Musibah Covid-19 dalam Literasi Iradat Ketuhanan

- Senin, 19 Juli 2021 | 12:03 WIB
H. Muhammad Nasir. (istimewa) (H. Muhammad Nasir. (istimewa))
H. Muhammad Nasir. (istimewa) (H. Muhammad Nasir. (istimewa))

 

Oleh: H. Muhammad Nasir. S.Ag.,MH, Kakan Kemenag Lingga

Ketika makhluk tak lagi berdaya menyusun rencana menghadapi petaka dunia dalam berbagai bentuknya, saat itu biasanya manusia selalu mencari alasan yang irasional untuk menyandarkan kelemahannya dalam menghadapi realitas. Banyak kejadian dan peristiwa alam yang mendatangkan mudharrat kepada manusia termasuk covid-19. Bencana dan peristiwa alam lainnya yang mendatangkan mudarrat kepada manusia selalu diawali oleh sebab dan musabab. Tidak ada suatu peristiwa alam yang terjadi tanpa sebab. Karena alam adalah ciptaan yang bersifat sementara dan tidak kekal. Tetapi Dialah Allah SWT Yang Maha Kekal dan Abadi.

Apa yang terjadi kini merupakan peristiwa alam yang berawal dari suatu sebab. Para ulama sering menyandarkan sebab kepada musabab. Musabab terakhir dari seluruh musabab adalah qudrat Allah Yang Maha Berkehendak. Lalu, bagaimana sebenarnya kehendak Allah SWT terhadap pandemi yang melanda dunia sampai saat ini.

Dalam literasi Iradat ketuhanan, artikel singkat ini akan menjelaskan secara singkat. Iradat adalah salah satu sifat Allah SWT yang wajib diimani. Dalam literatur Ilmu Aqaid para ulama sepakat bahwa Iradat berarti “Berkehendak”. (Harus Nasution: 1972). Apabila Allah SWT berkehendak, maka jadilah hal itu dan tidak ada seorang pun yang mampu mencegah-Nya. Ayat yang menjelaskan tentang sifat ini terdapat dalam Al-Qur’an surat Yaasin ayat 82: yang artinya: “Sesungguhnya perintahnya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ’jadilah!’ maka terjadilah ia.“ (QS. Yasin: 82).

Dalam kajian literasi keimanan, Iradat merupakan berkehendak dengan sesuatu yang harus muwafaqat dengan ilmu (Muhammad Imarah: 1971). Artinya, tidak dikehendaki oleh Allah SWT melainkan sesuatu yang diketahui-Nya. Pandemi yang terjadi di jagat bumi hari ini terjadi di bawah pengawasan dan pengetahuan Allah SWT. Dia sedang melihat makhluk-Nya yang sedang dilanda musibah. Dialah Allah SWT sedang melihat siapa hambanya-Nya dan siapa hamba dunia. Dia sedang melihat kepada siapa manusia menyandarkan kelemahannya, kepada Allah SWT atau kepada penguasa dunia. Allah SWT sedang melihat kesusahan dan kesenangan yang menimpa manusia, apakah disikapi dengan syukur atau dengan kufur. Semua itu ada dalam penglihatan Allah SWT, dan semua itu merupakan bentuk kasih sayang-Nya dalam Iradat yang ditetapkan-Nya. Lalu apa yang harus kita lakukan dalam menyikapi musibah yang belum kunjung berakhir ini, yang dapat kita tawarkan adalah:

Pertama: Memandang musibah covid-19 dalam prinsip keadilan Ilahi. Keadilan Ilahi dan kebebasan manusia dalam bertindak tidak dapat dipisahkan. Keadilan Ilahi erat hubungannya dengan permasalahan Iradat-Ilahi. Segala gerak dan tingkah laku, kejadian dan peristiwa dalam alam kehidupan terjadi atas izin Allah SWT. Termasuk kejahatan maupun kebaikan, kezaliman maupun keadilan, kekufuran maupun keimanan, kedurhakaan maupun kepatuhan, terjadi atas kehendak-Nya karena Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Manusia diberikan pilihan dalam sikap dan tindakan yang dilakukan. Untuk itu manusia diberi aqal dan nafsu untuk menyeimbang fungsinya dalam kehidupan. Jika sikap ini yang dilakukan maka musibah covid-19 merupakan peristiwa yang menyadarkan manusia kepada keadilan Tuhan. Betapa selama ini kita disadarkan dengan keindahan, kesuburan dan kekayaan alam yang melimpah, tetapi belum disyukuri dengan benar, maka Allah sangat adil jika Ia ketuk bathin keimanan kita melalui musibah seperti yang kita hadapi.

