Milenialisme dan New Crime

- Selasa, 7 Maret 2023 | 11:58 WIB
H. Muhammad Nasir, S.Ag., M.H. (istimewa)
H. Muhammad Nasir, S.Ag., M.H. (istimewa)

 

Oleh: H. Muhammad Nasir. S.Ag., MH, Kakan Kemenag Lingga

Viralnya berita penganiayaan oleh Mario Dandy Satriyo, anak pejabat Ditjen Pajak Kemenkeu baru-baru ini mengundang banyak perhatian dari berbagai kalangan dan tak terkecuali dari kalangan praktisi pendidikan dan hukum.

Kejadian yang sangat memalukan itu seakan-akan melukai jiwa generasi muda (generasi milenial) yang sedang bangkit menghadapi babak baru kehidupan di masa endemi. Sebagai mewakili kalangan generasi milenial pelaku (MDS ) semestinya memiliki sikap bersahaja karena dibesarkan dalam keluarga yang serba cukup alias keluarga serba ada. Tetapi kenyataannya sangat bertentangan dengan harapan keluarga dan masyarakat.

Istilah milenialisme dipahami sebagai paham kaum muda yang lahir antara tahun 1965-1981 yang dikenal pula dengan generasi X yang memiliki problematika dan tantangan yang sangat komplek yaitu terkait dengan gengsi, terlalu konsumtif, hedonis, tidak ada persiapan, dan berfikir pendek ( Agustinur Mujianti ; 2019 ).

Milenialisme lahir akibat goncangan perubahan modernisasi yang yang sangat cepat melanda banyak asfek kehidupan. Diantara yang sangat mengkhawatirkan adalah kehidupan pemuda yang mana mereka belum siap menerima perubahan. Sebagian meraka tak berdaya dan kalah menghadapi taufan peradaban global sehingga menjungkirbalikan runtuhnya nilai-nilai moral agama dalam kehidupan.

Taufan peradaban global telah meluluh lantakan nilai kemanusiaan di sebagian kalangan pemuda. Mereka telah kehilangan perasaan hiba dan kasih sayang antar sesama. Perasaan lembut telah tercerabut dari dirinya sehingga melakukan kejahatan, pembunuhan, penganiayaan dan banyak lainnya tidak dirasakan lagi sebagai dosa kepada Tuhan. Mario adalah mewakili contoh pemuda yang kita sebutkan. Kenyataan inilah yang kita sebut sebagai faham milenialisme dalam artikel ini.

Kenyataan tersebut telah menjadi sorotan publik dan menjadi saksi nyata bahwa paham milenialisme sedang mengancam generasi muda saat ini. Faham milenialisme yang sebagian orang sangat mengagungkan keberadaannya ternyata telah melahirkan bentuk kejahatan baru atau New Crime yang tak dapat dinafikan.

Kejahatan baru yang dimaksud adalah hilangnya rasa kemanusiaan ( humanity ) di kalangan remaja dan pemuda. Humanity adalah tantangan baru milenialisme yang menjadi musuh kehidupan beragama dan berbangsa. Tantangan milenialisme yang berbentuk humanity menjadi bencana kemanusiaan yang tidak kalah dahsyatnya dengan bencana alam.

Untuk menghadapi bencana tersebut tentu membutuhkan ikhtiaar dan usaha kolaboratif. Kita perlu menyusun strategi dan semangat baru yang lebih komprehensif dan terpadu dengan semua pihak, dimulai dari orang tua, pemerintah, pengelola medsos, dan organisasi agama dan keagamaan lainnya. Sebab itu, melalui jurnal yang singkat ini penulis menawarkan beberapa langkah diantaranya:

Pertama: Merevitalisasi Peran Pemuda
Peran pemuda di era milenial berbeda dengan masa lalu. Diera milenial pemuda dituntut lebih lincah dan egresif untuk menemukan masa depannya. Bakat dan keterampilan serta memperkaya ilmu pengetahuan adalah dasar utama untuk meraih keberhasilan.

Maka jika ada pemuda yang hanya mengandalkan gaya hidup, stile, peformant, keturunannya dan bahkan kekayaan keluarga maka pemuda seperti ini akan dilindas oleh derasnya taufan globalisasi. Masa depan akan hancur dan tidak memiliki makna hidup yang membahagiakan.

Gaya hidup pemuda tidak boleh dipisahkan dengan petunjuk moral dan nilai agama.
Keberagamaan pemuda harus dibangun dan lahir gari kesadaran diri yang paling dalam. Agama harus menjadi sumber insfirasi kehidupannya dalam melakoni gaya hidup modernis sehingga menjadi kultur kehidupan sosial yang santun dan beradab. Peran pemuda tidak hanya sekedar menjalani aksi sosial, ekonomi, budaya dan sebagainya yang banyak dihiyasi dengan gengsi, hedonis dan berfikir pendek tetapi harus di bendung dan dimotivasi dengan kekuatan praktis nilai-nilai agama yang kuat.

Peran pemuda harus didukung dan diperkuat dengan bimbingan agama sebagai peran orang tua dalam menanamkan nilai agama secara terpadu. Hal ini tak dapat dipungkiri bahwa pemuda sebagai pelanjut generasi lebih akrab dengan orang tua dalam keluarga. Mereka sebagai partner terdekat yang mempengaruhi jiwa muda yang sedang berkembang, sementara agama menjadi tuntunan praktis dalam perilaku. Dari peran tersebut setidaknya kita terhindar dari ancaman milenialisme global yang menakutkan.

Allah swt telah mengingatkan bahwa anak, istri dan hartamu adalah fitnah yang menakutkan ( Surat Al-Anfal : 28 dan surat At-Taghabun 15 ).

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Gempa M6,0 Guncang Maluku Barat Daya

Minggu, 4 Juni 2023 | 08:36 WIB

Gempa M4,2 Guncang Wilayah Bengkulu Utara

Jumat, 2 Juni 2023 | 08:28 WIB

DKPP Sidak Soal Masuknya Sapi Ilegal ke Batam

Rabu, 31 Mei 2023 | 09:16 WIB

Gempa M5,3 Guncang Kepulauan Mentawai

Rabu, 31 Mei 2023 | 08:38 WIB

Gempa M5,8 Guncang Maluku Tenggara Barat

Minggu, 28 Mei 2023 | 08:58 WIB

Gempa M4,3 Guncang Pariaman Sumbar

Jumat, 26 Mei 2023 | 08:43 WIB

Johnny G Plate Diberhentikan sebagai Menkominfo

Sabtu, 20 Mei 2023 | 13:17 WIB

Iringan Atlet SEA Games 2023 Disambut Meriah

Jumat, 19 Mei 2023 | 10:52 WIB
X