Paradigma Baru Layanan Keagamanaan di Kementerian Agama

- Kamis, 19 Januari 2023 | 11:45 WIB
H. Muhammad Nasir. S.Ag., M.H., Kakan Kemenag Lingga (istimewa)
H. Muhammad Nasir. S.Ag., M.H., Kakan Kemenag Lingga (istimewa)

Oleh: H. Muhammad Nasir. S.Ag., M.H., Kakan Kemenag Lingga

Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor: 1179 Tahun 2023 Tentang Sistem Kerja di Kementerian Agama menjadi inspirasi baru bagi lahirnya budaya kerja berbasis layanan di Kementerian Agama.

Kebijakan ini sebagai wujud komitmen Kementerian Agama untuk mewujudkan reformasi birokrasi di lingkungan kementerian Agama. Hal ini membuktikan pula bahwa sebagai instansi pemerintah yang berciri khas keagamaan, tidak hentinya berinovasi untuk mencapai tingkat layanan sempurna untuk memenuhi tuntutan kebutuhan agama masyarakat modern. Salah satu layanan yang di kembangkan adalah budaya kerja berbasis layanan.

Budaya kerja berbasis layanan merupakan salah satu tuntutan masyarakat global yang tak dapat diabaikan. Layanan keagamaan harus menyentuh substansi kebutuhan umat beragama. Untuk mewujudkan hal itu rentang birokrasi harus dipangkas atau diperpendek agar tercipta layanan yang efektif dan efisien.

Dengan memangkas birokrasi, layanan akan semakin cepat dalam menyelesaikan segala urusan dan tantangan keagamaan dalam masyarakat. Dalam kehidupan beragama berbagai kepentingan dan kebutuhan masyarakat selalu berkembang signifikan dengan kemajuan dan perubahan zaman. Substansi agama tidak dapat diubah, namun spirit moral yang terkandung dalam nilai-nilai agama selalu bergeser dan mengalami perubahan.

Sementara nilai-nilai agama tetap menjadi kebutuhan mendasar yang harus dipedomani. Maka dengan memangkas rentang birokrasi sebagaimana yang diamanahkan KMA No : 1179 / 2023 di atas sangat tepat dan strategis dalam pelayanan masyarakat global saat ini. Birokrasi yang ramping secara signifikan akan melahirkan efektifitas, afisiensi dan kemudahan layanan.

Menurut Gronroos, pelayanan adalah suatu aktivitas atau serangkaian aktivitas yang bersifat tidak kasat mata yang terjadi akibat adanya interaksi antara konsumen ( umat beragama ) dengan institusi sebagai penyedia layanan. Pelayanan dapat menjadi solusi bagi pemenuhan kebutuhan pelanggan dengan cara tepat, cepat dan menyenangkan.
Dengan kata lain, Pelayanan merupakan salah satu upaya untuk memenuhi ekspektasi pelanggan dalam hal kecepatan menangani kebutuhan dan komplain secara keramahan terhadap pelanggan.

Pelayanan merupakan kunci utama untuk mencapai keberhasilan dalam berbagai aspek usaha atau aktivitas bisnis yang bergerak di bidang jasa (Batinggi dan Badu, 2009).
Walaupun dalam pandangan ini pelayanan lebih menekankan pada aktivitas bisnis, tidak berarti layanan jasa tidak dapat dikembangkan, sebab itu dalam cara kerja baru yang dikembangkan Kementerian Agama tetap mempertimbangkan kepuasan melalui inovasi layanan yang lebih baik.

Dari pandangan diatas, penulis meyakini bahwa inovasi layanan keagamaan melalui cara kerja baru di Kementerian Agama dapat memberikan kepuasan umat beragama. Keyakinan tersebut semakin kuat ketika dilakukan dengan pola bisnis terpadu antara kepentingan material dan spiritual. Untuk mengukur tercapainya kepuasan, Kementerian Agama melakukan survey indek kepuasan kepada masyarakat.

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Masa Depan BRIN Pasca Pilpres 2024

Kamis, 26 Januari 2023 | 09:46 WIB

Gunung Semeru Erupsi 2 Kali Pagi Ini

Rabu, 25 Januari 2023 | 08:29 WIB

Kabar Duka, Pendiri Teater Koma Tutup Usia

Jumat, 20 Januari 2023 | 11:59 WIB

Gunung Semeru Erupsi Pagi Ini

Kamis, 19 Januari 2023 | 07:56 WIB

Gempa Magnitudo 7,1 Guncang Sulut, BMKG: Hati-hati

Rabu, 18 Januari 2023 | 14:07 WIB
X