan membahayakan kejantanan kaum pria. Sudah terbayang berapa besar kerugian yang bakal ditanggung pedagang itu.

Tetapi berkat naluri usahanya yang tajam dan tak mengenal batas halal-haram, pedagang tersebut tak kehabisan siasat. Ia membujuk sejumlah cendekiawan untuk memberikan garansi intelektual terhadap kegunaan buah terong, sehingga menaikkan kembali citra buah terong sehingga mengatrol harga dan peminatnya.

Para cendekiawan yang berhasil dibujuk itu, lalu memberikan argument berupa hadits karangan sendiri. Bunyinya ; “Albaddzinjanu syifa-u kulli syai-in”, buah terong itu obat segala penyakit. Maka berbondong-bondonglah khalayak berebut memborong buah terong. Itulah yang disebut cendekiawan kanuz, yaitu orang berilmu yang rela menjual agama untuk kepentingan harta.

Mereka lebih takut menderita di dunia ketimbang dijebloskan di neraka.
Cendekiawan demikian oleh Nabi saw, dijuluki ‘ Yabi’u aqwamun dinahum bi’aruddlin minaddunya, kaum yang rela menjual agama mereka dengan sepotong kekayaan dunia.

Begitulah di zaman nabi Muhammad saw, para cendekiawan menjual kesesatan melalui orgumentasi yang menyesatkan. Mereka telah berbuat kesesatan dan menyesatkan. Mereka memang tidak berzina, membunuh, meminum minuman keras dan berjudi tetapi mereka adalah lokomotif kesesatan yang akan merugikan banyak orang. Melalui pendapat dan argumentasi yang indah dan meyakinkan mereka menggiring orang banyak kedalam kesesatan.

Pendapat dan argumentasi mereka dipercayai karena mereka adalah orang yang dianggap berilmu pengetahuan dalam masyarakat. Selain itu ada juga cendekiawan yang tergila-gila pada pangkat dan kedudukan.

Kelompok cendekiawan ini oleh Nabi SAW sebagaimana disetir dalam kitab Nasha-ihul Ibad, apabila menghadap penguasa di istana, mereka lebih suka mengharapkan kedudukan dari pada menyampaikan kebenaran, sehingga pulang-pulang jubah kebesaran mereka sudah melilit di kepala, sebagai tanda memperoleh kedudukan mulia di sisi penguasa.
Cendekiawan seperti ini sudah bisa diduga prinsip hidupnya. Kecendekiaannya cuma dihargai dengan segepok dirham, lantaran integritas moral dan intelektualnya sudah tergadai oleh pesona harta dan kedudukan.

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mau Tahu Ciri-Ciri Orang Munafik?

Jumat, 12 Agustus 2022 | 11:32 WIB

Nabi Muhammad Bersemangat untuk Puasa Asyura

Senin, 8 Agustus 2022 | 09:17 WIB

Melatih Memaafkan

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 08:00 WIB

Menumbuhkan Percaya Diri ala Rasulullah SAW

Selasa, 2 Agustus 2022 | 19:25 WIB

Pintu Tobat Selalu Terbuka

Selasa, 2 Agustus 2022 | 06:20 WIB

Baru Islam 1 Muharram 144 H, Berikut Doanya

Jumat, 29 Juli 2022 | 09:44 WIB

Catat Ya, Bercanda juga Ada Adab dan Batasannya

Senin, 25 Juli 2022 | 09:27 WIB

Sepulang dari Tanah Suci

Minggu, 24 Juli 2022 | 08:01 WIB

Orang yang Menikah Mendapat Jaminan dari Allah SWT

Minggu, 24 Juli 2022 | 07:46 WIB

Bisakah Mendahulukan Makan Dibanding Shalat?

Minggu, 17 Juli 2022 | 15:03 WIB

Mustajabnya Doa Orang Tua untuk Anak-anaknya

Senin, 11 Juli 2022 | 12:43 WIB
X