BRIN dan Robohnya Jurnal Penelitian Kami

- Senin, 12 September 2022 | 19:06 WIB
Dedi Arman, S.S, M.M, Peneliti Pusat Riset Kewilayahan, BRIN. (istimewa)
Dedi Arman, S.S, M.M, Peneliti Pusat Riset Kewilayahan, BRIN. (istimewa)

Oleh: Dedi Arman, S.S, M.M, Peneliti Pusat Riset Kewilayahan, BRIN

Terbentuknya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tahun 2021 melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 78 membawa harapan baru untuk kemajuan dunia riset/ penelitian di Indonesia.

Namun, hengkangnya seluruh peneliti ke BRIN dan menjadikan BRIN sebagai wadah tunggal periset/peneliti juga menimbulkan kecemasan. Pertanyaan besarnya adalah bagaimana masa depan atau eksistensi keberadaan wadah publikasi khususnya yang berbentuk jurnal yang diterbitkan Kementerian/Lembaga (K/L)?

Jurnal yang diterbitkan K/L otaknya adalah para peneliti. Tidak hanya sebagai pengelola, namun keberadaan jurnal tujuannya adalah mempublikasikan karya-karya para peneliti. Tidak ada artinya penelitian yang dilakukan tanpa ada publikasi. Salah satu bentuk publikasi ilmiah yang menjadi sarana utama peneliti adalah jurnal.

Setiap peneliti mulai dari peneliti pertama, muda, madya dan utama memiliki kewajiban mempublikasikan tulisannya melalui jurnal sesuai tingkatan kepangkatan fungsionalnya. Misalnya peneliti madya dan peneliti utama sasaran jurnalnya tentunya jurnal internasional.

Jurnal Roboh
Kecemasan masa depan penerbitan jurnal di K/L wajar mengingat mayoritas peneliti yang ada di K/L memilih pindah ke BRIN. Mereka yang tak ikut pindah, maka di K/L mereka akan menduduki jabatan bukan peneliti lagi.

Data BRIN per 17 Juni 2022, sudah 3621 sumber daya manusia (SDM) periset peralihan dari K/L ke BRIN. Totalnya ada periset dari 33 K/L yang bergabung ke BRIN.

Dalam setahun BRIN terbentuk, sejumlah lembaga hilang (dihapuskan) yang juga berdampak pada terhentinya penerbitan jurnal.

Contoh nyata adalah bubarnya lembaga Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) yang membawahi 10 Balai Arkeologi di Indonesia. Puslit Arkenas menerbitkan dua jurnal, demikian juga setiap balar juga menerbitkan jurnal. Ketika lembaganya dibubarkan, dampaknya adalah terhentinya penerbitan jurnal. Satu persatu jurnalnya roboh alias berguguran.

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Reformasi Mutu Madrasah

Minggu, 4 Desember 2022 | 14:09 WIB

MAN IC Batam Juara Umum Lensa Paradigma Polibatam 2022

Minggu, 16 Oktober 2022 | 20:22 WIB

Meraih Prestasi dengan Cinta Budaya Literasi

Sabtu, 15 Oktober 2022 | 09:00 WIB

Korupsiologi

Selasa, 11 Oktober 2022 | 13:14 WIB

Moral Heteronomi dalam Pandangan Islam

Minggu, 18 September 2022 | 11:58 WIB

BRIN dan Robohnya Jurnal Penelitian Kami

Senin, 12 September 2022 | 19:06 WIB

Memuliakan Guru

Rabu, 7 September 2022 | 08:51 WIB

674 Mahasiswa Unrika KKN di Wilayah Pesisir Kota Batam

Sabtu, 3 September 2022 | 06:22 WIB

Masih Ingatkah dengan Mata Pelajaran Arab Melayu?

Senin, 22 Agustus 2022 | 09:34 WIB
X