Cacat Sejak Lahir, Benarkah Tidak Diketahui Penyebabnya?

- Kamis, 1 September 2022 | 19:37 WIB
Adella Zaskia Raihana. (istimewa)
Adella Zaskia Raihana. (istimewa)

Oleh: Adella Zaskia Raihana, Mahasiswa Kebidanan Akademi Kebidanan Anugerah Bintan

Kecacatan pada bayi baru lahir atau cacat sejak lahir merupakan fenomena yang sampai saat ini masih banyak terjadi di sekitar kita. Tidak sedikit orang tua yang tidak menyadari atau mendeteksi sejak dini mengapa anaknya bisa terlahir cacat.

Bukan perkara mudah bagi orang tua yang kemudian akhirnya harus menerima kenyataan bahwa anaknya terlahir dengan cacat. Namun, apakah sebenarnya kecacatan pada bayi baru lahir ini dapat dicegah dan diketahui penyebabnya sejak janin masih dalam kandungan?

Menurut Kementerian Kesehatan RI, pengertian kelainan kongenital atau cacat lahir adalah kelainan struktural maupun fungsional yang dikenali sejak bayi baru lahir. Ada dua jenis kelainan bayi baru lahir, yakni cacat lahir struktural dan cacat lahir fungsional.

Kelainan struktural adalah masalah yang berhubungan dengan bagian tubuh. seperti contoh kasus bibir sumbing, cacat jantung, clubfoot, spina bifida dll. Sementara yang dikatakan kelainan bayi baru lahir fungsional adalah berhubungan dengan masalah pada fungsi atau sistem anggota tubuh untuk melakukan kerjanya.

Masalah ini sering menyebabkan ketidakmampuan dalam berkembang yang mencakup perkembangan sistem saraf atau masalah pada otak, seperti ditemukan pada penyandang autisme dan Down syndrome. Kondisi kesehatan bayi yang mengalami ini biasanya tergantung dari organ atau bagian tubuh yang terlibat serta tingkat keparahan yang dimilikinya.

Menurut data dari WHO, cacat lahir dialami sekitar 1 dari 33 bayi di dunia. Bahkan, ada sekitar 3,2 juta bayi yang lahir dalam kondisi tidak sempurna di seluruh dunia setiap tahunnya. Dari sekian banyak bayi yang terlahir dengan kelainan kongenital atau bawaan tersebut, sekitar 300.000 bayi meninggal hanya dalam waktu beberapa hari hingga 4 minggu setelah dilahirkan.

Dan di Indonesia sendiri, diperkirakan ada sekitar 295.000 kasus kelainan kongenital per tahunnya dan angka tersebut menyumbang sekitar 7% dari angka kematian pada bayi.

Meski tidak selalu berakibat fatal, bayi yang mampu bertahan hidup dengan cacat lahir biasanya akan mengalami cacat dalam kurun waktu lama yang tentu berdampak pada tumbuh kembangnya. Kelainan kongenital dapat terjadi dalam setiap fase kehamilan.
Namun, sebagian besar kasus kelainan bawaan terjadi pada trimester pertama atau 3 bulan pertama kehamilan, yaitu saat organ tubuh janin baru mulai terbentuk. Kelainan ini bisa terdeteksi pada masa kehamilan, saat bayi dilahirkan, atau selama masa tumbuh kembang anak (Alodokter, 2022).

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Berikut Pemanis Alami yang Menyehatkan

Senin, 26 September 2022 | 08:35 WIB

Pakar: Air Sangat Penting untuk Tubuh

Kamis, 22 September 2022 | 08:43 WIB

WHO Prediksi Fase Pandemi Covid-19 Segera Berakhir

Rabu, 21 September 2022 | 10:36 WIB

Terjangkit Cacar Monyet? Berikut Syarat Isoman

Rabu, 31 Agustus 2022 | 11:13 WIB

Sudah Ada 23 Suspek Cacar Monyet di Indonesia

Sabtu, 27 Agustus 2022 | 11:13 WIB

Dokter Gigi Sangat Dibutuhkan di Indonesia

Sabtu, 20 Agustus 2022 | 16:17 WIB

Benarkah Metode Persalinan Lotus Birth Lebih Efektif?

Senin, 15 Agustus 2022 | 16:06 WIB

Berapa Suhu Terbaik untuk AC?

Minggu, 7 Agustus 2022 | 17:57 WIB
X