Meneroka Peluang dan Tantangan Penerapan Paradigma Pemikiran Modern dalam Dunia Pendidikan Islam

- Jumat, 28 Januari 2022 | 19:35 WIB
Umar Natuna. (haluankepri.com)
Umar Natuna. (haluankepri.com)

Oleh: Umar Natuna, Mahasiswa Program Doktor PAI UMM Malang

Salah satu varian pemikiran dalam Islam (tradisionalis, skriptutalis dan subsansial, ideologis, sekular, neo-modernis) adalah pemikiran modern. Yaitu suatu corak pemikiran Islam yang lebih berorientasi atau mempertimbangkan kondisi dan tangan kekinian, dan kurang melibatkan atau mempertimbangan produk masa lalu atau klasik sebagai rujukan dalam menjawab berbagai tantangan kehidupan umat Islam.

Selain itu, pemikiran modern dalam Islam seringkali tidak sabar dalam menekuni dan mencermati hasil-hasil atau produk pemikiran Islam masa lalu, dan cenderung potong kompas dalam menjawab atau menyelasikan masalah yang dihadapi dengan mengandal akal pemikiran dan pengalaman empiris.

Dalam pengembanganya, pemikiran modern lebih bersifat progresif, dinamis, bebas dan lincah dalam melakukan modifikasi.

Dalam pada itu, pendidikan Islam sebagai manifestasi keimanan kepada Allah SWT yang ditransformasi ke dalam ranah pengetahuan, sikap dan keterampilan bagi peserta didik agar kemudian ia menjadi umat yang terbaik di dunia dan akhirat, secara teori dan praktik selalu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu.

Karena pendidikan Islam tidak hanya bersumber pada waktu, melainkan juga didasari pada akal atau nalar yang berbasis pada akal dan pengalaman empiris. Keterpaduan antara akal dan wahyu ini merupakan karaktristik pendidikan Islam. (Metrapi, 2018)

Dalam kajian pemikiran Islam, beberapa pakar mengemukakan paling tidak ada tiga corak berpikir dalam menjawab berbagai persoalan yang dihadapi umat Islam. Pertama, kelompok yang berusaha membangun paradigma pendidikan selain berbasis Al-Quran dan al-hadis sebagai landasan utama, juga mempertimbangkan tradisi para sahabat dan produk masa lalu Islam.

Kedua, kelompok atau paradigma yang hanya mendasari pada Al-Quran dan Hadis semata sebagai dasar utama dalam pengembangan konsep pendidikan.

Ketiga, adalah kelompok atau paradigma selain berlandaskan Al-Quran dan Hadis juga mengambil apa apa yang baik yang ada di dunia Barat, atau disebut kaum modernis.
Atau dalam terminologi lain kita mengenal bermacam ragam corak, ada pemikiran pendidikan Islam bersifat tekstual salafi, tradisional mazhabi, model pemikiran neomodernis dan pemikiran modernis itu sendiri.

Penulis dalam kaitan ini mengambil salah satu dari beragam corak pemikiran pendidikan tersebut, yakni pemikiran modernis. Pilihan dikarenakan, pemikiran modern ini dewasa ini banyak diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, terutama dalam dunia pendidikan. Yang menjadi fokus dalam bahasan ini, apa saja keistimewaan atau plusnya paradigma pemikiran modernis jika diterapkan dalam pengembangan pendidikan Islam.

Selain itu juga akan dibahas tentang minusnya atau kelemahannya paradigma pemikiran modernis bagi dunia pendidikan Islam.

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Buya Syafii Maarif Wafat, Ini Profilnya

Jumat, 27 Mei 2022 | 11:30 WIB

Anak Ridwan Kamil Hilang di Sungai Aaree Swiss

Jumat, 27 Mei 2022 | 11:21 WIB

Gempa M6,2 Landa Nias, BMKG: Gempa Dangkal

Kamis, 26 Mei 2022 | 10:00 WIB

Ribuan Orang Terjebak Banjir Rob di Semarang

Selasa, 24 Mei 2022 | 09:05 WIB
X