Musibah dan Ikhtiar Kesehatan

- Kamis, 15 Juli 2021 | 09:35 WIB
Dr. H. Erizal Abdullah, MH, Kakan Kemenag Anambas. (istimewa)
Dr. H. Erizal Abdullah, MH, Kakan Kemenag Anambas. (istimewa)


  • Oleh: Drs. H. Erizal Abdullah, MH. PhD, Kepala Kemenag Anambas dan Dosen STAIN Sultan Abdurrahman Kepri  


Khutbah I

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَاتَ وَ أَحْيَى. اَلْحَمْدُ للهِ الًّذِيْ أَمَرَنَا بِالتَّقْوَى وَ نَهَانَا عَنِ اتِّبَاعِ الْهَوَى. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ لَنَا عِيْدَ الْفِطْرِ وَ اْلأَضْحَى. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ نِعْمَ الْوَكِيل وَنِعْمَ الْمَوْلَى، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَ مَنْ يُنْكِرْهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا. وَ صَلَّ اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَ حَبِيْبِنَا الْمُصْطَفَى، مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الْهُدَى، الَّذِيْ لاَ يَنْطِقُ عَنْ الْهَوَى، إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوْحَى، وَ عَلَى اَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدقِ وَ الْوَفَا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَنْ اِتَّبَعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْجَزَا. أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأيُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمْ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ.
وقَالَ أَيْضاً
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ
ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ .

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ

Tahun 2020 dan 2021, dua kali berturut-turut pemerintah Indonesia dan banyak negara termasuk Malaysia, Singapura dan Brunai Darusalam tidak memberangkatkan jemaah haji karena masalah pandemi corona virus-19. Salah satu pertimbangannya adalah untuk menjaga keselamatan jiwa jemaah dan memang kerajaan Arab Saudi selaku tuan rumah selama ada corona membatasi jumlah jemaah haji dan umroh, serta menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat.

Sebagai umat Islam, tentu kita merasa sedih dan prihatin, apalagi jemaah haji yang sudah terdaftar untuk berangkat tahun kemarin namun tahun inipun masih belum bisa diberangkatkan. Daftar tunggu semakin panjang dan lama, sementara usia tidak tahu batasnya sampai bila dan kesehatan juga tidak ada garansinya.
Sebagai umat yang beriman, kita meyakini bahwa manusia hanya pembuat rencana, namun yang terjadi adalah rencana yang sudah digariskan Allah SWT, dan pasti itulah yang terbaik. Kita tidak boleh berputus asa, niat harus selalu dijaga agar dimudahkan jalan menunaikan rukun Islam yang kelima, menunaikan ibadah haji ke Baitullah.

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لَاشَرِيْكَ لَكَ

Artinya: Aku datang memenuhi panggilan-Mu Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu tidak ada sekutu bagi-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu, sungguh segala puji, nikmat dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ

Saat ini perkembangan covid-19 di Kepri sangat memprihatinkan. Bahkan Kota Batam dan Kota Tanjungpinang diberlakukan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Sementara itu, daerah selain dua kota tersebut seperti Kabupaten Karimun, Natuna, Bintan, Lingga dan Anambas angkanya juga cukup signifikan. Data dari tim gugus covid-19 tanggal 13 Juli 2021 menyatakan bahwa di Kepri jumlah yang terkonfirmasi (32.888), kasus aktif (5.813), kesembuhan (26.342),dan kematian (733) orang. (nb: sebaiknya lihat data terakhir)

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ

Lalu, bagaimana kita menyikapi virus corona dengan pemahaman Islam yang utuh?

Islam itu terdiri dari Aqidah, Syari'at, dan Akhlaq

Pertama, Aqidah
Kita semua wajib meyakini secara aqidah, bahwa wabah covid-19 adalah musibah dari Allah SWT dan hanya Allah SWT yang bisa menghindarkan diri kita dari keburukannya, dan Allah SWT jua Yang Maha Menyembuhkan yang sakit karenanya. Sebagaimana firman Allah:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. Al Baqarah : 155)

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

"Dan apabila aku sakit, Dialah (Allah) Yang menyembuhkan aku" (QS. Asy-Syu'ara' : 80)

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ

Namun, kita tidak boleh pasrah seperti pemaham kelompok Jabbariyah. Seperti apa kelompok Jabbariyah?
Kelompok ini menyerahkan sepenuhnya pada takdir Allah SWT, namun tanpa ada usaha dan ikhtiar. Pandangan kelompok ini menganggap bahwa semua wabah penyakit itu semata berasal dari Allah SWT. Tapi, mereka tidak mau peduli dengan usaha syariat untuk menghindarinya.