Kedua: Memandang pandemi sebagai kebijaksanaan Tuhan. Washil bin Atha’ (seorang ulama kalam ) menjelaskan bahwa Tuhan bersifat bijaksana dan adil. Ia tidak dapat berbuat jahat maupun zalim. Tidak mungkin Tuhan menghendaki supaya manusia berbuat hal-hal yang bertentangan dengan perintah-Nya. Dengan demikian manusia sendirilah sebenarnya yang mewujudkan perbuatan baik dan perbuatan jahatnya, iman dan kufurnya, kepatuhan dan ketidak-patuhannya kepada Allah SWT. Atas perbuatan-perbuatannya itu, manusia memperoleh balasan. Maka, musibah Covid-19 pada dasarnya merupakan balasan akibat perbuatan manusia. Perbuatan baik dibalas baik, perbuatan buruk dibalas buruk. Itulah keadilan. Untuk terwujudnya perbuatan-perbuatan itu Allah SWT, memberikan daya dan kekuatan kepada manusia. Tidak mungkin Allah SWT menurunkan perintah pada manusia untuk berbuat sesuatu kalau manusia tidak mempunyai daya dan kekuatan untuk berbuat. Allah SWT bijaksana dengan segala Iradat-Nya.

Ketiga: Memandang musibah covid-19 sebagai ayat Allah SWT untuk dibaca. Dunia dengan berbagai kejadian didalamnya sesungguhnya adalah bacaan dari ayat-ayat Allah SWT. Kejadian apa saja dapat terjadi kapan dan dimana saja, masa sekarang dan yang akan datang. Musibah covid-19 termasuk ayat-ayat Allah SWT yang harus dibaca dengan bijak. Untuk membaca ayat ini, secara Iradat ketuhanan bangsa Indonesia menyikapi dengan bijak melalui berdo’a bersama dari rumah yang langsung di hadiri oleh Presiden Joko Widodo pada 11 Juli 2021 yang lalu.

Berdoa merupakan tindakan iman yang paling dalam. Melalui doa kita ketuk pintu langit mengharap kucuran karunia dan ampunan Allah SWT. Melalui doa, kita sikapi covid-19 agar musibah non alam ini memiliki makna dan nilai yang dapat memperkuat keimanan menuju ketaatan sejati dan kesadaran tauhid kepada Allah SWT. Melalui hal itu kita ketuk pintu rahmat Allah SWT, sehingga doa-doa kita diharapkan menjadi ikhtiar pulihnya kembali wabah pandemi global di bumi.

Dalam menumbuhkan kesadaran Tauhid tidak dipungkiri bahwa disamping Allah adalah pencipta segala sesuatunya (termasuk pandemi ini) Allah SWT juga mengatur segala sesuatunya. Dari sinilah disadari bahwa tiada kejadian yang di hamparkan dan setiap kejadian yang digulirkan kepada mahklukNya, kecuali telah dipantau dan tidak luput dari penglihatan-Nya. Dalam hal ini terdapat kesadaran Tauhid yang harus tertanam dalam jiwa untuk mensikapi musibah tersebut yaitu: Bahwa kejadian yang dialami manusia dan mahkluk ciptaan lainnya terjadi tidak secara kebetulan, tidak ada sesuatu kejadian yang terjadi kecuali tersimpan maksud-Nya, dan tidak ada suatu kejadian yang terjadi secara sia-sia.

Akhirnya kita semua berharap musibah Covid-19 benar-benar menjadi bermakna dalam upaya peningkatan iman dan keyakinan manusia akan kebesaran Allah SWT. Dan manusia dengan segala upaya dan usahanya tidak akan terwujud kecuali atas Iradat atau kehendak-Nya. Dia Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dengan sikap ini mudah-mudahan bangsa Indonesia dapat terhindar dan pulih kembali dari musibah covid-19, sehingga kehidupan bangsa ini kembali seperti sedia kala. Aamiin.***

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Terkini

Keajaiban Shodaqoh

Senin, 11 Oktober 2021 | 11:31 WIB

Refleksi Sufistik Canda Rasulullah SAW

Selasa, 5 Oktober 2021 | 14:18 WIB

Doa Agar tak Mengulangi Kemaksiatan

Minggu, 3 Oktober 2021 | 07:46 WIB

Ajari Diri Berbuat Sabar

Senin, 27 September 2021 | 08:15 WIB

Tantangan Penyuluh Agama Islam di Natuna di Masa Pandemi

Senin, 20 September 2021 | 18:13 WIB

Melajang Itu Pilihan Atau Keterpaksaan?

Senin, 20 September 2021 | 13:21 WIB

Mengapa Saat Buang Hajat Dilarang Mengobrol dan Nyanyi?

Jumat, 17 September 2021 | 07:34 WIB

Lelah yang Berkah

Kamis, 16 September 2021 | 14:50 WIB

Apa Keutamaan Berwudhu Sebelum Tidur?

Selasa, 14 September 2021 | 10:46 WIB

Bolehkah Berjalan di Depan Orang yang Sedang Sholat?

Selasa, 7 September 2021 | 08:56 WIB

Ini Waktu Terbaik untuk Bersedekah

Senin, 6 September 2021 | 08:49 WIB

Wudhu Merontokan Dosa-dosa

Sabtu, 4 September 2021 | 09:52 WIB

Jangan Pernah Pelit dengan Ilmu

Sabtu, 28 Agustus 2021 | 12:01 WIB

Terpopuler

X