Laki-laki dan Perempuan dalam Kekuasaan Khitbah

- Minggu, 1 Januari 2023 | 17:40 WIB
Ishak, S.H., Penyuluh Agama Islam Kabupaten Natuna. (istimewa)
Ishak, S.H., Penyuluh Agama Islam Kabupaten Natuna. (istimewa)

Oleh: Ishak, S.H., Penyuluh Agama Islam Kabupaten Natuna

Sebelum menikah ada proses yang biasa kita kenal dengan sebutan lamaran. Lamaran atau istilah lainnya ialah khitbah, merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab, secara sederhana dapat diartikan sebagai sebuah praktek penyampaian maksud dan tujuan seseorang untuk melangsungkan ikatan perkawinan. Khitbah dilaksanakan sebelum terjadinya suatu akad pernikahan. (Amir Syarifudin: 2017)

Adat khitbah ini pertama kali dilakukan oleh orang Arab yang lama dan telah diteruskan oleh Islam. Mengkhitbah harus memenuhi 2 syarat, yang pertama tidak dikhitbah orang lain dan yang kedua ialah tidak terhalang oleh halangan syar'i (H.S.A.Alhamdani: 1980).

Dalam buku Kompilasi Hukum Islam (KHI) di bab III menyatakan bahwa khitbah dapat dilakukan langsung oleh orang yang berkehendak mencari pasangan dan dapat pula dilakukan oleh perantara yang dapat dipercayai.

Umumnya dalam masyarakat kita saat ini, mengkhitbah merupakan sebuah tindakan seorang laki-laki dalam memilih seorang perempuan yang masih di bawah kekuasaan walinya untuk dinikahi. Oleh karena itu jika ada perempuan yang mengkhitbah tentunya hal tersebut masih terasa begitu tabu. Walaupun demikian tidak menutup kemungkinan bahwa memang ada beberapa tradisi di kalangan masyarakat Indonesia justru perempuanlah yang dulu mengkhitbah.

Terkait pemaparan di atas maka dapat diperkuat dengan melihat bagaimana fitrah perasaan antara lelaki dan perempuan. Laki-laki dan perempuan dalam sebuah hubungan dan perasaan sudah mempunyai peranannya masing-masing.

Laki-laki cenderung lebih aktif dalam mengutarakan perasaannya dibandingkan dengan perempuan dan juga laki-laki akan lebih berani untuk mengungkapkan serta menunjukkan rasa cintanya kepada perempuan.

Sementara itu, perempuan justru cenderung menjadi pihak yang lebih pasif. Perempuan memiliki sifat lebih malu-malu daripada laki-laki untuk menunjukkan rasa cinta dan perasaannya (Fadilah dkk: 2011).

Pada kenyataannya dalam Islam sendiri tidak ada ditemukan larangan perihal seorang perempuan yang ingin mengkhitbah. Bahkan perempuan dianjurkan untuk mencari laki-laki shaleh yang kelak akan dijadikan suaminya. Hal itu terdapat di Surat Al-Qasas ayat 27.

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pola Distribusi Rezeki

Minggu, 29 Januari 2023 | 10:28 WIB

Berkata Baik atau Diam

Jumat, 27 Januari 2023 | 08:27 WIB

Nasib Malang Tukang Fitnah

Rabu, 25 Januari 2023 | 08:45 WIB

Rezeki dari Allah Tidak Hanya Gaji

Selasa, 24 Januari 2023 | 08:51 WIB

Bagaimana Adab Membaca AlQur'an dari Ponsel?

Kamis, 19 Januari 2023 | 08:42 WIB

Selalu Bertobat

Minggu, 15 Januari 2023 | 14:53 WIB

Semua Ada Waktunya

Jumat, 13 Januari 2023 | 14:30 WIB

Apa Hukumnya Bekerja di Tempat Maksiat?

Rabu, 11 Januari 2023 | 11:00 WIB

Hanya Allah SWT Tempat Segala Keluh Kesah

Kamis, 5 Januari 2023 | 10:59 WIB

Laki-laki dan Perempuan dalam Kekuasaan Khitbah

Minggu, 1 Januari 2023 | 17:40 WIB

Ahli Ilmu yang Beriman

Minggu, 25 Desember 2022 | 08:09 WIB

Malu

Jumat, 23 Desember 2022 | 13:21 WIB

Komunikasi Sufistik

Kamis, 22 Desember 2022 | 13:58 WIB
X