Sakaratul Maut

- Rabu, 14 September 2022 | 13:39 WIB
ilustrasi (internet)
ilustrasi (internet)

Oleh: Syamsul Yakin

Setiap orang beriman mengharap saat meregang nyawa atau sakaratul maut dalam keadaan husnul khatimah. Allah berfirman, "Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka), ”Salamun 'alaikum (keselamatan dan kesejahteraan bagimu).” Masuklah ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.” (QS al-Nahl/16: 32).

Yang dimaksud dalam keadaan baik dalam ayat ini, menurut pengarang Tafsir Jalalain, adalah suci dari kekafiran.

Sakaratul maut adalah frasa yang termaktub di dalam Alquran, "Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya." (QS Qaf/50: 19).

Bagi pengarang Tafsir Jalalain, sakaratul maut adalah kesusahan dan rasa sakit yang memuncak menjelang maut. Dalam sejarah, rasa sakit sakaratul maut juga dirasakan oleh Nabi. Tentu rasa sakit itu lebih besar dirasakan oleh pengikut beliau. Untuk itu Nabi mengajarkan doa, "Ya Allah, mudahkanlah bagi kami di dalam menempuh sakaratul maut." (HR Turmudzi).

Menurut Syaikh Nawawi dalam kitab Qathrul Ghaits, orang yang sedang mengalami sakaratul maut dapat melihat tempatnya di surga atau di neraka. Dalam keadaan sakaratul maut seperti ini tobat seseorang tidak lagi dapat diterima dengan dua alasan. Pertama, karena tidak ada lagi pelaksanaan perintah yang dapat dilakukan. Kedua, karena tidak ada lagi waktu ikhtiar (kesempatan).

Berberbeda dengan tobat orang yang ruhnya belum sampai di tenggorokan. Seperti sabda Nabi yang dikutip Syaikh Nawawi, "Tobat seorang hamba yang beriman diterima selama belum sampai tenggorokan."

Untuk itu, tak henti-hentinya kepada keluarga dan kolega atau siapa pun untuk mempersiapkan sakaratul maut. Caranya saling memberi nasihat untuk berbaik sangka kepada Allah. Nabi berpesan, "Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal kecuali berbaik sangka kepada Allah." (HR Muslim). Sebab Allah itu tergantung sangka kita kepada-Nya.

Agar dapat berbaik sangka kepada Allah, seorang hamba bisa secara kontinu dan konsisten memohon ampun, meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, dan menjalin hubungan secara horisontal kepada sesama. Orang yang berbaik sangka kepada Allah saat sakaratul maut bisa dipastikan husnul khatimah.

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Menghindari Maksiat Hati

Rabu, 28 September 2022 | 07:29 WIB

Mengapa Allah SWT Melapangkan dan Menyempitkan Rezeki?

Kamis, 22 September 2022 | 08:49 WIB

Perbaharui Perahumu

Rabu, 21 September 2022 | 08:42 WIB

Dua Pesan Imam Nawawi Bagi Mereka yang Mempelajari Ilmu

Minggu, 18 September 2022 | 10:50 WIB

Memelihara Tradisi Ilmiah

Sabtu, 17 September 2022 | 09:13 WIB

Sahkah Berwudhu Menggunakan Botol Spray?

Kamis, 15 September 2022 | 06:53 WIB

Sakaratul Maut

Rabu, 14 September 2022 | 13:39 WIB

Negeri Akhirat untuk yang tidak Menyombongkan Diri

Rabu, 14 September 2022 | 09:33 WIB

Tenang dengan Sholat

Jumat, 9 September 2022 | 09:05 WIB

Sabar dan Doa Kunci Keluar dari Kesulitan Hidup

Jumat, 26 Agustus 2022 | 13:50 WIB

Mengakui Kesalahan

Rabu, 17 Agustus 2022 | 08:21 WIB

Membantu Orang Zalim

Minggu, 14 Agustus 2022 | 09:31 WIB
X