Visi Tranformatif Ibadah Haji Pasca Pandemi

- Jumat, 10 Juni 2022 | 18:02 WIB
H. Muhammad Nasir. S.Ag., MH. (haluankepri.com)
H. Muhammad Nasir. S.Ag., MH. (haluankepri.com)


Oleh: H. Muhammad Nasir. S.Ag. MH, Kakan Kemenag Lingga

Umat Islam se-dunia termasuk Indonesia kembali menunaikan ibadah haji tahun ini (1443 H/2022 M ) setelah dua tahun tertunda karena pandemi.

Walaupun masih dalam masa transisi pandemi menuju endemi, masyarakat muslim dunia memiliki spirit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini dapat diperkirakan karena secara psikologi-keagamaan memiliki semangat khusus terutama bagi jamaah yang bisa berangkat dengan berbagai keterbatasan.

Ibadah haji adalah perintah Allah SWT untuk orang-orang beriman yang telah sanggup berangkat ke tanah suci ( Istito’ah ).

Secara umum perintah ibadah haji memiliki dua kandungan makna strategis yaitu makna instrinsik dan makna instrumental. Makna instrinsik berisi komitmen peribadi antara seorang hamba dan tuhannya untuk mendekatkan diri dan membersihkan jiwa dari segala kakhilapan dan dosa, mengakui kelemahan diri dihadapan Allah SWT dan menyinarinya dengan sinar-sinar malakut ( ketuhanan ), menumbuhkan potensi dalam ruh serta menyingkapkannya untuk menerima rangkaian Tajalli Ilahi (sifat-sifat Tuhan ) dan pancaran nur kerinduan kepada Yang Maha Agung.

Sementara makna instrumental adalah sarana pendidikan kearah nilai-nilai luhur, mulia dan sejati dalam hubungannya dengan sesama hamba Allah swt dan makhluk-Nya di bumi. Dalam istilah lain haji adalah memanusiakan manusia.

Untuk itu bagaimana sebenarnya visi transformasi haji yang diperintahkan itu:
Pertama: Transformasi Spirutual Haji Ayat-ayat yang memerintah ibadah Haji diantaranya QS. Ali Imran: 97, dan QS. Al Baqarah: 196, mengandung nilai revolusi teologis yang memperkuat Tauhid dengan hadir memenuhi panggilan-Nya di Baitullah. Revolusi ini mengartikulasikan substansinya melalui kalimat La Ilaha Illah ( Tauhid Allah ) , Muhammadurrasu lullah ( Tauhidul Rasul ). Semangat ( spirit ) dua kalimat ini menghendaki manusia hadir ke tanah suci untuk peneguhan iman dan penguatan islam sehingga mereka yang hadir ( berhaji ) menyandang prediket taqwa yang berujung surga.

Dalam formulasi Haji, Iman dan Islam merupakan dua syarat kebangkitan global spiritual menuju kemurnian tauhid. Hal ini penting karena perkembangan budaya global telah berbaur kedalam jantung insfirasi umat Islam.

Untuk itu Ibadah haji yang dilakukan umat Islam tahun ini harus menjadi revolusi teologis, yang meluruskan kembali pandangan tauhid yang kabur dan bahkan keliru akibat pandangan dunia global yang tak terbendungi.

Revolusi teologis yang diinginkan dalam ibadah haji merupakan transformasi suci yang memperkuat respon untuk menolak segala kemungkaran dan kesyirikan yang sedang berkembang dalam masyarakat modern saat ini.

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Berikut Keutamaan Bertobat yang Perlu Diketahui

Minggu, 3 Juli 2022 | 17:26 WIB

Utama dan Pentingnya Ibadah Qurban

Jumat, 1 Juli 2022 | 18:05 WIB

AlQur'an, Nikmat Paling Besar Bagi Manusia

Selasa, 28 Juni 2022 | 14:15 WIB

Melangitkan Syukur dengan Berqurban

Minggu, 26 Juni 2022 | 12:01 WIB

Imam Al-Ghazali Jelaskan Adab Sebelum Tidur

Minggu, 26 Juni 2022 | 07:19 WIB

Siapa Jamaah yang Bisa Dibadalhajikan?

Sabtu, 25 Juni 2022 | 20:53 WIB

Haji Mendekati Allah SWT

Minggu, 19 Juni 2022 | 07:27 WIB

Visi Tranformatif Ibadah Haji Pasca Pandemi

Jumat, 10 Juni 2022 | 18:02 WIB

Kesempatan untuk Bertobat

Selasa, 31 Mei 2022 | 08:45 WIB

Jubah Integritas

Minggu, 29 Mei 2022 | 18:18 WIB

Ulama Turki Ungkap Bahaya Memendam Permusuhan

Minggu, 8 Mei 2022 | 09:18 WIB
X