Angka Perceraian Indonesia Tertinggi di Asia Afrika, Apa Penyebabnya?

- Sabtu, 18 Juni 2022 | 10:15 WIB
(harianhaluan.com)
(harianhaluan.com)

Angka perceraian di Indonesia masih tertinggi di Asia Afrika yaitu sekitar 28 persen dari angka perkawinan.

Hal ini diungkap oleh Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah diwakili Kasubdit Bina Keluarga Sakinah, Agus Suryo Suripto.

"Faktor paling tinggi penyebab perceraian itu masalah ekonomi dan Indonesia sedang menghadapi empat permasalahan besar terkait keluarga yaitu masalah nikah kawin anak, dimana ini masih sangat masif di Indonesia, ada sekitar 4 persen dari total jumlah pernikahan dari 1 juta lebih," ujarnya saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Fasilitator Bimwin Calon Pengantin, Rabu 15 Juni 2022 lalu.

Ia menjelaskan masalah kedua adalah stunting yaitu anak-anak yang menikah di usia yang belum dewasa beresiko sekali melahirkan anak anak yang stunting dan masalah ketiga yaitu kemiskinan ekstrim.

"Orang miskin berupaya untuk menghilangkan kemiskinan dengan mengurangi tanggungjawab ekonomi keluarga dengan cara menikahkan anaknya sedini mungkin sehingga tanggungjawabnya berkurang," katanya didampingi Subkoordinator Kepenghuluan dan Fasilitasi FBKS, Syafalmart yang bertindak sebagai moderator.

"Tahun 2010 angka perceraian masih sangat rendah sekitar 4 sampai 6 persen. Itupun cerai talak pihak suami yang mengajukan perceraian. Dan pada 2013 sejak pemerintah mengeluarkan sertifikasi, kasus perceraian meningkat dengan kondisi perempuan sudah merasa mampu mengurus dirinya sendiri sehingga 93 persen diantaranya cerai gugat, diajukan oleh istri," ujarnya.

Menurutnya, ada banyak problema keluarga yang terjadi dan sebagian besar berujung pada perceraian, diantaranya kasus perceraian di pengadilan yang didominasi oleh pertengkaran, ekonomi, penelantaran, kekerasa, ketiadaan tanggungjawab dan sebagainya.

"Kedua, masih tinginya angka permohonan dispensasi kawin (di bawah umur) dan paling tinggi terjadi di Provinsi Jawa Timur disusul Jawa Tenggah dan Jawa Barat, sementara Sumatera Barat, masih berada pada posisi sembilan," kata Suryo.

Selanjutnya dikatakannya, angka perkawinan anak belum menunjukkan penurunan yang siginifikan bahkan meningkat pasca pengesahan UU No 16 tahun 2019 yang menaikkan usia kawin perempuan menjadi 19 tahun.

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sastra dan Dunia Anak Saling Menyentuh

Selasa, 28 Juni 2022 | 19:10 WIB

Izin 12 Outlet Holywings di Jakarta Dicabut

Selasa, 28 Juni 2022 | 13:33 WIB

Pemprov DKI Diminta Cabut Izin Holywings

Minggu, 26 Juni 2022 | 12:17 WIB

Tenaga Honorer Dihapus, Satpol PP Batam Resah

Rabu, 22 Juni 2022 | 19:07 WIB
X