Perbaharui Perahumu

- Rabu, 21 September 2022 | 08:42 WIB
ilustrasi (internet)
ilustrasi (internet)

Oleh: Syamsul Yakin

Diceritakan bahwa Nabi berpesan kepada Abu Dzar al-Ghifari, seperti dikutip Syaikh Nawawi Banten dalam kitab Nashaihul Ibad. Pesan itu berbunyi, "Wahai Abu Dzar perbaharuilah perahumu, karena laut itu dalam."

Abu Dzar adalah seorang konglomerat pada masanya. Usahanya menggurita dari hulu hingga hilir. Menurut Syaikh Nawawi, nama aslinya adalah Jundab bin Junadah. Beliau wafat pada 652 Masehi. Abu Dzar menyaksikan wafatnya Nabi, yakni pada 632 Masehi.

Menurut Syaikh Nawawi yang dimaksud "Perbaharuilah perahu" pada hadits di atas adalah perbaiki niatmu. Jadi niat seumpama perahu yang sangat urgen dan fundamental dalam ibadah. Tujuannya adalah untuk meraih pahala dan keselamatan dari siksa. Bagi Syaikh Nawawi, niat yang harus diperbaiki adalah niat melakukan atau meninggalkan satu amal.

Sementara laut yang dalam adalah perlambang perjalanan yang berbahaya yang kalau keliru mengambil arah bisa tercebur ke dasar laut, tidak ada yang dapat menolong. Dengan kata lain, perahu yang terus diperbaharui atau dirawat secara reguler dapat dipastikan tidak akan mudah karam di laut yang dalam.

Dalam hadits lain, Nabi juga memerintahkan untuk memperbaharui iman. Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah bersabda, "Perbaharuilah keimanan kalian." Ditanyakan, "Ya Rasulullah, bagaimanakah kami memperbaharui iman kami? Beliau menjawab, "Perbanyaklah mengucapkan La Ilaaha Illallah." (HR Ahmad).

Ada hubungan yang erat antara niat yang tulus dengan kalimat tauhid La Ilaaha Illallah. Seorang yang niatnya tulus segala yang dilakukan dan ditinggalkannya didedikasikan untuk Allah Yang Mahaesa. Hal itu diyakini hanya Allah yang menilai, mengawasi dan mengamati semua amal manusia, bukan yang lainnya. Karena itu orang yang akidah dan tauhidnya kukuh, niatnya tulus.

Para ulama masa lalu, seperti direkam Syaikh Nawawi, kerap saling memberi nasihat soal niat ini dengan cara menulis surat. Misalnya, pertama, seperti yang dilakukan Umar bin al-Khaththab (wafat 644 Masehi) kepada Abu Musa al-Asy'ari (wafat 665 Masehi). Umar menulis surat yang isinya, "Barangsiapa yang tulus niatnya, maka Allah cukupkan apa yang ada pada dirinya dan orang lain." Jadi kuncinya adalah niat.

Kedua, seperti yang dilakukan oleh Salim bin Abdullah bin Umar bin al-Khaththab (wafat 728 Masehi) kepada Umar bin Abdul Aziz (wafat 720 Masehi). Salim menulis surat yang isinya, "Pertolongan Allah kepada hambanya seukuran niatnya. Siapa saja yang tulus niatnya, sempurna pertolongan Allah untuknya. Namun siapa saja yang kurang niatnya, kurang juga pertolongan Allah untuknya."

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Menghindari Maksiat Hati

Rabu, 28 September 2022 | 07:29 WIB

Mengapa Allah SWT Melapangkan dan Menyempitkan Rezeki?

Kamis, 22 September 2022 | 08:49 WIB

Perbaharui Perahumu

Rabu, 21 September 2022 | 08:42 WIB

Dua Pesan Imam Nawawi Bagi Mereka yang Mempelajari Ilmu

Minggu, 18 September 2022 | 10:50 WIB

Memelihara Tradisi Ilmiah

Sabtu, 17 September 2022 | 09:13 WIB

Sahkah Berwudhu Menggunakan Botol Spray?

Kamis, 15 September 2022 | 06:53 WIB

Sakaratul Maut

Rabu, 14 September 2022 | 13:39 WIB

Negeri Akhirat untuk yang tidak Menyombongkan Diri

Rabu, 14 September 2022 | 09:33 WIB

Tenang dengan Sholat

Jumat, 9 September 2022 | 09:05 WIB

Sabar dan Doa Kunci Keluar dari Kesulitan Hidup

Jumat, 26 Agustus 2022 | 13:50 WIB

Mengakui Kesalahan

Rabu, 17 Agustus 2022 | 08:21 WIB

Membantu Orang Zalim

Minggu, 14 Agustus 2022 | 09:31 WIB
X