Emansipasi dan Pengarusutamaan Gender

- Selasa, 21 Desember 2021 | 15:07 WIB
Agustar. (istimewa)
Agustar. (istimewa)

Misalnya, kewajiban partai politik mereservasi perempuan sebagai calon anggota legislatif (caleg) minimal 30 persen dalam Pemilu. Apa sebenarnya yang salah?

Baca Juga: Tidak Perlu Khawatir Berlebih atas Omicron, Ini Penjelasan Ahli Kesehatan

Permasalahan utamanya adalah telah terjadinya persepsi yang keliru terhadap gender. Gender terlanjur diidentikkan dengan perempuan. Jika berbicara gender, orang berasumsi berbicara masalah perempuan; keadilan gender disamakan dengan keadilan terhadap perempuan, diskriminasi gender diartikan diskriminasi atas perempuan dan seterusnya.

Padahal, gender adalah konsep yang mengacu pada peran-peran dan bentuk tanggung jawab, baik laki-laki maupun perempuan yang dapat berubah oleh keadaan sosial dan budaya masyarakat.

Dalam artian, gender merupakan perbedaan peran, fungsi dan perilaku antara laki-laki dan perempuan sebagai produk konstruksi sosial, misalnya melalui sistem pendidikan dan proses pengembangan diri.

Jadi, gender merupakan tingkah laku yang dipelajari, peran yang ditumbuh-kembangkan dan perilaku sosial yang digambarkan oleh masyarakat terhadap perempuan dan laki-laki yang bisa berubah sejalan dengan perubahan waktu, tempat, budaya, generasi dan nilai-nilai.
Sehingga perempuan dapat bekerja sebagaimana tanggung jawab laki-laki dan laki-laki mampu berperan sebagaimana yang dilakukan perempuan, tanpa terperangkap oleh dikotomi restrik (pembatasan-pembatasan) peran laki-laki dan perempuan yang dikait-kaitkan secara buta dan sesat dengan dimensi kodrat yang bersangkutan.

Baca Juga: Premium Akan Dihapus Tahun Depan, Ini Penjelasan Pertamina

Misalnya, perempuan tidak boleh begini dan tak boleh begitu bukan karena alasan kodratnya, melainkan oleh kondisi konstruksi sosial yang dimilikinya. Kalau perempuan maupun laki-laki menduduki atau tidak menduduki posisi stratifikasi sosial tertentu dalam masyarakat bukanlah karena kodratnya, tetapi akibat kualifikasi konstruksi sosial yang dipunyainya.
Sehingga, kalau konsep ini dipahami dengan baik, pada hakikatnya tidak ada sebenarnya istilah diskriminasi gender yang mengkonotasikan diskriminasi atas kaum perempuan!

Emansipasi Salah Kaprah

Di sinilah salah kaprahnya emansipasi; karena perempuan dipandang dari perspektif yang mendua, di satu sisi perempuan dipandang dari perspektif gender sementara dari sisi lain perempuan disorot dari aspek kodratnya (sosok dianggap lemah) sebagai argumen gugatan emansipasi.

Persepsi keliru atas gender yang dikaburkan dengan kodrat, celakanya, dalam bingkai tradisi, budaya dan adat-istiadat cenderung menempatkan kaum perempuan di ranah domestik (rumah tangga) dan laki-laki di ruang publik, menjadi salah satu faktor pelemahan gerakan emansipasi itu sendiri.

Halaman:

Editor: Feri Heryanto

Tags

Terkini

Siapakah Bakal Cawapres Anies Baswedan?

Senin, 3 Oktober 2022 | 15:16 WIB

Honor PPK dan PPS Naik untuk Pemilu 2024

Rabu, 10 Agustus 2022 | 09:10 WIB

Berikut Tiga Nama Kandidat Capres Nasdem

Sabtu, 18 Juni 2022 | 14:26 WIB

Anies Baswedan Dilirik Nasdem untuk Jadi Capres

Minggu, 29 Mei 2022 | 13:20 WIB
X