Jejak Langkah Kasus Julianto Eka Putra Sang Motivator Pelaku Kekerasan Seksual

- Kamis, 14 Juli 2022 | 10:45 WIB
Julianto Eka Putra. (internet)
Julianto Eka Putra. (internet)

Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur secara resmi menahan Julianto Eka Putra (JEP), terdakwa kasus kekerasan seksual di SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI) Kota Batu, Malang. Pelaku JEP dijebloskan ke Lapas Klas I Lowokwaru, Kota Malang.

Kepala Kejaksaan Jatim, Mia Amiati mengatakan JEP ditangkap dan ditahan setelah diduga beberapa kali melakukan intimidasi terhadap sejumlah korban. Ia memaksa korban untuk tidak bersaksi di persidangan.

"Diintimidasi dengan SMS, WhatsApp. Ada keluarga yang dibujuk diberikan fasilitas sehingga orang tuanya mendatangi dan mengatakan anaknya tidak usah datang ke pengadilan dan mencabut semua kesaksiannya," ujar Mia seperti dikutip Harian Haluan dari CNN, Rabu (13/7/2022).

Dia mengungkapkan jaksa penuntut umum (JPU) sudah berulang kali memohon kepada majelis untuk menahan JEP. Namun, permohonan itu tak kunjung dikabulkan. Surat penetapan melakukan penahanan JEP baru dikeluarkan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri pada Senin (11/7) pagi.

Penangkapan terhadap JEP dilakukan oleh tiga kompi personel Polda Jatim, di kediamannya yang berada di perumahan CitraLand, Surabaya. Adapun kasus dugaan kekerasan seksual oleh JEP pertama kali dilaporkan pada 29 Mei 2021 lalu oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA). Pada 5 Agustus 2021, JEP resmi ditetapkan sebagai tersangka.

Kasusnya mulai disidangkan di Pengadilan Negeri Malang sejak 16 Februari 2022. Kasus kekerasan seksual itu diduga terjadi sejak 2009. Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait mengatakan peristiwa itu dialami para korban saat mereka masih duduk di bangku sekolah.

"Peristiwa itu sejak 2009 pada saat korban berusia 15 tahun. Sampai pada peristiwanya di 2021," ujar Arist.

JEP bahkan diduga juga melakukan tindakan asusila itu terhadap para alumni yang bekerja di SPI. Arist pun mengungkapkan korban tak hanya dilecehkan di kawasan sekolah, tetapi juga saat berada di luar negeri. JEP membawa korban ke luar negeri dengan dalih sebagai hadiah karena dianggap berprestasi.

Para korban dilaporkan menerima berbagai aksi bejat JEP. Mereka diperkosa hingga 10-15 kali dan bentuk tindak kekerasan seksual lainnya.

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pengiriman Calon Pekerja Migran Indonesia Digagalkan

Jumat, 30 September 2022 | 19:49 WIB

Ferdy Sambo Dipindahkan ke Rutan Mako Brimob

Minggu, 25 September 2022 | 13:45 WIB

Waspadalah! Pinjol Ilegal Teror Korbannya dengan Cara Ini

Minggu, 25 September 2022 | 08:01 WIB

Hakim Agung Sudrajad Dimyati Jadi Tersangka Kasus Suap

Sabtu, 24 September 2022 | 07:46 WIB

Duh Teganya! Bayi Laki-laki Dibuang di Rumah Kontrakan

Jumat, 23 September 2022 | 16:32 WIB

Banding Ferdy Sambo Ditolak, Tetap Dipecat dari Polri

Selasa, 20 September 2022 | 08:40 WIB

Tetangga Bacok Bapak dan Anak di Sagulung

Senin, 5 September 2022 | 17:33 WIB
X