Mereka berpandangan sekiranya mereka terkena wabah penyakit tersebut, merupakan takdir dari Allah SWT. Kalau pun nanti meninggal dunia itu pun juga sudah takdir dari Allah SWT. Sekiranya mereka selamat, tidak terkena apa-apa, itu pun juga sudah takdir dari Allah SWT.

Mereka tak peduli masker, suntik vaksin, menjaga jarak, tak peduli alat pencegahan kesehatan, dan tak peduli orang lain, mereka hanya peduli keyakinan mereka semata. Imbauan medis tidak ada dalam kamus mereka, kecuali jika memang sudah parah kondisinya, itu pun jika sudah terpaksa.

Contoh slogannya, misalnya: "Kami hanya takut kepada Allah, tidak takut Corona! Corona itu juga makhluk Allah!" (tanpa mengindahkan arahan dan himbauan dunia pemerintah). Kelompok ini hanya peduli pada keyakinan mereka sendiri, tanpa memperdulikan efek serta dampak yang bisa saja ditimbulkan dari kelompok mereka sendiri dari penyebaran virus itu pada orang sekitarnya. Intinya, kelompok berpaham Jabariyyah ini hanya peduli pada pemberi "Asbab", bukan pada "Musabbab". Yakin hanya pada Allah, tapi tidak yakin pada Sunatullah-Nya.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ

Kedua, Syariat
Secara syariat, kita harus berikhtiar mencegah agar terhindar dari musibah, seperti dengan membiasakan cuci tangan, hidup bersih, membatasi interaksi dengan banyak orang untuk sementara waktu dan suntik vaksin serta menaati PPKM.

Namun, kita tidak boleh seratus persen yakin pada kekuatan diri dari upaya yang kita lakukan seperti cara pandang kelompok Qadariyyah. Kelompok qadariyyah ini sepenuhnya yakin pada kekuatan diri sendiri, tanpa melibatkan kekuatan Allah SWT sama sekali. Cara berpikir kelompok ini seringkali mengandalkan kemampuan diri sendiri atau orang lain yang dianggapnya kuat atau kemampuan seorang pemimpin atau para pengelola negara yang mereka yakini kemampuannya. Mereka hanya berkeyakinan penuh pada kecanggihan peralatan medis serta kemajuan ilmu pengetahuan, namun, menafikan Allah Subhanahuwata'ala dalam setiap peristiwa dan kejadian.

Biasa mereka berslogan, umpamanya: "Kami tidak takut Corona. Ayo kita lawan Corona!" atau "Peralatan medis kita sudah canggih! dan lainnya. Kelompok paham ini seringkali lebih mengandalkan logika dan rasio, ketimbang keyakinan hati dan iman. Semua dinilai secara materialistik dan realistik. Intinya, paham Qadariyyah ini hanya melihat dan meyakini faktor "Musabbab", namun mengabaikan Sang Pemberi "Asbab".

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ

Lalu bagaimana kita harus bersikap?
Kita adalah umat Islam yang berpaham Ahlu Sunnah wal Jama'ah, Menyeimbangkan Antara Ikhtiar dan Tawakkal. Kelompok Ahlu Sunnah wal Jama'ah memiliki sikap dan pandangan mu'tadil dan mutawasith; seimbang dan berimbang. Mereka tidak terlalu takut berlebihan dan tidak pula menantang penuh kesombongan. Menyeimbangkan antara ikhtiar dan tawakkal.

