Local Wisdom dan Budaya Keagamaan Perspektif Kepri

- Jumat, 21 Januari 2022 | 11:44 WIB
H. Muhammad Nasir. S.Ag., MH. (haluankepri.com)
H. Muhammad Nasir. S.Ag., MH. (haluankepri.com)

Kearifan lokal dan budaya keagamaan harus dikelola dengan baik. Jika tidak, dapat dipastikan akan mengganggu kerukunan beragama sehingga toleransi umat beragama menjadi lentur.

Baca Juga: Liverpool ke Final Piala Liga Inggris Usai Tundukan Arsenal 2-0

Nilai agama yang telah menjadi budaya bangsa jangan sampai terbentur dengan nilai tradisi yang sudah tertanam kuat dalam masyarakat di Nusantara. Untuk itu berbagai krisis yang bernuansa etnis, tradisi, budaya dan agama akhir-akhir ini sudah cukup sebagai bukti, dan ini merupakan wake up call bagi kita, untuk melakukan langkah-langkah perubahan yang drastis dalam memposisikan agama dan kearifan local di Nusantara.

Kita tentu tidak setuju dengan paham sekularisme dalam arti meremehkan, mempersempit dan meniadakan sama sekali peran agama. Tetapi jika sekularisasi dipahami sebagai pembagian kerja, sebagai petunjuk kebenaran dan kekuasaan serta memperjelas antara wilayah budaya dan tradisi dan wilayah peran agama, maka model itu sangatlah bijak untuk bangsa majemuk di Indonesia. Dengan begitu jika terjadi konflik keagamaan maka penyelesainnya menjadi rasional, obyektif, bukan berdasarkan ediologi dan emosi mayoritas-minoritas.

Kearifan lokal sesungguhnya merupakan asset budaya dan asset politik yang dapat menciptakan jalinan dialektis serta saling isi mengisi antara agama dan budaya di Indonesia.

Selama ini kehadiran agama telah menjadi kohesi dan identitas sosial bagi masyarakat. Ini tentu menjadi bukti nyata bahwa agama dan kearifan lokal pada dasarnya saling membutuhkan dan secara kreatif telah memperkaya mozaik peradaban Indonesia.
Sayangnya kreativitas ini kurang dikembangkan dan dipelihara karena bangsa ini terlalu sibuk dengan konflik politik dan kepentingan serta mabuk pembangunan.

Selain itu yang sangat dikhawatirkan adalah keterlibatan agama dalam tradisi politik berbangsa yang tidak bijak. Hal ini dapat diperparah ketika agama justru terlalu jauh terlibat dalam perebutan kekuasaan politik yang berlangsung secara uncivilized (Dr, Komaruddin Hidayat: 2003).

Ditambah lagi oleh gelombang modernisasi-globalisasi dan demokratisasi yang telah membuka peluang bagi kebangkitan kelompok-kelompok tradisi agama dan budaya yang menggunakan simbol agama untuk kepentingan kelompok.

Dalam situasi demikian yang kita perlukan adalah sebuah gerakan keagamaan dan kebudayaan yang memiliki misi emansipatoris dan perdamaian, bukan panggung agama dan sinetron yang menawarkan mimpi, pelarian dan kesejukan sesaat, sementara kondisi masyarakat tidak berubah dan tidak tergerakkan oleh aktivitas mereka.

Kita setuju dan dan mendukung pluralitas ekspresi budaya dan agama, tetapi hendaknya memiliki misi yang sama yaitu pemberdayaan dan pencerahan masyarakat dalam rangka memperkuat posisi civil society sebagai kekuatan kritik terhadap negara demi terwujudnya masyarakat yang demokratis, berkeadilan dan beradab.

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sastra dan Dunia Anak Saling Menyentuh

Selasa, 28 Juni 2022 | 19:10 WIB

Izin 12 Outlet Holywings di Jakarta Dicabut

Selasa, 28 Juni 2022 | 13:33 WIB

Pemprov DKI Diminta Cabut Izin Holywings

Minggu, 26 Juni 2022 | 12:17 WIB

Tenaga Honorer Dihapus, Satpol PP Batam Resah

Rabu, 22 Juni 2022 | 19:07 WIB
X