Local Wisdom dan Budaya Keagamaan Perspektif Kepri

- Jumat, 21 Januari 2022 | 11:44 WIB
H. Muhammad Nasir. S.Ag., MH. (haluankepri.com)
H. Muhammad Nasir. S.Ag., MH. (haluankepri.com)

Keempat, Gurindan Dua Belas sebagai Modal Kerukunan.
Masyarakat Melayu sudah terkenal dengan bangsa yang cinta hikmah terutama dengan petuah-petuah dan bahasa sya’ir yang sarat makna. Diantara petuah yang sarat akan makna itu yang banyak dikenal adalah Gurindam Dua Belas Karya Raja Ali Haji.

Gurindam Dua Belas merupakan salah satu untaian hikmah seorang raja untuk membangun peradaban Melayu melalui bahasa dan kata. Hikmah yang tertuang dalam Gurindam Dua Belas adalah nilai-nilai moral yang sejalan dengan nilai agama.

Salah satu bahasa hikmah yang memberikan makna dalam moderasi beragama adalah sebagaimana yang terdapat pada pasal ke lima yaitu :
“Jika hendak mengenal orang berbangsa, lihat pada budi dan bahasa. Jika hendak mengenal orang yang berbahagia, sangat memeliharakan yang sia-sia. Jika hendak mengenal orang mulia, lihatlah kepada kelakuan dia….”

Dalam hikmah tersebut terdapat makna tentang orang yang dapat dianggap memiliki sikap kebangsaan. Sikap itu tercermin dalam budi dan bahasa seseorang. Orang berbudi bahasa yang baik tidak akan membedakan seseorang berdasarkan suku dan agama. Orang berbudi bahasa dapat diterima oleh siapa saja dan bangsa mana saja karena sikap dan perilakunya yang santun dan bersahaja.

Sikap ramah tamah yang terpatri dalam ucapan dan perbuatan yang tidak mengenal perbedaan. Mereka adalah orang-orang yang berbangsa, bukan orang-orang yang berdiri dalam kelompok kecil yang tersekat oleh perbedaan. Itulah komitmen mereka yaitu komitmen untuk hidup dalam kebersamaan sebagai komitmen dalam mengembangkan dan mempraktekan wawasan kebangsaan dalam cinta tanah air dan NKRI.

Dengan demikian kearifan lokal dan budaya keagamaan sebagai nilai-nilai luhur universal dapat menjadi dasar memperkokoh kerukunan beragama, wawasan kebangsaan yang berbasis melayuisme tercencermin dalam cara pandang, sikap, dan praktik beragama dan praktek bernegara dengan menunjukkan kesetiaan pada konsensus dasar negarayaitu Pancasila sebagai dasar negara.

Disamping Gurindam Dua Belas menjadi modal sosial yang dapat menjadi perekat komitmen kebangsaan masyarakat melayu dengan sikap hidup dalam keadilan dan keseimbangan baik dalam beragama maupun berbudaya.

Sebagaimana dikatakan :” Apabila banyak berlebih-lebihan suka, itulah tanda hampirkan duka” ( pasal ke 7 ). Sikap berlebihan adalah musuh moderasi yang dibencihihi di Kepulauan Riau dan tidak dapat diterima dalam perilaku orang malayu. Sikap berlebihan dalam kehidupan beragama akan mendatang maslahat dan mafsadat dapat membawa kerusakan bagi pelakunya, karena itulah moderasi beragama merupakan pilihan masyarakat melayu dalam tata santun di dalam pergaulan masyarakat Kepri. ***

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sastra dan Dunia Anak Saling Menyentuh

Selasa, 28 Juni 2022 | 19:10 WIB

Izin 12 Outlet Holywings di Jakarta Dicabut

Selasa, 28 Juni 2022 | 13:33 WIB

Pemprov DKI Diminta Cabut Izin Holywings

Minggu, 26 Juni 2022 | 12:17 WIB

Tenaga Honorer Dihapus, Satpol PP Batam Resah

Rabu, 22 Juni 2022 | 19:07 WIB
X