NU dan Tantangan Perubahan

- Rabu, 12 Januari 2022 | 15:38 WIB
H. Muhammad Nasir. S.Ag., MH. (haluankepri.com)
H. Muhammad Nasir. S.Ag., MH. (haluankepri.com)

Oleh: H. Muhammad Nasir. S.Ag., MH, Kakan Kemenag Lingga

Muktamar ke-34 Nahdhatul Ulama (NU) pada Desember 2021 lalu menghasilkan terpilihnya KH. Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum PBNU periode 2021-2026.

Sebagai lembaga keulamaan, NU tidak diragukan lagi eksistensinya. Kiprah dan dakwahnya dalam membina dan mengedukasi umat dalam berbagai fatwanya sudah tak diragukan. Begitupun dengan para Nahdhiyin atau ulama yang ada di dalamnya, mereka adalah para ulama yang diakui kredibilitasnya dan dicintai umatnya.

Secara konsepsional memang ulama NU bukanlah yang lahir begitu saja tanpa proses seleksi sosial, sehingga umat menyandangkan gelar sesuai tugas fungsi keilmuan yang dikuasainya. Para ulama adalah seorang ilmuan yang memiliki wawasan keilmuan dibidangnya seperti ahli tafsir, ahli hadits, ahli hukum dan ahli fiqih dan sebagainya.

Karena wawasan keilmuan itu sangatlah luas, maka para ulama dituntut pula menguasai bidang keilmuan lain seperti ilmu eksakta, sejarah, politik, sosial budaya, ekonomi dan ilmu lainnya yang terus berkembang saat ini. Mereka yang memiliki wawasan dan keahlian seperti itu lalu mengamalkannya, maka mereka kita sebut dengan alim.

Saat ini umat Islam sedang berada dalam era perubahan global. Umat sedang membutuhkan teladan dan panduan yang nyata dalam sikap hidup beragama. Umat Islam sangat memdambakan ulama yang alim dan mampu memandu perjalanan hidup berbangsa dan beragama dengan keteladanan yang baik. Apalagi ditengah kehidupan umat yang semakin hari semakin semu dan rumit dengan tantangan baru yang dihadapi.

Umat Islam telah dikenal sebagai ummatan wasatha (umat terbaik, pertengahan dan adil). Sebab itu NU dengan para ulamanya harus tampil menunjukkan kiprahnya yang inovatif dalam satu misi dan tujuan yaitu membangun umat terbaik secara utuh dalam kehidupan berbangsa dan beragama.

Dalam khazanah pemikiran Islam di Indonesia, ulama memiliki posisi yang sangat sentral dan strategis. Posisi tersebut tercipta karena keahlian yang mereka miliki yaitu ilmu agama, dan agama itu sendiri memiliki potensi untuk berperan menumbuhkan pandangan hidup yang benar.

Agama (baca: Islam) juga menjadi sumber perilaku dan nilai bagi para pemeluknya. Ulama adalah orang-orang yang tertanam akarnya dalam masyarakat dan tumbuh dari dan di tengah masyarakat. Ini menunjukkan bahwa para ulama sebenarnya berpotensi besar untuk berhasil membentuk suatu masyarakat dengan sistem nilai dan tatananya yang kokoh.

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Terkini

Nama Ibukota Baru, Menteri PPN: Nusantara

Senin, 17 Januari 2022 | 19:49 WIB

Gempa Sukabumi, BMKG: Memiliki Mekanisme Thrust Fault

Senin, 17 Januari 2022 | 09:51 WIB

Gempa Magnitudo 5,4 Guncang Banten

Senin, 17 Januari 2022 | 08:57 WIB

BMKG Perbarui Data Gempa Banten. Ini Penjelasannya

Sabtu, 15 Januari 2022 | 12:26 WIB

Gempa Magnitudo 5,0 Guncang NTB Dinihari Tadi

Sabtu, 15 Januari 2022 | 08:21 WIB

Sejumlah Fakta Gempa Banten Berkekuatan Magnitudo 6,7

Jumat, 14 Januari 2022 | 19:45 WIB

NU dan Tantangan Perubahan

Rabu, 12 Januari 2022 | 15:38 WIB

Gunung Semeru Dua Kali Gempa Letusan Pagi Tadi

Rabu, 12 Januari 2022 | 11:32 WIB
X