Kelompok Ahlu Sunnah wal Jamaah selalu berusaha bertawakkal mendekatkan diri pada Allah SWT dengan doa dan dzikir. Tapi, pada saat yang sama, mereka juga selalu berikhtiar dengan obat-obatan yang membuat fit badan. Mereka senantiasa menjaga kebersihan fisik dan juga kebersihan bathin, memperkuat imun dan iman. Mereka berdoa dan memakai masker bila diperlukan. Kelompok ini mengikuti aturan medis juga mematuhi dan tunduk pada aturan agama dan ilmu pengetahuan. Keseimbangan antara nalar dan iman, kesetaraan antara hati dan logika akal. Jika disarankan agar mereka menghindari penyebab antisipasinya, misalnya menjauhi kerumunan massa, mereka akan lakukan, tapi mereka juga tak lupa berlindung dengan Allah dari segala kemudharatan.

Ahlu Sunnah wal Jamaah berkeyakinan bahwa Allah yang menjadi "Musabbab", tapi juga Dia yang menciptakan "Asbab". Dia yang menurunkan bala wabah penyakit, namun Dia pula yang memberikan cara menghindari dan penyembuhan wabah penyakit tersebut. Kita bisa belajar dari sikap dan tindakan Khalifah Rasulullah Shallahu alaihi wassalam, manakala Khalifah Umar bin Khattab dan pasukannya membatalkan rencananya memasuki kota Syam yang ketika itu sedang terserang wabah penyakit, sewaktu di kota Sargh, salah seorang sahabat bernama Abu Ubaidah al- Jarrah mendebatnya.

أنفر من قزر الله، يا أمير المؤمنين؟

"Akankah kita akan menghindar dari takdir Allah, wahai Amirul mukminin?!"

Lantas Umar bin Khattab menjawab:

نعم، نفر من قدر الله إلى قدر الله!

"Benar! Kita menghindari dari satu takdir Allah kepada takdir-Nya yang lain!"
Tak berapa lama, datanglah sahabat lainnya, Abdurrahman bin Auf yang menyampaikan hadits Rasulullah yang pernah didengarnya saat ia masih bersama Rasulullah semasa hidupnya.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إذا سمعتم به - أي الطاعون- بأرض الوباء فلا تقدموا عليه وإذا وقع وأنتم بها فلا تخرجوا فرارا منه. [رواه البخاري]

Rasulullah bersabda: "Jika kalian mendengar adanya satu wabah penyakit di satu negeri, maka janganlah kalian memasukinya dan jika kalian berada di negeri itu, maka janganlah pula kalian meninggalkannya karena menghindarinya." [HR. Bukhari]

Tentang soal tawakkal, kita bisa belajar pula dari kisah salah seorang sahabat Nabi yang meninggalkan tali kekang untanya terlepas begitu saja, tanpa diikatkan di sebuah batu saat ia memasuki masjid Nabawi untuk beribadah. Lantas Rasulullah menegurnya, "Kenapa tidak kau ikat untamu itu?!"

Di menjawab: "Aku serahkan untaku pada Allah, ya Rasulullah! Jika Allah menghendaki-Nya dia tetap ada bersamaku. Tapi jika Allah menghendakinya hilang, maka dia hilang dariku!" Rasulullah tersenyum.

"Bukan begitu caranya!" Nabi lantas mengajarkan ikhtiar dengan cara memintanya mengikat untanya, lantas Nabi bersabda: "Sekarang barulah engkau bertawakkal dan serahkan semuanya pada Allah!"

Begitulah ajaran Rasulullah dalam bertawakkal yang sesuai sunnah dan ajaran Islam.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

Ketiga, Akhlaq
Secara akhlaq kita harus selalu tolong menolong, saling membantu dan menguatkan untuk bersama-sama menghadapi wabah corona ini bukan malah saling melemahkan. Begitu juga kita jangan sampai menyebarkan berita hoax, yang justru memperkeruh suasana. Apalagi mengambil kesempatan memperkaya diri, dan kelompok, mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Jadi orang yang menggunakan masker, membiasakan cuci tangan, suntik vaksin dan membatasi interaksi dengan banyak orang itu bukan berarti lebih takut kepada corona daripada Allah SWT, tapi dia sedang menyempurnakan ikhtiar yang diperintahkan Allah SWT dan Rasulnya, sebagaimana secara Aqidah, rezeki sudah ditetapkan Allah SWT, tapi secara syariat kita harus bekerja menjemput rezeki Allah. Bagaimana jika kita sama sekali tidak mau beriktiar dengan rezekinya? Takkan mungkin dating dengan sendirinya.

