Mahalnya Kejujuran Hukum

- Selasa, 16 Agustus 2022 | 20:06 WIB
H. Muhammad Nasir. S.Ag., MH. (haluankepri.com)
H. Muhammad Nasir. S.Ag., MH. (haluankepri.com)


Oleh: H. Muhammad Nasir, S.Ag., M.H., Kakan Kemenag Lingga

Peristiwa pembunuhan Brigadir Joshua Hutabarat baru-baru ini di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo merupakan peristiwa yang memilukan dan memalukan bangsa Indonesia khususnya di kalangan para penegak hukum.

Mengapa tidak. Peristiwa itu terjadi dilakoni oleh para penegak hukum itu sendiri. Ibarat pepatah mengatakan “menepuk air di dulang terpercit muka sendiri”. Peristiwa itu telah mengundang banyak perhatian banyak kalangan sehingga Presiden RI, Jokowi memerintahkan agar kasus kejahatan tersebut segera diungkap dengan jelas dan tuntas.

Memang kejahatan dapat terjadi dimana-mana dan kapan saja. Selagi manusia masih terus berinteraksi dan beraktivitas dalam kehidupan sosialnya ataupun dalam kehidupan pribadinya, selama itu pula peluang dan kesempatan tersedia untuk terjadinya kejahatan. Namun, dikalangan penegak hukum selalu mengingatkan bahwa kejahatan dapat terjadi ketika ada niat dan kesempatan. Sebab itu “waspadalah-waspadalah”, begitu pesan bang Napi.

Tragedi pembunuhan merupakan kejahatan hukum yang bertentangan dengan norma dan nilai-nilai kemanusiaan. Ia tidak saja merugikan kehidupan manusia secara pribadi tetapi juga merugikan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebab itulah penegakan hukum suatu negara harus bersifat pasti dan adil dengan tidak melihat siapa pelakunya. Apakah orang kaya atau miskin, seorang pejabat atau masyarakat biasa, sama dihadapan hukum.

Namun, prinsip etika juga mengajarkan jika yang melanggar hukum itu seorang pemimpin atau penegak hukum itu sendiri, maka hukumannya dapat diberikan berlipat ganda adanya.

Kejahatan merupakan realitas individual dan kolektif. Faktor-faktor sosial dan psikologis selalu terlibat di dalamnya. Godaan individual (nafsu serakah) untuk berprilaku destruktif muncul dalam berbagai bentuk. Begitupun dengan kejahatan pembunuhan, ia dapat menimpa siapa saja tanpa pandang bulu.

Nah, jika kita belajar dari kasus diatas, yang mana kesimpulan penyelidikan mengatakan, bahwa terdapat sikap manipulasi fakta yang bertentangan dengan kebenaran hukum.

Terdapat kejanggalan atau bertentangan dengan kejadian yang sebenarnya sehingga kasus tersebut tidak dapat diputuskan secara gegabah. Sikap ini tentu disayangkan, apalagi kasus terjadi dilingkungan penegak hukum itu sendiri. Ini artinya dengan rasa malu kita mengatakan bahwa di negeri ini masih ada sebagian para penegak hukum kita yang memiliki sikap liar personality.

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Gempa Guncang Pasaman Barat, Berikut Penjelasan BMKG

Rabu, 28 September 2022 | 13:23 WIB

Gempa di Kuta Selatan, Getaran Dirasakan sampai Gianyar

Minggu, 25 September 2022 | 06:39 WIB

Gempa M6,4 Guncang Meulaboh Aceh

Sabtu, 24 September 2022 | 07:49 WIB

Gempa M5,0 Mentawai, Berikut Penjelasan BMKG

Rabu, 21 September 2022 | 10:19 WIB

Prof Azyumardi Dirawat di RS Malaysia

Minggu, 18 September 2022 | 07:59 WIB

Gempa M 5.1 Guncang Mentawai pada 15 September 2022

Jumat, 16 September 2022 | 10:23 WIB

Enam Rumah di Bukittinggi Dilalap Si Jago Merah

Kamis, 15 September 2022 | 19:27 WIB

Uang Tabungan Haji Penjaga Sekolah Hancur Dimakan Rayap

Kamis, 15 September 2022 | 06:44 WIB

Penerbangan di SKK Pekanbaru Terganggu Akibat Kabut

Senin, 12 September 2022 | 11:49 WIB
X