Moral Heteronomi dalam Pandangan Islam

- Minggu, 18 September 2022 | 11:58 WIB
H. Muhammad Nasir. S.Ag., MH. (haluankepri.com)
H. Muhammad Nasir. S.Ag., MH. (haluankepri.com)


Oleh: H. Muhammad Nasir. S.Ag., M.H., Kakan Kemenag Lingga

Peradaban modern yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi komunikasi tidak serta merta menjadikan hubungan sosial semakin baik dan memiliki etika moral yang lebih baik pula.

Apalagi kemajuan yang dicapai tidak diikuti dengan kesadaran nilai yang berorientasi kepada etika yang berdimensi ilahiyah atau Ketuhanan. Yang kerap kali terjadi justru perkembangan peradaban manusia yang diikuti dengan kemerosotan moral dan perilaku sosial yang serba manipulatif sehingga nilai-nilai moral sering dilanggar. Itulah diantara tantangan globalisasi yang sedang kita hadapi.

Berkaitan dengan hal itu, Ziauddin Sardar (1987) mengidentifikasi beberapa tantangan pada era globalisasi dan informasi sebagai berikut (Muchlis Hanafi: 2011): Pertama, keberadaan publikasi informasi merupakan sarana efektif dalam penyebaran isu. Baik isu positif maupun negatif. Namun, yang dikhawatirkan adalah terjadinya stereotip dan subordinasi komunitas tertentu yang mengakibatkan saling curiga terhadap kelompok atau orang ( su’uzzon ) dalam masyarakat.

Kedua, dalam banyak aspek, kekuatan dan hegemoni Barat dalam dominasi dan imperialisme informasi pada era ini menimbulkan sekularisme, kapitalisme, pragmatisme, dan sebagainya.

Ketiga, dari sisi pelaksanaan komunikasi informasi, banyaknya publikasi persoalan-persoalan seksualitas, peperangan dan tindakan kriminal lainnya yang mendatangkan efek berbanding terbalik dengan tujuan komunikasi dan informasi itu sendiri.
Masyarakat dihadapkan pada berbagai informasi yang bertendensi penyakit sosial sehingga perilaku masyarakat cenderung mengarah pada apa yang dilihat, didengar dan disaksikannya itulah yang terbaik baginya walaupun belum tentu benarnya.
Keempat, lemahnya sumber daya manusia, modal sosial maupun kualitas keagamaan. Kondisi ini memaksa masyarakat mengimpor teknologi komunikasi informasi dari dunia Barat yang dipandang sebagai komoditi, walaupun kadang penggunaannya bertentangan dengan nilai moral atau etika.

Dari empat tantangan dalam dimensi praktik komunikasi dan transformasi di dunia modern tersebut dimanakah posisi moral agama, apakah sebagai sumber kesadaran ataukah hanya tempat pelarian dari kejenuhan modernisasi?

Dalam artikel ini penulis mencoba menegaskan bahwa salah satu tantangan moral yang tampak dalam tatanan masyarakat global adalah moralitas yang terpaksa atau yang disebut sebagai Moral Heteronomi.

Istilah ini jarang kita dengar dalam ungkapan sehari-hari. Tetapi praktek dalam perilaku sosial sering kita jumpai dalam masyarakat dan bahkan pada diri kita sendiri. Moral heteronomi terjadi akibat pengaruh negatif globalisasi sehingga menyebabkan rendahnya kesadaran moral agama bagi pemeluknya.

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Moral Heteronomi dalam Pandangan Islam

Minggu, 18 September 2022 | 11:58 WIB

BRIN dan Robohnya Jurnal Penelitian Kami

Senin, 12 September 2022 | 19:06 WIB

Memuliakan Guru

Rabu, 7 September 2022 | 08:51 WIB

674 Mahasiswa Unrika KKN di Wilayah Pesisir Kota Batam

Sabtu, 3 September 2022 | 06:22 WIB

Masih Ingatkah dengan Mata Pelajaran Arab Melayu?

Senin, 22 Agustus 2022 | 09:34 WIB

Catat! Jangan Pernah Dekati Narkoba!

Jumat, 5 Agustus 2022 | 13:19 WIB

Apakah Perceraian Menjadi Keputusan Terbaik?

Jumat, 5 Agustus 2022 | 13:16 WIB

Berliku Jalan untuk Pendidikan Profesi Guru

Minggu, 31 Juli 2022 | 10:57 WIB

Peran Sastra di Era Modern

Selasa, 26 Juli 2022 | 13:34 WIB

Kenapa Burung Sering Hinggap di Atas Kabel?

Jumat, 15 Juli 2022 | 10:52 WIB

Jangan Sia-siakan Keluarga

Jumat, 15 Juli 2022 | 08:43 WIB
X