Local Wisdom dan Budaya Keagamaan Perspektif Kepri

- Jumat, 21 Januari 2022 | 11:44 WIB
H. Muhammad Nasir. S.Ag., MH. (haluankepri.com)
H. Muhammad Nasir. S.Ag., MH. (haluankepri.com)

Pembinaan ini dapat dilakukan dengan sosialisasi pengembangan wawasan kerukunan keluarga dalam masyarakat. Dalam hidup berkeluarga ditanamkan bahwa kehidupan merupakan anugerah Allah SWT yang tidak hanya dimiliki oleh diri sendiri melainkan juga dimiliki oleh orang lain.

Dalam keluarga, anak-anak, orang tua dan anggota keluarga lainnya tidak dapat hidup tanpa kehadiran orang lain. Dengan demikian keberadaan orang lain merupakan rahmat bagi tegaknya kerukunan beragama.

Disamping itu untuk memperkuat bangunan kerukunan pada tingkat strata dan relasi sosial masyarakat, dikembangkan pula pola pembinaan terpadu melalui berbagai kegiatan sosialisasi dan upaya kerja nyata pada setiap kalangan masyarakat, diantaranya di kalangan pelajar dan mahasiswa, kalangan pemuda dan tokoh agama. Pembinaan terpadu ini dilakukan secara terprogram dan berkelanjutan baik dilakukan melalui APBN ataupun melalui subsidi Pemerintah Daerah melalui APBD.

Hasrat masyarakat Kepri untuk hidup rukun merupakan cita-cita yang sangat kuat. Upaya kearah itu pemerintah bersama umat beragama secara integral menyatu padu dalam bertindak dan berbuat dengan menyusun rencana dan strategi agar rencana pembangunan agama khususnya membangun kerukunan benar-benar terwujud dan dapat dirasakan oleh segenab umat beragama.

Disamping empat hal pokok diatas Kerukunan umat beragama di Kepri diharapkan berkembang mulai dari tatanan kehidupan keluarga, di kalangan pelajar dan mahasiswa, di kalangan tokoh agama dan masyarakat serta di kalangan masyarakat umumnya dan dengan harapan tumbuh dan berkembang sampai kepada tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Disamping itu Kepulauan Riau juga kaya dengan nilai-nilai keadaban yang bersifat melayuistik. Diantaranya nilai yang terkandung dalam berbusana melayu, nilai bersyair dan berpantun, nilai bertepung tawar dan banyak yang lainnya.

Sebagian nilai-nilai tersebut disinyalir masih terpendam dalam bingkai sejarah yang kaku tanpa daya. Hal ini telah menjadi perhatian serius dari berbagai kalangan. Maka saat ini ibarat teori energy dalam ilmu fisika nilai keadaban tersebut tak obahnya seperti energy kinetic (energy diam dan statis) yang harus diubah menjadi energy potensial (energy bergerak dan berkembang). Sehingga endapan nilai yang ada di dalamnya dapat menjadi sebuah kekuatan untuk merajut idealisme moral secara utuh dan menjadi ciri dan kepribadian masyarakat Kepri.

Idealisme moral yang utuh dapat tumbuh dalam masyarakat dengan ikatan agama yang kuat. Cerminan agama yang kuat itu dapat dikembangkan dengan membangun faham agama yang ideal pula. Untuk mewujudkan kedua idealisme tersebut masyarakat harus memiliki faham agama yang luas dan moderat. Sesuai dengan program Nasional Pengarus Utamaan Moderasi Beragama , maka Kepulauan Riau telah mengambil langkah pendekatan baru yaitu dengan memperkuat faham moderasi beragama.

Moderasi beragama adalah faham dan sikap beragama yang seimbang antara pengamalan agama sendiri (eksklusif) dan penghormatan kepada praktik beragama orang lain yang berbeda keyakinan (inklusif). Karena diyakini bahwa keseimbangan atau jalan tengah dalam praktik beragama niscaya akan menghindarkan masyarakat dari sikap ekstrem berlebihan, fanatik dan sikap revolusioner dalam beragama. Seperti telah banyak di bicarakan oleh para ahli agama. Moderasi beragama merupakan solusi atas hadirnya dua kutub ekstrem dalam beragama, kutub ultra­konservatif atau ekstrem kanan di satu sisi dan liberal atau ekstrim kiri disisi lain.

Pilihan pada moderasi dengan menolak ekstremisme dan liberalisme dalam beragama menjadi kunci keseimbangan, demi terpeliharanya peradaban dan terciptanya perdamaian. Dengan cara inilah masing­masing umat beragama di Kepulauan Riau dapat memperlakukan orang lain secara terhormat, menerima perbedaan, serta hidup bersama dalam damai dan harmoni. Dalam masyarakat Kepulauan Riau, moderasi beragama bukan pilihan melainkan kemestian.

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sastra dan Dunia Anak Saling Menyentuh

Selasa, 28 Juni 2022 | 19:10 WIB

Izin 12 Outlet Holywings di Jakarta Dicabut

Selasa, 28 Juni 2022 | 13:33 WIB

Pemprov DKI Diminta Cabut Izin Holywings

Minggu, 26 Juni 2022 | 12:17 WIB

Tenaga Honorer Dihapus, Satpol PP Batam Resah

Rabu, 22 Juni 2022 | 19:07 WIB
X