Mari Jaga Lingkungan dari Limbah Plastik

- Sabtu, 24 April 2021 | 21:12 WIB
IMG-20210424-WA0016
IMG-20210424-WA0016


  • Oleh: Nur Hasikin, Prodi Ilmu Kelautan, FIKP Universitas Maritim Raja Ali Haji


Hutan mangrove adalah hutan yang terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai dan dipengaruhi oleh gerakan pasang surut perpaduan antara air sungai dan air laut, yang tergenang pasang dan bebas dari genangan pada saat surut yang komunitasnya bertoleransi terhadap garam. Sungai mengalirkan air tawar untuk mangrove, dan pada saat pasang pohon mangrove dikelilingi oleh air garam atau air payau. (Waryono, 2000).

Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur. Hutan mangrove banyak ditemui di pantai, teluk yang dangkal, estuaria, delta, dan daerah pantai yang terlindung (Gunarto, 2004).

Salah satu flora yang menduduki ekosistem mangrove ialah pohon bakau. Namun, jangan sampai keliru, hutan bakau bisa saja disebut mangrove, tetapi mangrove belum tentu bakau, karena masih banyak lagi tumbuhan yang hidup di ekosistem mangrove ini, contohnya nipah dan lainnya.

Bakau sangat banyak dijumpai di kawasan pesisir atau pinggiran pantai dengan berbagai macam spesies. Bakau yang kerapdisebut hutan mangrove ini banyak dijadikan tempat wisata seperti yang terlihat di Desa Sebong Lagoi, Kecamatan Teluk Sebong, Kabupaten Bintan, Kepri.

Hutan bakau sangat mudah dijumpai di desa ini. Di setiap pesisir atau bibir pantainya dihiasi oleh indahnya pohon bakau. Bahkan sungai-sungainya dikelilingi oleh rimbunan pohon bakau. Menjadi poin tambahan ketika bermain atau menghabiskan waktu untuk sekedar jalan-jalan di pantai daerah Sebong lagoi ini. Apalagi saat Ramadhan seperti sekarang. Anak-anak muda hingga dewasa memilih untuk menghabiskan waktu sambil menunggu waktu berbuka puasa ke pelantar-pelantar yang ada di desa ini, pemandangan laut dengan arus yang tenang dan hijaunya dedaunan bakau meneduhkan mata siapapun yang memandang.

Sayangnya, dibalik keindahan itu ternyata masih banyak didapati sampah plastik, tambang dan lainnya tersangkut dibalik akar-akar bakau. Ini menandakan jika masi ada segelintir masyarakat yang belum sadar betapa bahayanya limbah plastik yang mereka buang di laut baik tidak sengaja maupun di sengaja. Di ekosistem mangrove tidak serta merta hanya pohon tersebut yang hidup tetapi banyak sekali biota lainnya yang hidup pada ekosistem ini. Ketika ada biota yang tidak sengaja memakan limbah tersebut, lambat laun mereka akan mati karena plastic tersebut tidak dapat dicerna oleh sistem pencernaannya. Tak cukup sampai disitu, di laut biotanya saling makan memakan. Bagaimana hasil tangkapan nelayan setempat memakan biota-biota yang teridentifikasi sampah plastik tersebut? Maka Manusia yang mengonsumi juga akan terkena dampaknya.

Menurut Saenger et al. (1983) dan Kusmana (1993a) dalam Kusmana (1996), tiga sumber utama penyebab kerusakan mangrove, yaitu pencemaran, penebangan yang berlebihan/tidak terkontrol, dan konversi hutan mangrove menjadi bentuk lahan yang berfungsi non-hutan seperti pelabuhan, pemukiman, pertanian dan pertambangan yang kurang mempertimbangkan faktor kelestarian lingkungan.

Pencemaran yang terjadi salah satunya disebabkan oleh adanya sampah pada kawasan mangrove tersebut. Sampah ini terdiri dari sampah organik maupun anorganik dan lebih didominasi oleh jenis sampah anorganik. Sampah anorganik tidak ter-biodegradasi yang menyebabkan lapisan tanah tidak dapat ditembus oleh akar tanaman dan tidak tembus air sehingga peresapan air dan mineral yang dapat menyuburkan tanah hilang dan jumlah mikroorganisme didalam tanah pun akan berkurang.

Mandura (1997) menemukan bahwa pembuangan sampah ke habitat mangrove telah mematikan banyak akar pasak yang tumbuh di laut merah. Hilangnya banyak akar pasak tersebut akan menurunkan luasan permukaan respirasi dan permukaan pengambilan unsur hara oleh tanaman yang pada akhirnya menurunkan pertumbuhan pohon.

Mengingat peran bakau sangat penting bagi kehidupan masyarakat pesisir, diharapkan kesadaran masyarakat untuk berhenti membuang sampah di laut. Bagaimana jika pertumbuhan mangrove semakin terbatas dan banyaknya kerusakan kerusakan lain yang dialamai hutan mangrove ini, maka tidak ada lagi yang dapat menjadi pemecah gelombang besar yang dapat membahayakan masyarakat disekitar pesisir. Mari jaga keindahan dan kelebihan yang telah diberikan agar bisa terus dinikmati serta bermanfaat kini dan nanti. *

Editor: fery haluan

Terkini

STAI Ibnu Sina Batam Wisuda 58 Mahasiswa

Senin, 20 September 2021 | 19:18 WIB

Pendidikan Seksual Penting atau Tidak?

Sabtu, 18 September 2021 | 12:19 WIB

Sekolah Tatap Muka di Batam Dimulai Pekan Depan

Kamis, 16 September 2021 | 14:56 WIB

Mewaspadai Ancaman Lost of Adab

Minggu, 12 September 2021 | 19:13 WIB

Tak Zamannya Lagi Ber-medsos untuk Hal Negatif!

Jumat, 10 September 2021 | 07:44 WIB

Jalan Penyejuk Hati, Memaknai Panjang Umur

Jumat, 3 September 2021 | 20:34 WIB

Moral vs Corona pada Generasi Muda di Tengah Pandemi

Selasa, 24 Agustus 2021 | 18:56 WIB

UI Punya Prodi Kedokteran Penerbangan

Senin, 26 Juli 2021 | 12:57 WIB
X