Kerukunan dan Ke-Indonesiaan

- Selasa, 8 Februari 2022 | 08:10 WIB
H. Muhammad Nasir. S.Ag., MH. (haluankepri.com)
H. Muhammad Nasir. S.Ag., MH. (haluankepri.com)

Kondisi itu telah banyak mengundang perhatian pihak asing datang ke Indonesia untuk tujuan wisata, usaha (investasi), kerja sama dan sebagainya, sehinga bangsa Indonesia bisa menjadi contoh yang baik, tidak saja bagi dunia Islam tetapi dunia secara umum. (Alwi Shihab: 1998).

Jika mencermati kerukunan yang terjalin selama ini di Indonesia kita merasakan adanya dua prinsip kerukunan yang sangat kuat, yaitu, kerukunan pasif dan kerukunan aktif.
Kerukunan pasif adalah kerukunan yang terjadi dengan baik tanpa gejolak sosial antarumat beragama, namun masih sebatas saling memahami dan menjaga hubungan baik.

Sementara kerukunan aktif adalah kerukunan yang terjalin disamping saling memahami dan saling menjaga hubungan baik juga ditunjukkan dengan adanya kerja sama konkret dalam berbagai aktivitas yang saling menguntungkan.

Kedua prinsip kerukunan tersebut perlu dikembangkan kearah yang lebih strategis dan inklusif. Maka, pengembangan kearah tersebut penulis menyebut dengan istilah kerukunan dinamis.

Kerukunan beragama di Indonesia perlu diperkuat dengan dinamisasi kerukunan. Yaitu proses menuju kerukunan yang terbuka dan inklusif yang lebih menguntungkan semua umat beragama. Antara umat beragama saling bekerja sama secara aktif dan produktif untuk meningkatkan taraf hidup bersama di bawa tenda bangsa Indonesia.

Kerukunan dinamis adalah kerukunan yang terjalin tidak sekedar dalam bahasa persatuan dan diplomasi komunikasi, melainkan kerukunan yang muncul dari sentuhan batin lubuk hati yang paling dalam.

Wujud kerukunan dinamis lebih bersifat sentuhan rasa daripada hanya sekedar simpati biasa. Dari sentuhan rasa ini lahir sikap toleransi yang saling memperkuat tanggung jawab mempertahankan kedekatan dan kebersaudaraan sehingga dalam pergaulan sosial melahirkan persaudaraan sebangsa dan setanah air.

Sikap toleransi mengejewantah dalam kemampuan untuk menghormati sikap orang lain dengan arif dan bijaksana sebagai bentuk pengembangan budaya hati (Dr.M.Fakri: 1998).

Dengan budaya hati umat beragama menghormati apa yang suci, luhur dan baik bagi hati orang lain dan terlepas dari apa keyakinan agamanya. Sikap itu akan kelihatan dalam cara bicara dan menulis tentang agama lain, walaupun orang dari agama lain itu tidak hadir.

Kerukunan beragama dalam kontek ke-Indonesiaan harus diperkuat dengan membangun lingkungan komunikasi positif antarumat beragama.

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Catat! Jangan Pernah Dekati Narkoba!

Jumat, 5 Agustus 2022 | 13:19 WIB

Apakah Perceraian Menjadi Keputusan Terbaik?

Jumat, 5 Agustus 2022 | 13:16 WIB

Berliku Jalan untuk Pendidikan Profesi Guru

Minggu, 31 Juli 2022 | 10:57 WIB

Peran Sastra di Era Modern

Selasa, 26 Juli 2022 | 13:34 WIB

Kenapa Burung Sering Hinggap di Atas Kabel?

Jumat, 15 Juli 2022 | 10:52 WIB

Jangan Sia-siakan Keluarga

Jumat, 15 Juli 2022 | 08:43 WIB

Generasi Menulis

Minggu, 5 Juni 2022 | 14:08 WIB

Apakah Proyek Anda Memiliki Risiko?

Rabu, 1 Juni 2022 | 15:09 WIB
X