Ini Unsur Penting Tawakal yang Sebenarnya Menurut Ulama

- Jumat, 9 Juli 2021 | 14:34 WIB
ilustrasi (internet)
ilustrasi (internet)

Tawakal menjadi kata yang tidak asing diungkapkan masyarakat Indonesia atau Umat Islam khususnya.

Seringkali kata ini keluar saat seseorang menghadapi kondisi tertentu, seperti saat menunggu hasil ujian sekolah, menunggu panggilan kerja atau kondisi menentukan lainnya.

Namun, sebenarnya apa makna dari tawakal yang menjadi satu ajaran dalam Islam ini? Apa penjelasan para ulama mengenai tawakal? Berikut berbagai pengertiannya seperti dilansir dari Islam Web.

Seorang ulama besar Islam, Imam Ahmad mengatakan tawakal berkaitan erat dengan hati. Tawakal bukan sekadar dari ucapan lidah, bukan pula masalah pengetahuan dan persepsi.

Menurutnya, diantara manusia ada yang menjadikannya ilmu dan mengartikannya sebagai ilmu hati untuk mencukupkan Tuhan sebagai semua kebutuhan seorang hamba.

Didefinisikan juga tawakal adalah menjatuhkan hati hanya kepada Tuhan, selayaknya mayit di tangan orang yang memandikannya, dibasuh sesuka hatinya. Ini berarti meninggalkan pilihan, dan menghanyutkan diri kepada jalan takdir.

Ulama lain, Sahl berkata tawakal adalah kerelaan mengikuti alur hidup seperti yang Tuhan inginkan. Diartikan juga sebagai ridha, yakni ridha dengan apa yang akan terjadi.

Menurut Bishr Al Hafi, seseorang tergolong berbohong mengatakan bertawakal kepada Alah SWT, jika dia tidak puas dengan apa yang Tuhan lakukan.

Ulama lain, Yahya bin Muadz saat ditanya tentang kapan seseorang tergolong bertawakal. Dia lalu berkata, “Saat seseorang telah ridha Allah SWT sebagai pengaturnya.

Beberapa ulama ada yang mengartikan tawakal sebagai keyakinan yang kuat kepada Tuhan, berfokus kepada-Nya dan tenang atas semua keputusan-Nya. Ibnu Atha berkata, “Tawakal membuat seseorang tidak tampak terganggu oleh sebab-sebab (takdir Tuhan) meskipun Anda sangat membutuhkannya.”

Dzun Nun berkata, “Tawakal adalah pengabaian diri sebagai pengendali dan memindahkan kekuatan dan kekuasaan kepada-Nya. Seorang hamba akan bertawakal jika mengetahui bahwa Allah SWT Mahamengetahui dan melihat seorang hamba.”

Pengertian lain juga disebutkan bahwa tawakal adalah melekatkan diri kepada Tuhan dalam setiap situasi.

Dzun Nun juga berkata, tawakal adalah menghapus penguasaan diri. Memotong keterikatan hati kepada hal-hal lain selain Allah SWT.

Tawakal dijelaskan sebagai mengembalikan kebutuhan diri kepada sumbernya, maka jangan meminta kecuali kepada yang Maha mencukupi kebutuhan.

Sehingga pengertian lain juga menyebut tawakal sebagai penolakan segala bentuk keraguan dan memasrahkan diri kepada Tuhan.

Abu Said Al Kharraz mengatakan, “Tawakal adalah turbulensi tanpa keheningan, dan keheningan tanpa turbulensi.” Menurutnya, pergerakan seorang hamba secara lahiriah dan batiniah, tidak menghentikan kepuasan atas takdir-Nya.

Abu Turab An Nakhhabi mengatakan tawakal adalah penyerahan tubuh sebagai hamba-Nya, keterikatan hati pada Tuhan, ketenangan pikiran dan merasa cukup.

Maka dia menjadikan tawakal adalah gabungan dari lima perkara, yakni beribadah, keterikatan hati pada rencana Tuhan, ketenangannya pada ketetapan dan takdir-Nya, tenang dan merasa cukup, rasa syukur ketika diberikan, dan kesabaran ketika tidak diberikan.

Sahl bin Abdullah menjelaskan, tawakal adalah putusnya ikatan hati dengan selain Allah. Saat ditanya tentang tawakal lagi, dia berkata bahwa tawakal adalah Hati yang hidup dengan Tuhan.

Sedangkan Abu Ali Al Daqqaq membagi hal ini menjadi tiga derajat, yakni tawakal, taslim (penerimaan), dan tafwidh (berserah diri). Tawakal adalah derajat awal, taslim adalah yang kedua dan berserah diri adalah tingakatan tertinggi.

Disebutkan tawakal adalah sifat orang-orang yang beriman, dan taslim adalah sifat para wali dan tafwid adalah milik para orang-orang mulia. Sehingga disebutkan juga tawakal adalah sifat para nabi, penerimaan adalah sifat Ibrahim sang Khalil, dan berserah diri adalah sifat Nabi kita Muhammad SAW. *

(sumber: republika.co.id)

Editor: fery haluan

Terkini

Tantangan Penyuluh Agama Islam di Natuna di Masa Pandemi

Senin, 20 September 2021 | 18:13 WIB

Melajang Itu Pilihan Atau Keterpaksaan?

Senin, 20 September 2021 | 13:21 WIB

Mengapa Saat Buang Hajat Dilarang Mengobrol dan Nyanyi?

Jumat, 17 September 2021 | 07:34 WIB

Lelah yang Berkah

Kamis, 16 September 2021 | 14:50 WIB

Apa Keutamaan Berwudhu Sebelum Tidur?

Selasa, 14 September 2021 | 10:46 WIB

Bolehkah Berjalan di Depan Orang yang Sedang Sholat?

Selasa, 7 September 2021 | 08:56 WIB

Ini Waktu Terbaik untuk Bersedekah

Senin, 6 September 2021 | 08:49 WIB

Wudhu Merontokan Dosa-dosa

Sabtu, 4 September 2021 | 09:52 WIB

Jangan Pernah Pelit dengan Ilmu

Sabtu, 28 Agustus 2021 | 12:01 WIB

Ini Nasihat Tentang Harta

Sabtu, 28 Agustus 2021 | 08:19 WIB

Pentingnya Memuliakan Tetangga. Ini Penjelasannya

Rabu, 25 Agustus 2021 | 07:33 WIB

Ruginya Orang yang Suka Menunda Amal

Minggu, 22 Agustus 2021 | 08:32 WIB

Kejujuran Kunci Sukses Bisnis Nabi Muhammad SAW

Sabtu, 21 Agustus 2021 | 12:16 WIB
X