Secara Aqidah takdir kematian kita sudah ditetapkan Allah. Tapi secara syariat kita diperintahkan untuk menjaga segala hal yg membahayakan kehidupan (حفظ النفس).

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ

"Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.(QS. Ar Ra'd : 11)

Kita bukan kelompok Jabbariyah yang hanya pasrah kepada takdir tanpa mau berikhtiar. Kita juga bukan kelompok Qodariyah yang hanya mengandalkan usaha perbuatan kita tanpa pernah menyerahkan urusan kita kepada Allah. Kita adalah orang yang berpaham Ahlus Sunnah Waljamaah yang meyakini takdir Allah dengan menyempurnakan ikhtiar. Jika pun semua ikhtiar, do'a dan tawakkal sudah sepenuhnya dilaksanakan secara maksimal, hasilnya tidak sesuai yang diharapkan, barulah kita bicara soal takdir. Bukan takdir tanpa ikhtiar dan tanpa tawakkal.

Ibarat siti Hajar yang terus berusaha mencari air diantara bukit shafa dan marwah ulang alik tujuh kali dengan berlari-lari kecil, dan tawakkal ketika ia menyerahkan nasib putranya yang masih kecil yaitu Ismail kepada Allah SWT dengan menyandarkan ke dinding Ka'bah. Akhirnya atas izin Allah melalui hentakan kaki Ismail terpancarlah air Zam-zam didekatnya, bukan di bukit shafa ataupun marwah.

Hal ini memberikan pelajaran berharga bagi kita bahwa dalam menghadapi hidup ini, kita harus berusaha, berjuang dan bekerja keras sebagaimana ditunjukkan oleh Siti Hajar, tetapi berjuangan dan kerja keras harus disertai tawakkal kepada Allah SWT, beliaulah yang punya hak prerogative menentukan hasil akhirnya.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ

Mari kita bersama-sama mengambil iktibar dari tingginya angka penderita covid, tingginya angka kematian dan dibatasinya pergerakan, aktifitas usaha dan ibadah berjamaah, yaitu dengan selalu bersabar, berbaik sangka, berikhtiar, berdo'a di setiap kesempatan, memohon perlindungan dan semakin mendekatkan diri pada Sang Maha Kuasa karena ajal datang bila-bila masa tak bisa ditunda.

Ajal tiba tappa melihat usia, kedudukan, miskin dan kaya tak memandang tempat kita dimana dan disaat sedang apa . Di momentum hari raya idul adha ini, mari kita tinggalkan segala nafsu hewani dan rendah seperti angkuh, sombong, merasa benar sendiri, dan lainnya. Inilah hakekat ibadah kurban, bentuk pengorbanan yang lebih siknifikan dan akan berdampak lebih besar pada kemaslahatan ummat.

Semoga Allah SWT melindungi dunia, bangsa dan kita semua, dari segala bala, wabah dan marabahaya, semoga bencana ini segera sirna.

بَارَكَ الله ُلِيْ وَلَكُمْ فِيْ القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنيِْ وَاِيّاَكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

Khutbah II

الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً لاَ إِلَهَ إِلاّاَلله ُوَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لاَ إِلَهَ إِلاّاَلله ُوَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ المُشْرِكُوْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ وَلَوْكَرِهَ المُناَفِقُوْنَ. الحَمْدُ لِلّهِ حَمْداً كَثِيْرًا كَماَ أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ الله ُوَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ إِرْغاَماً لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الخَلَآئِقِ وَالبَشَرِ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ مَصَابِيْحَ الغُرَرِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيآأَيُّهاَالحاَضِرُوْنَ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَافْعَلُوْاالخَيْرَ وَاجْتَنِبُوْآ عَنِ السَّيِّآتِ. وَاعْلَمُوْآ أَنَّ الله َأَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّابِمَلَآئِكَةِ المُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. فَقاَلَ تعالى فِيْ كِتاَبِهِ الكَرِيْمِ أَعُوْذُ باِلله ِمِنَ الشَّيْطاَنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَحِيْمِ. إِنَّ اللهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيْ يَآأَيُّهاَالَّذِيْنَ آمَنُوْآ صَلُّوْآ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. فَأَجِيْبُوْآالله َاِلَى مَادَعَاكُمْ وَصَلُّوْآ وَسَلِّمُوْأ عَلَى مَنْ بِهِ هَدَاكُمْ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصِحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَعَلَى التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. وَارْضَ الله ُعَنَّا وَعَنْهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الراَحِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِناَتِ وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ الأَحْيآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعُ قَرِيْبٌ مُجِيْبٌ الدَّعَوَاتِ

