Gurindam Dua Belas dalam Literasi Digital?

- Rabu, 22 September 2021 | 10:01 WIB
Yuni Hasnidar, S.Pd. M.MPd, Kepala MAN Karimun, Kepri. (istimewa)
Yuni Hasnidar, S.Pd. M.MPd, Kepala MAN Karimun, Kepri. (istimewa)

Oleh: Yuni Hasnidar, S.Pd. M.MPd, Kepala MAN Karimun, Kepri

Krisis moral merupakan permasalahan kompleks yang membutuhkan perhatian serius banyak pihak, termasuk madrasah. Moral individu adalah cerminan dari nilai sikap yang diperoleh pada masa sebelumnya.

Itulah sebabnya, jika hendak mengenal orang berbangsa lihat kepada budi bahasa. Berprilaku santun, halus bertutur kata, welas asih, anti diskriminasi, melestarikan budaya lokal merupakan karakter moderat.

Penguatan nilai karakter sejatinya terus tumbuh dalam pembiasaan hidup sehari-hari. Utamanya, siswa madrasah, generasi milenial yang kesehariannya memanfaatkan media sosial sebagai ruang komunikasi, interaksi, kompetisi, serta kolaborasi.

Pesatnya pengetahuan teknologi harus diimbangi dengan penguatan nilai karakter baik. Usia pelajar yang tumbuhkembangnya penuh keingintahuan, rasa penasaran yang menggebu harus dibentengi dengan nilai-nilai keagamaan. Siapa yang bisa mengontrol apa yang mereka tonton pada link Youtube, mendatangkan manfaat ataukah berakibat mudarat. Bertahan mana mengamati video pembelajaran tentang shalat atau membalas percakapan di grup WA.

Adakah yang bisa menjamin bahwa peserta didik diperlakukan istimewa atau dibolehkan jika melontarkan ujaran kebencian lewat media sosial? atau beralibi, akh, mereka masih usia peserta didik sehingga tidak dipermasalahkan ketika memprovokasi orang lain. Frasa di atas adalah sekian banyak pertanyaan yang muncul karena kekhawatiran terhadap karakter peserta didik diruang digital.

Tantangan kehidupan beragama kian hari kian berat. Apalagi kelangsungan pendidikan di tengah pandemi. Antara guru dan peserta didik tidak saling bertatap muka secara langsung. Hampir semua masyarakat bumi mengandalkan informasi teknologi. Kehadiran media sosial sangat merajai.

Satu sisi teknologi memudahkan untuk mencapai tujuan. Sementara di sisi lain data dan fakta menunjukkan banyak pengguna yang telah diperbudak teknologi.

Beberapa kasus menunjukkan ada peserta didik yang betah berlama-lama mengurung diri di dalam kamarnya. hanya bertemankan gawai. Lupa makan, lupa mandi, tertawa sendiri, dan berakhir pada hal yang negatif. Seram bukan, kita tidak ingin hal buruk ini terulang kembali.

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Terkini

ASN, Bisnis, atau Keluarga

Selasa, 5 Oktober 2021 | 19:19 WIB

Era Baru Madrasah Berbasis Sain Modern

Jumat, 24 September 2021 | 13:49 WIB

Memantik Literasi Lewat Cerita Rakyat

Jumat, 24 September 2021 | 10:18 WIB

Menjadi Seorang Guru Pada Masa Pandemi Covid-19

Rabu, 22 September 2021 | 16:03 WIB

Sekolah Adiwiyata di Tengah Pandemi Covid-19

Rabu, 22 September 2021 | 10:12 WIB

Gurindam Dua Belas dalam Literasi Digital?

Rabu, 22 September 2021 | 10:01 WIB

Belajar Tatap Muka, Belajar Daring, dan Peran Orang Tua

Selasa, 21 September 2021 | 18:06 WIB

STAI Ibnu Sina Batam Wisuda 58 Mahasiswa

Senin, 20 September 2021 | 19:18 WIB

Pendidikan Seksual Penting atau Tidak?

Sabtu, 18 September 2021 | 12:19 WIB

Sekolah Tatap Muka di Batam Dimulai Pekan Depan

Kamis, 16 September 2021 | 14:56 WIB

Mewaspadai Ancaman Lost of Adab

Minggu, 12 September 2021 | 19:13 WIB
X