Masih Ingatkah dengan Mata Pelajaran Arab Melayu?

- Senin, 22 Agustus 2022 | 09:34 WIB
Isep Ilhami, Mahasiswa STISIPOL Raja Haji Tanjungpinang. (istimewa)
Isep Ilhami, Mahasiswa STISIPOL Raja Haji Tanjungpinang. (istimewa)

Oleh: Isep Ilhami, Mahasiswa STISIPOL Raja Haji Tanjungpinang

Di era Generasi Z saat ini, banyak masyarakat Melayu di Provinsi Kepri yang tidak mengetahui penulisan dan bacaan Arab Melayu. Padahal pada era 2000-an, tulisan dan bacaan Arab Melayu ini menjadi mata pelajaran di bangku sekolah.

Pada saat saya (penulis) masih menduduki sekolah dasar hingga bangku sekolah menengah pertama (SMP), saya mempelajari penulisan dan baca Arab Melayu tersebut.

Sadar atau tidak, sekarang ini mata pelajaran tersebut sudah jarang kita dengar atau lihat di sekolah. Bahkan, penulisan Arab Melayu ini sudah tidak ada lagi. Padahal Arab Melayu ini merupakan aksara utama dalam penyebaran Bahasa Melayu di nusantara Indonesia.

Sebagai masyarakat Melayu di Kepri, penting untuk mengetahui dan mengingat kembali tulisan dan bacaan Arab Melayu tersebut. Soalnya, asal muasal Bahasa Indonesia yaitu dari Bahasa Melayu.

Dilansir dari laman https://ditsmp.kemendikbud.go.id, dari datangnya bahasa Indonesia, berdasarkan keputusan Kongres Bahasa Indonesia II tahun 1954 di Medan, antara lain, menyatakan bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang dari bahasa Melayu yang sejak zaman dulu sudah dipergunakan sebagai bahasa perhubungan (lingua franca) bukan hanya di Kepulauan Nusantara, melainkan juga hampir di seluruh Asia Tenggara.

Bahasa Melayu mulai dipakai di kawasan Asia Tenggara sejak abad ke-7. Bukti yang menyatakan itu ialah dengan ditemukannya Prasasti di Kedukan Bukit, berangka tahun 683 M (Palembang), Talang Tuwo berangka tahun 684 M (Palembang), Kota Kapur berangka tahun 686 M (Bangka Barat), dan Karang Brahi berangka tahun 688 M (Jambi). Prasasti itu bertuliskan huruf Pranagari berbahasa Melayu Kuno. Bahasa Melayu Kuno itu tidak hanya dipakai pada zaman Sriwijaya karena di Jawa Tengah (Gandasuli) juga ditemukan prasasti berangka tahun 832 M dan di Bogor ditemukan prasasti berangka tahun 942 M yang juga menggunakan bahasa Melayu Kuno.

Bahasa Melayu kemudian masuk ke pelosok nusantara seiring dengan penyebaran agama Islam. Sebab, bahasa Melayu gampang diterima masyarakat karena tidak mengenal tingkat tutur, sehingga ia mampu berfungsi sebagai bahasa perhubungan antarpulau, antarsuku, antarpedagang, antarbangsa, termasuk antarkerajaan.

Akan tetapi, dalam perkembangannya, bahasa Melayu yang dipakai di wilayah Nusantara juga dipengaruhi oleh corak budaya daerah. Ia awalnya banyak menyerap kosakata dari bahasa Sanskerta, bahasa Persia, bahasa Arab, dan bahasa-bahasa Eropa, setelah itu, muncul pula beragam variasi dan dialek yang berbeda-beda.

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Reformasi Mutu Madrasah

Minggu, 4 Desember 2022 | 14:09 WIB

MAN IC Batam Juara Umum Lensa Paradigma Polibatam 2022

Minggu, 16 Oktober 2022 | 20:22 WIB

Meraih Prestasi dengan Cinta Budaya Literasi

Sabtu, 15 Oktober 2022 | 09:00 WIB

Korupsiologi

Selasa, 11 Oktober 2022 | 13:14 WIB

Moral Heteronomi dalam Pandangan Islam

Minggu, 18 September 2022 | 11:58 WIB

BRIN dan Robohnya Jurnal Penelitian Kami

Senin, 12 September 2022 | 19:06 WIB

Memuliakan Guru

Rabu, 7 September 2022 | 08:51 WIB

674 Mahasiswa Unrika KKN di Wilayah Pesisir Kota Batam

Sabtu, 3 September 2022 | 06:22 WIB

Masih Ingatkah dengan Mata Pelajaran Arab Melayu?

Senin, 22 Agustus 2022 | 09:34 WIB
X