Mentransformasi Layanan Digital dengan Kolaborasi

- Jumat, 30 September 2022 | 10:22 WIB
Hatiman, SH
Hatiman, SH

Oleh: Hatiman, S.H., Pranata Humas di Kepulauan Riau

Menteri Agama Republik Indonesia, KH. Yaqut Cholil Qoumas pada peringatan Hari Amal Bakti ke-76 Kementerian Agama mengajak jajarannya untuk terus melakukan perbaikan dan membenahi kualitas layanan.

“Sesuai tema peringatan HAB ke-76, saya meminta seluruh jajaran Kementerian Agama, pusat dan daerah untuk melakukan transformasi layanan umat,” pesan Gus Yaqut saat menjadi inspektur upacara peringatan HAB ke-76 di kantor Kementerian Agama Jakarta, Senin, 3 Januari 2021.

Tentu saja, transformasi layanan yang dimaksud bersifat holistik. Transformasi yang dimaksud meliputi perubahan sikap dan perilaku yang lebih baik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat serta peningkatan sarana dan prasarana atau infrastruktur yang mempercepat dan mempermudah kinerja aparatur Kementerian Agama dalam memberikan layanan kepada masyarakat.

Transformasi layanan umat sebagai salah satu kebijakan prioritas Kementerian Agama adalah transformasi dari layanan yang bersifat manual menjadi layanan digital. Digitalisasi diperlukan dalam seluruh aspek layanan diperlukan agar proses layanan semakin cepat dan mudah.

Namun, tantangannya di era disrupsi, inisiatif transformasi digital dan modernisasi telah meningkat secara signifikan di seluruh industri sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kapasitas atau minimal tetap bertahan di pasar yang semakin jenuh.

Kita patut menyimak data laporan survei-survei yang dilakukan banyak lembaga pada berbagai level. Misalnya, survei yang dilakukan State of Aplication Services (SOAS) pada 2020 yang mensurvei 2.600 responden global dengan diantaranya 1.300 responden berasal dari Asia Pasific menyebutkan empat dari lima organisasi di wilayah Asia Pasific dilaporkan bahwa integrasi strategi digital merupakan bagian dari rencana untuk meningkatkan produktivitas, menambah efisiensi dan meningkatkan pengalaman pelanggan.

Strategi yang diterapkan bisa sangat beragam tergantung pada situasi, kondisi dan kebutuhan organisasi. Penerapan strategi yang diharapkan bisa mulai dari penggunaan perangkat dan jaringan IoT, menerapkan aplikasi internal dan eksternal untuk otomatisasi bisnis, hingga memindahkan seluruh infrastruktur ke cloud.

Hal yang patut diingat dan diwaspadai adalah ketika organisasi mulai menerapkan layanan digital dan membentuk lingkungan yang lebih kompleks dengan trafik data yang semakin tinggi, maka secara otomatis ancaman dan wilayah serangan akan semakin meningkat secara siginifikan. Tantangan semacam itu masih akan terus terjadi karena kurangnya SDM dalam bidang digitalisasi dan keamanan jaringan hingga saat ini.

Masih berkaca pada laporan SOAS tersebut, menyebutkan 76% organisasi mengalami kesenjangan skill di bidang keamanan digital, dengan 53% menyatakan penyebabnya adalah ketidakdisiplinan dalam memproteksi proyek digitalisasinya dari serangan siber.

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pasca Gempa M6,4 Garut, Waspada Gempa Susulan

Sabtu, 3 Desember 2022 | 18:53 WIB

Gempa M6,4 Garut, Warga Sejumlah Daerah Panik

Sabtu, 3 Desember 2022 | 17:57 WIB

Gempa M6,4 Garut Getarannya Terasa Sampai Jakarta

Sabtu, 3 Desember 2022 | 17:53 WIB

Gempa M6,4 Guncang Garut

Sabtu, 3 Desember 2022 | 17:50 WIB

Gempa Guncang Pangandaran M4,5

Sabtu, 3 Desember 2022 | 07:47 WIB

Gunung Semeru Erupsi, Luncurkan Asap Vulkanik

Senin, 28 November 2022 | 15:39 WIB

Gempa M3,5 Guncang Sukabumi

Minggu, 27 November 2022 | 09:24 WIB

Gempa M5,3 Guncang Maluku Tenggara

Minggu, 27 November 2022 | 07:37 WIB
X