Sastra dan Dunia Anak Saling Menyentuh

- Selasa, 28 Juni 2022 | 19:10 WIB
Rina Devianty, S.S., M.Pd, Dosen FITK UIN Sumatera Utara Medan. (istimewa)
Rina Devianty, S.S., M.Pd, Dosen FITK UIN Sumatera Utara Medan. (istimewa)

Oleh: Rina Devianty, S.S., M.Pd, Dosen FITK UIN Sumatera Utara Medan

Sudah selayaknya orang tua senantiasa bersyukur atas anugerah anak yang diberikan Allah SWT. Karunia itulah kita rawat, jaga, membesarkan, dan mendidik anak dengan kasih sayang dan penuh tanggung jawab agar anak tersebut bisa menjadi anak yang berkarakter mulia dan menjadi kebanggan orang tua.

Salah satu alternatif pembelajaran yaitu lewat karya yang didongengkan atau diceritakan kepada anak. Lewat dongeng, orang tua dapat mengajarkan tentang perbedaan karakter tokoh yang jahat, ramah, baik, ataupun durhaka yang dapat diaplikasikan langsung dengan mengumpamakan anak itu sebagi contohnya.
Tidak lupa mereka akan berpesan kepada anaknya untuk menjadi anak yang baik dan taat pada orang tua.

Contohnya, apabila diceritakan mengenai legenda Malin Kundang, orang tua akan memberikan nasihat atau pesan moral agar jangan mencontoh sifat Malin Kundang yang tidak baik karena telah durhaka kepada ibunya.

Anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter jika tumbuh di lingkungan yang berkarakter. Orang tua atau guru tidak boleh sembarangan mendidik anak.
Mendidik anak harus memiliki ilmu. Mengingat lingkungan anak bukan saja lingkungan keluarga yang sifatnya mikro, maka semua pihak, seperti keluarga, sekolah, masyarakat, media, fasilitas dan sebagainya turut andil dalam perkembangan karakter anak. Dengan kata lain, mengembangkan generasi penerus bangsa yang berkarakter baik adalah tanggung jawab semua pihak.
Tentu saja hal ini tidak mudah, oleh karena itu diperlukan kesadaran dari semua pihak bahwa pendidikan karakter merupakan tugas yang sangat penting untuk dilakukan segera. Terlebih melihat kondisi karakter bangsa saat ini yang memprihatinkan serta kenyataan bahwa manusia tidak secara alamiah (spontan) tumbuh menjadi manusia yang berkarakter baik.

Ada tiga proses yang sangat berpengaruh dalam sosialisasi dunia anak-anak.
Pertama, proses hadiah dan hukuman.
Orang tua/orang dewasa kerap kali memberikan hadiah kepada anak atas prilaku yang baik. Sebaliknya, mereka memberi hukuman atas prilaku yang tidak baik. Hal ini bermakna, anak disuruh melakukan hal-hal yang baik dan melarang melakukan hal-hal yang tidak baik.

Kedua, proses imitasi/peniruan. Anak- anak meniru/mencontoh prilaku atau respons orang dewasa atau teman sebaya. Pada masa ini anak belajar tentang prilaku yang diterima dalam masyarakat.

Ketiga, proses identifikasi, yaitu proses yang menuntut ikatan emosional dengan model-model yang ada. Anak-anak menginginkan agar pikiran, perasaan, dan sifat-sifat mereka sama dengan model yang disukai. Oleh karena itu dalam karya sastra yang dipilih untuk anak-anak hendaknya menampilkan tokoh model yang dapat membawa anak-anak ke arah yang lebih baik.

Sejak dini anak-anak harus sudah mulai dibiasakan dan diajarkan hal-hal positif sehingga hal-hal positif itu nanti yang akan mengasah intelektual dan moral mereka jika dewasa nanti.

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Gempa M5,1 Guncang Bengkulu, Berikut Penjelasan BMKG

Minggu, 7 Agustus 2022 | 12:18 WIB

PWI Sumbar Sementara Dikomandoi Plt

Jumat, 5 Agustus 2022 | 08:37 WIB

Gempa M 4,9 Guncang Tapanuli Tengah Sumut

Selasa, 2 Agustus 2022 | 08:11 WIB

KPU Buka Pendaftaran Parpol Mulai Hari Ini

Senin, 1 Agustus 2022 | 09:04 WIB

Gempa M5,6 Guncang Aceh

Minggu, 31 Juli 2022 | 12:03 WIB

Gunung Ibu di Maluku Utara Erupsi

Minggu, 31 Juli 2022 | 06:33 WIB
X