Kejujuran Kunci Sukses Bisnis Nabi Muhammad SAW

- Sabtu, 21 Agustus 2021 | 12:16 WIB
(pikiran-rakyat.com)
(pikiran-rakyat.com)

Kejujuran merupakan kunci sukses Nabi Muhammad SAW dalam menjalankan perniagaannya. Dengan konsep kejujuran ini, bisnis akan penuh dengan muatan etika dan moral yang berakar pada ajaran Al-Quran dan Sunnah.

Berdasarkan buku Strategi Andal dan Jitu Praktik Bisnis Nabi Muhammad karya Thorik Gunara dan Utus Hardiono Sudibyo, yang dilansir okezone.com, Jumat (23/7/2021), soul marketing diawali dengan sikap jujur dan harus selalu diutamakan, karena setiap perusahaan pasti menginginkan pelanggannya setia, sedangkan untuk bisa setia maka kepercayaan harus dibentuk dengan sikap jujur.

Jejak bisnis Nabi Muhammad SAW yang menekankan pada kejujuran memang bukan alat untuk menciptakan keuntungan yang cepat, karena jika pengusaha ingin cepat untung malah biasanya enggan untuk jujur dengan sungguh-sungguh. Hanya karena tergiur untuk mendapatkan keuntungan dengan cepat, pengusaha biasa menebar janji palsu dan omong kosong.

Misalnya, sebuah produk yang kualitasnya biasa-biasa saja dibungkus dengan strategi promosi yang hanya menonjolkan sisi baiknya saja mungkin bisa membuat barang cepat laku, namun itu tidak bisa membentuk kepercayaan yang hakiki karena konsumen tidak selamanya bisa dibohongi.

Pengusaha yang seperti itu jangan harap konsumen akan kembali melakukan transaksi. Selain itu, konsumen akan selalu ingat saat dia dikecewakan dan selalu bercerita dan memberi rekomendasi kepada komunitas, keluarga, dan teman-temannya.

Kejujuran menciptakan integritas dari pihak produsen. Jika pengusaha menjelaskan kelebihan dan kekurangan produk, integritaslah yang sesungguhnya dia jual kepada konsumen.

Rasulullah pernah bersabda, “Tidak dibenarkan seorang muslim menjual satu jualannya yang mempunyai aib, sebelum dia menjelaskan aibnya” (HR. al-Quzuwaini).

Tentu saja pengusaha memiliki batasan dalam sikap jujurnya, yaitu sikap murah hati saat menjawab. Konsumen jangan terlalu banyak melontarkan pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan produk yang ditawarkan, sedangkan penjual pun apabila tidak ditanya jangan merasa enggan untuk menjelaskan yang menyangkut kepentingan konsumen.

Nabi Muhammad bersabda, “Saudagar yang jujur dan dapat dipercaya akan dimasukkan dalam golongan para nabi, orang-orang jujur, dan para syuhada” (HR. Tirmidzi). Selain itu, kejujuran juga bisa dilihat dari kegiatan marketing yang dilakukan perusahaan.

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Terkini

Keajaiban Shodaqoh

Senin, 11 Oktober 2021 | 11:31 WIB

Refleksi Sufistik Canda Rasulullah SAW

Selasa, 5 Oktober 2021 | 14:18 WIB

Doa Agar tak Mengulangi Kemaksiatan

Minggu, 3 Oktober 2021 | 07:46 WIB

Ajari Diri Berbuat Sabar

Senin, 27 September 2021 | 08:15 WIB

Tantangan Penyuluh Agama Islam di Natuna di Masa Pandemi

Senin, 20 September 2021 | 18:13 WIB

Melajang Itu Pilihan Atau Keterpaksaan?

Senin, 20 September 2021 | 13:21 WIB

Mengapa Saat Buang Hajat Dilarang Mengobrol dan Nyanyi?

Jumat, 17 September 2021 | 07:34 WIB

Lelah yang Berkah

Kamis, 16 September 2021 | 14:50 WIB

Apa Keutamaan Berwudhu Sebelum Tidur?

Selasa, 14 September 2021 | 10:46 WIB

Bolehkah Berjalan di Depan Orang yang Sedang Sholat?

Selasa, 7 September 2021 | 08:56 WIB

Ini Waktu Terbaik untuk Bersedekah

Senin, 6 September 2021 | 08:49 WIB

Wudhu Merontokan Dosa-dosa

Sabtu, 4 September 2021 | 09:52 WIB

Jangan Pernah Pelit dengan Ilmu

Sabtu, 28 Agustus 2021 | 12:01 WIB

Terpopuler

X