NU dan Tantangan Perubahan

- Rabu, 12 Januari 2022 | 15:38 WIB
H. Muhammad Nasir. S.Ag., MH. (haluankepri.com)
H. Muhammad Nasir. S.Ag., MH. (haluankepri.com)

Predikat ulama memberikan konsekuensi bahwa ia adalah figur moral, anutan nilai, berwatak sosial, serta orang yang mampu memberikan suri tauladan yang baik. Karena itulah mereka kemudian disebut sebagai warasatul ambiya (pewaris para Nabi). Posisi diatas, mengharuskan mereka para ulama memberikan penjelasan terhadap kenyataan-kenyataan sosial terkini dan yang akan datang melalui gerakan penyadaran umat.

NU sebagai organisasi yang independen memiliki potensi yang sangat kuat untuk melakukan dinamisasi peran dan fungsinya melalui jaringan ulama secara terpadu. NU memiliki ulama panutan umat yang dapat bangkit dan melindungi umat dari berbagai belenggu godaan kehidupan.

Banyak godaan yang bermunculan di pentas kehidupan beragama. Seiring dengan lajunya perkembangan sosial dari berbagai bidang yang telah merambah masuk dalam tata kehidupan beragama, sehingga umat membutuhkan benteng yang kuat untuk mencegah terkontaminasi godaan yang sangat bervariatif dan merugikan. Diantara contoh godaan yang paling mengkhawatirkan adalah godaan politik kekuasaan, godaan kedudukan dan banyak lainnya.

Sebagai organisasi keulamaan, saat ini NU sangat dituntut melakukan pembaharuan dalam kiprah dakwah di tengah umat. Hal ini utamanya dalam memperkokoh kesadaran Islam dan nasionalisme kebangsaan dengan penyebaran ide pembaharuan secara luas, serta mempromosikan penggunaan ilmu praktis dari pengetahuan modern. Untuk itu beberapa langkah konkrit yang dapat dikembangkan diantaranya adalah:

Pertama: Memperteguh kesadaran umat melalui gerakan pembelajar.
Era baru yang sedang kita hadapi adalah era disrupsi yang penuh perubahan dan tantangan. Di era ini sangat membutuhkan umat yang cerdas, baik intelektual, emosional maupun moral.

Umat harus mampu membaca perubahan yang terjadi dengan kaca mata iman yang mendalam. Untuk itu kesadaran umat harus dibangun melalui gerakan pembelajar. Gerakan pembelajar merupakan kesadaran intelektual yang mesti tumbuh dalam berorganisasi maupun dalam bermasyarakat. Gerakan ini dapat menjadi solusi menghadapi tantangan baru yang sedang kita hadapi.

Isu-isu kontemporer akibat inovasi global sangat membutuhkan kesadaran intelektual secara terpadu sehingga umat memiliki daya transformasi. Membangun kesadaran umat adalah meneguhkan integritas secara praksis dengan mencontohkan nilai-nilai moral islam.

Nilai-nilai moral itu tidak lain meneguhkan komitmen dalam membuktikan iman propetik dalam bermasyarakat dan beragama. Iman propetik tercermin dalam sifat kenabian seperti; Ashiddiq, amanah, fathonah dan tablig. Keempat sifat tersebut harus dijadikan energy gerakan kesadaran yang akan menghasilkan inovasi-inovasi monumental yang bermanfaat dan adaptif terhadap perubahan.

Menurut Dr. Quraish Shihab (1998) terdapat empat tugas utama yang dapat dijalankan oleh para ulama sesuai dengan tugas kenabian, yaitu:

1. Menyampaikan (tabligh) ajaran-ajaraNya, seseuai dengan perintah-Nya, ”Wahai Rasul sampaikanlah apa-apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. (QS al-Maidah/5;67)

2. Menjelaskan ajaran-ajarannya berdasarkan ayat, “Dan kami turunkan alKitab kepadamu untuk kamu jelaskan kepada manusia.” (QS.an-Nahl/16; 44)

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Terkini

Gempa M6,2 Landa Nias, BMKG: Gempa Dangkal

Kamis, 26 Mei 2022 | 10:00 WIB

Ribuan Orang Terjebak Banjir Rob di Semarang

Selasa, 24 Mei 2022 | 09:05 WIB

Nyam-Nyam! Solok Selatan Sumbar Panen Durian!

Minggu, 22 Mei 2022 | 14:45 WIB

Achmad Yurianto Wafat karena Kanker Usus

Minggu, 22 Mei 2022 | 08:59 WIB

Sahabat UAS Pekanbaru Gelar Aksi Damai

Sabtu, 21 Mei 2022 | 06:32 WIB
X