Duhai Tuhan yang Maha Hidup, Maha Bertanggung jawab dan mengatasi, yang selamanya tidak akan mati. Saat ini negeri kami sedang ada pandemi, kami memohon perlindungan dari-MU, Lindungi Negeri Kami, lindungi daerah kami, lindungi para pemimpin kami, para dokter dan para medis, seluruh rakyat dan tim relawan covid-19 dari penyakit, bala, virus dan segala marabahaya. Naungi dan selamatkanlah kami dari segala keburukan, kelaparan, perpecahan, kejahatan, malapetaka, fitnah dan siksaan.

Kami mohon kepadaMu ya Allah, segera habiskan dan lenyapkan virus ini. Penyakit ini datang dariMu dan obat terbaikpun pasti datang dariMu. Maka Ya Allah,.. hadirkan obat untuk wabah penyakit ini, dan hadirkan jalan keluar terbaik untuk kesulitan atas musibah ini. Ya Ghafurur Rahiim, Tuhan yang Maha pengampun dan Mendengar. Kami adalah hambaMu yang banyak khilaf dan salah, banyak berbuat maksiyat dan dosa, barangkali semua musibah ini datang karena banyak dosa yang belum Engkau ampuni, ya Allah ya Rabb, Ampunilah dosa dan kesalahan kami, dosa orang tua kami, dosa guru-guru kami, para pemimpin daerah dan pimimpin Negara kami.

Berilah kami kesehatan, kedamaian, kesejahteraan dan kebahagiaan hidup, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Kami yakin ampunan-Mu lebih luas dari dosa kami, kami yakin kasih sayang-Mu lebih besar dari kesalahan kami.

Ya Allah, kabulkanlah do’a dan permohonan kami.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ ، وَالْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ

***

 

 

Editor: fery haluan

Terkini

Tantangan Penyuluh Agama Islam di Natuna di Masa Pandemi

Senin, 20 September 2021 | 18:13 WIB

Melajang Itu Pilihan Atau Keterpaksaan?

Senin, 20 September 2021 | 13:21 WIB

Mengapa Saat Buang Hajat Dilarang Mengobrol dan Nyanyi?

Jumat, 17 September 2021 | 07:34 WIB

Lelah yang Berkah

Kamis, 16 September 2021 | 14:50 WIB

Apa Keutamaan Berwudhu Sebelum Tidur?

Selasa, 14 September 2021 | 10:46 WIB

Bolehkah Berjalan di Depan Orang yang Sedang Sholat?

Selasa, 7 September 2021 | 08:56 WIB

Ini Waktu Terbaik untuk Bersedekah

Senin, 6 September 2021 | 08:49 WIB

Wudhu Merontokan Dosa-dosa

Sabtu, 4 September 2021 | 09:52 WIB

Jangan Pernah Pelit dengan Ilmu

Sabtu, 28 Agustus 2021 | 12:01 WIB

Ini Nasihat Tentang Harta

Sabtu, 28 Agustus 2021 | 08:19 WIB

Pentingnya Memuliakan Tetangga. Ini Penjelasannya

Rabu, 25 Agustus 2021 | 07:33 WIB

Ruginya Orang yang Suka Menunda Amal

Minggu, 22 Agustus 2021 | 08:32 WIB

Kejujuran Kunci Sukses Bisnis Nabi Muhammad SAW

Sabtu, 21 Agustus 2021 | 12:16 WIB
X