Peran Strategis GPAI Mereaktualisasi Moderasi Beragama

- Sabtu, 20 November 2021 | 11:28 WIB
Syafitriandy, Guru PAI SMAN 2 Singkep. (haluankepri.com)
Syafitriandy, Guru PAI SMAN 2 Singkep. (haluankepri.com)

 
Oleh: Syafitriandy, Guru PAI SMAN 2 Singkep dan Sekretaris DPD AGPAII Kabupaten Lingga

Peranan agama diyakini akan terus mendominasi struktur kehidupan manusia, mulai dari ranah privasi sampai dalam konteks kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Agama tidak hanya dipandang sebagai sisi yang ekslusif tetapi juga memiliki ruang inklusif.

Untuk itu, kehadiran agama seharusnya dipandang sebagai upaya menjaga dan melindungi hak hidup setiap manusia, sekaligus melakukan perlindungan terhadap hajat individu tersebut sebagai makhluk sosial dan makhluk berbangsa.

Kehidupan sosial yang dinamis dan identik dengan adanya perbedaan pendapat haruslah dipandang sebagai anugerah. Sama halnya dalam kehidupan beragama, meski sudah diatur dalam pewahyuan kitab suci dan ajaran nabi, namun tetap saja muncul potensi lahirnya perbedaan pandangan, meski tidak substansial. Juga harus dipandang sebagai anugerah, bukan pemecah.

Baca Juga: Revitalisasi Politik Muhammadiyah, Perspektif Pemilu 2024

Sebagai guru, terutama Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI), perlu pemahaman yang komprehensif dalam mendidik agar terciptanya karakter serta memahami setiap perbedaan yang terjadi. Penanaman karakter merupakan bagian dari cita cita pendidikan nasional yang berakar pada nilai-nilai agama dan budaya.

Sebagaimana dalam amanat UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 yang secara tuntas mendefinisikan Pendidikan Nasional sebagai pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia, dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.

Namun, seiring dalam perjalanan sering timbul silang pendapat bahkan 'benturan' tentang sebuah pemahaman beragama. Dalam situasi seperti ini, GPAI harus memposisikan serta melakukan penguraian terhadap kekusutan perbedaan pendapat tersebut. GPAI harus menempatkan dirinya sebagai insan yang moderat. Tentu dengan tetap memegang asas-asas ketaatan beragama dan prinsip keyakinan sesuai dengan pewahyuan yang diyakini.

GPAI harus menyadari bahwa peran yang dijalani akan berimplikasi kepada setiap makhluk, tentunya dalam skala kebaikan. Puncaknya GPAI harus memiliki orientasi agar tercipta sebuah tatanan kebhinekaan yang bersatu dalam bingkai NKRI.

Begitu juga dalam kehidupan beragama, ketaatan kepada Tuhan dalam menjalankan perintahNya adalah sebuah kemutlakan yang mendasar, namun sisi humanisme berupa hubungan antar sesama harus terus diperhatikan. Baik dalam kehidupan beragama maupun dalam kehidupan antar umat beragama melalui moderasi beragama di tengah tengah perbedaan dan sudut pandang yang variatif.

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Terkini

Catat! Jangan Pernah Dekati Narkoba!

Jumat, 5 Agustus 2022 | 13:19 WIB

Apakah Perceraian Menjadi Keputusan Terbaik?

Jumat, 5 Agustus 2022 | 13:16 WIB

Berliku Jalan untuk Pendidikan Profesi Guru

Minggu, 31 Juli 2022 | 10:57 WIB

Peran Sastra di Era Modern

Selasa, 26 Juli 2022 | 13:34 WIB

Kenapa Burung Sering Hinggap di Atas Kabel?

Jumat, 15 Juli 2022 | 10:52 WIB

Jangan Sia-siakan Keluarga

Jumat, 15 Juli 2022 | 08:43 WIB

Generasi Menulis

Minggu, 5 Juni 2022 | 14:08 WIB

Apakah Proyek Anda Memiliki Risiko?

Rabu, 1 Juni 2022 | 15:09 WIB
X