Mengenal 'YUNI', Film Karya Kamila Andini yang Menang di Toronto International Film Festival

- Selasa, 21 September 2021 | 15:00 WIB
Film Yuni yang disutradarai oleh Kamila Andini menang nominasi Platform Prize Toronto International Film Festival 2021 di Kanada. (Pikiran Rakyat)
Film Yuni yang disutradarai oleh Kamila Andini menang nominasi Platform Prize Toronto International Film Festival 2021 di Kanada. (Pikiran Rakyat)

Film garapan Indonesia, Yuni menjadi pemenang dalam kategori nominasi Platform Prize di ajang tahunan film Toronto. Ajang tersebut merupakan Festival Film Internasional Toronto atau Toronto International Film Festival 2021 yang diadakan setiap September di Toronto, Ontario, Kanada.

Penghagaan Platform Prize diberikan pada film yang memiliki nilai artistik dan visi film yang tinggi untuk menyampaikan pesan mendalam pada para penontonnya.

Film garapan sutradara dan penulis Kamila Andini ini mengangkat masalah suara para wanita atau perempuan yang masih sering terabaikan dalam konteks sosial politik.

Projek film ini disiapkan sejak tahun 2017 dan mulai diproduksi oleh Fourcolours Films dengan produser Ifa Isfansyah, suami Kamila Andini. Film Yuni baru dirilis pada 12 September 2021 lalu.

Prestasi yang membanggakan bagi sutradara, pemeran, dan pihak yang terlibat atas kesuksesan film pada awal perilisan yang masih dini. Film ini diperankan oleh Arawinda Kirana, Kevin Ardilova, Dimas Aditya, Marissa Anita dan deretan pemain lainnya.

Garis besar Film Yuni berkisah mengenai seorang wanita yang bernama Yuni yang diperankan Arawinda Kirana. Yuni adalah seorang wanita píntar yang mempunyai mimpi besar untuk kuliah setinggi-tingginya.

Suatu hari, Yuni dilamar oleh seorang pría yang tidak dikenali dan menolak lamaran tersebut. Ia menjadi bahan pembicaraan orang-orang disekitarnya karena hal itu dianggap hal tidak baik bagi seorang wanita.

Pada lamaran kedua, Ia juga menolaknya. Mitos sosial budaya masyarakat daerah tempat tinggalnya terus menghantuinya dimana jika seorang perempuan menolak dua kali lamaran, dia tidak akan pernah menikah selama-lamanya.

Yuni menghadapi semua tekanan yang terjadi dalam hidupnya yang membuat Yuni harus berhadapan dergan Yoga (Kevin Ardilova), teman semasa kecilnya yang pemalu serta Pak Damar (Dimas Aditya), guru sastra favoritnya di sekolah masa dulu.

Konflik yang dihadapi Yuni sangat erat dengan mitos masyarakat desa di Indonesia yang masih sarat dengan nilai. Sementara itu, mimpi besar Yuni adalah awal mula konflik menegangkan dan berkesan dimulai dalam hidupnya.

Dalam pidato kemenangannya, Kamila Andini menyampaikan pesan mengenai suara para perempuan di Indonesia dan dunia yang sering terabaikan serta menunjukkan penghargaan bagi para wanita pejuang kemerdekaan diri.

"Rasanya tak percaya. Saya tak dapat percaya ini. Tetapi saya melihat ini sebagai sebuah harapan. Ini adalah untuk suara perempuan Indonesia yang tak terdengar. Dan ini adalah untuk setiap perempuan yang ada di dunia yang telah berjuang selama bertahun-tahun dalam pencarian akan kemerdekaan diri," kata Kamila Andini yang ditulis dalam akun instagram produser Ifa Isfansyah @ifa_isfansyah.

Lebih lanjut, Kamila Andini menyampaikan terima kasih pada semua kru, pemain, produser, rekan kerja, dan semua yang telah berdiri bersamanya dalam proses penggarapan film Yuni yang telah direncanakan sejak lama.

 

 

Halaman:

Editor: Puspita Indah Cahyani

Sumber: Berita DIY

Tags

Terkini

X